
Tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas. Ia kemudian melepaskan cengkramannya dari kedua bahu Xyon, lalu berlutut sambil menangis pelan. Kedua mata Keira mulai berkaca-kaca, dan wajahnya kini menjadi sendu.
“Kutukan alam semesta ini sudah melekat denganku, bahkan sejak aku lahir. Aku rasa, sebaiknya kita berhenti sampai di sini, Higarashi,” ucapnya pelan.
Namun, Xyon mencengkram erat lengan kiri gadis itu dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
“Tidak! Kau sudah memilih jalan ini, dan tidak ada lagi kesempatan untuk mundur! Tewasnya Sey, berarti para Silverian itu menginginkan perang dengan kita, Keira!” serunya.
"Tidak, Paman," balas Keira, kemudian ia menggelengkan kepalanya sekali, setelah itu ia berkata, "Aku memang makhluk terkutuk, bukan? Bahkan Paman Sey …."
Namun, ia mendadak menghentikan ucapannya dan Xyon melepaskan cengkramannya dari kedua bahu gadis itu. Weim kemudian berdiri, dan menatap Keira dengan wajah yang terlihat kesal bercampur sedih. Pria tersebut lalu meraih tangan kanan Keira dan memegangnya erat.
“Balaskan dendam Sey, Keira,” bisik Weim.
Mereka terdiam untuk sesaat. Weim lantas melepaskan tangan Keira, karena gadis itu sama sekali tidak membalas ucapannya. Ia lantas menghela nafas panjang, seolah yakin bahwa sang Putri dari Palladina itu tidak mungkin akan melakukan balas dendam atas kematian Sey.
Namun tiba-tiba, Keira memecah keheningan di antara mereka dengan berkata, "Maafkan aku, Paman Weim. Aku akan mencari cara untuk memusnahkan energi gelap yang sudah membunuh Paman Sey. Aku … juga akan mencari tahu siapa yang sudah membunuh semua orang di dekatku, dan mengapa mereka melakukannya. Aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh untuk menjadi seorang penjaga galaksi seperti kalian, Paman.”
Ia kemudian menatap Weim dengan senyum kecil di wajahnya. Weim lalu memeluknya sambil terisak.
“Aku akan membantumu Keira, agar kematian dari semua orang yang sudah dibunuh oleh para Silverian itu tidak akan sia-sia!” seru sang Jenderal Senior itu.
Ia sangat sedih telah kehilangan teman baiknya, Sey, yang selama ini selalu dekat dengannya. Xyon bahkan mulai mengepalkan tangan kanannya dengan wajah yang penuh amarah. Keira kemudian membalas pelukan itu dengan hangat.
“Aku … akan menghentikan para Silverian itu dan mencabut kutukan ini, Paman,” bisiknya.
Weim lalu melepaskan pelukannya dan menatap Keira dengan senyum di wajahnya.
“Bagus! Semangat yang bagus!” serunya.
__ADS_1
Xyon kemudian menatap Keira dan berkata, “Planet Palladina akan mengadakan hari berkabung selama empat puluh hari. Keira, maafkan aku, seharusnya hari ini adalah hari bahagiamu. Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku mencegah Sey untuk pergi …."
Keira langsung menggelengkan kepalanya, lalu membalas, “Kembalilah terlebih dahulu, Paman. Aku akan menyusul nanti, jika pesta ini sudah selesai.”
Xyon mengangguk.
“Baiklah, aku dan Weim akan kembali terlebih dahulu untuk mempersiapkan hari berkabung bagi Sey. Higarashi, aku akan menitipkan Keira kepadamu, jangan lupa untuk membawanya pulang ke Planet Palladina jika pesta ini sudah selesai!” serunya sambil mengernyitkan dahi.
“Tentu saja, Perdana Menteri Xyon. Aku turut berduka cita atas kepergian Jenderal Senior Sey, maafkan aku,” balas Higarashi.
“Kalau begitu, kami akan kembali sekarang, Yang Mulia,” ucap Weim.
Xyon hanya menatap pria muda itu dengan wajah datar, lalu ia berjalan bersama dengan Weim menuju ke ruang utama istana kerajaan Halida untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Neriya dan Klafina.
"Umumkan perintahku, Weim. Jenderal Senior Sey sudah tiada, dan Planet Palladina akan mengadakan upacara berkabung pada esok hari, lalu dilanjutkan dengan empat puluh hari berkabung semesta. Kau yang akan mengatur upacara berkabung untuk esok hari. Beritahukan hal ini langsung kepada Arex dan Nordian,” ucap Xyon dengan nada tegas.
“Baiklah, Xyon,” balas Weim.
“Aku hanya takut … jika aku sebenarnya tidak mampu. Paman Xyon memberikan beberapa informasi tentang para Silverian itu namun aku … tidak yakin bisa mengalahkan mereka,” ucap Keira.
“Aku akan membantumu,” balas Higarashi, “Mari kita berpesta sebentar di sini, sebelum kau kembali ke Planet Palladina.”
Ia kemudian mengajak Keira untuk berdansa, dan mereka memutuskan untuk menikmati pesta tersebut sampai malam tiba, dan langit menjadi penuh dengan cahaya bintang.
Para tamu undangan lantas kembali pulang menuju ke planet mereka masing-masing begitu hari semakin larut, dan pesta akhirnya selesai dengan sendirinya. Para pelayan terlihat dengan cepat membereskan ruang utama istana dengan kekuatan kosmik dari Star Baton milik mereka.
Sementara itu, Neriya, Klafina, Higarashi, dan Keira terlihat sedang berdiri di bagian pojok ruangan tersebut.
“Kau akan kembali ke Planet Palladina sekarang, bukan?” tanya Klafina dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
“Kami turut bersedih setelah mendengar kabar bahwa Jenderal Senior Sey sudah tiada, Putri Keira. Aku harap kau bisa meneruskan pesanku ini kepada Perdana Menteri Xyon,” ucap Neriya.
Keira tersenyum kecil, lalu membalas, “Aku akan menyampaikannya, Yang Mulia. Terima kasih. Kalau begitu, aku akan kembali terlebih dahulu.”
“Aku akan menemanimu,” bisik Higarashi.
Klafina langsung tertawa kecil begitu ia mendengar bisikan tersebut. Ia kemudian menatap Higarashi dan Keira sambil tersenyum lebar.
“Pergilah. Kalian sudah dewasa, bukan? Aku berharap dengan bersatunya kedua planet ini di tangan kalian, Galaksi Metal bisa kembali damai seperti sediakala. Yang Mulia Raja dan aku akan selalu memberikan dukungan bagi kalian berdua,” ucapnya.
Keira kemudian membungkukkan badannya, begitu juga Higarashi, lalu mereka kembali berdiri tegak setelah beberapa saat.
“Kami akan pergi terlebih dahulu, Ibunda,” ujar Higarashi.
Ia lalu meraih tangan Keira dan menggandengnya, membawanya keluar dari ruang utama istana tersebut menuju ke halaman depan. Mereka lantas mengubah fisiknya menjadi dua buah bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa.
Tidak butuh waktu lama, mereka kemudian menembus atmosfer Planet Palladina dan mendarat di halaman depan istana kerajaan planet itu, lalu kembali kepada fisik mereka yang semula. Para pengawal yang melihat kedatangan mereka, langsung membungkukkan badan untuk memberi hormat sebentar dan kembali berdiri tegak.
“Keira!” teriak seorang pria yang sedang berlari ke arah mereka dari dalam istana.
Keira dan Higarashi kemudian menoleh ke arah pria itu karena terkejut.
“Paman Weim!” seru Keira.
Ternyata pria tersebut adalah Weim. Ia lalu berdiri di samping Higarashi sambil berusaha untuk mengatur nafas.
“Xyon sedang menunggu kalian di halaman belakang,” ujarnya.
“Kalian?” tanya Higarashi.
__ADS_1
“Ya, kalian. Kau dan Keira,” jawab Weim.
Keira mengangguk, kemudian ia berlari menuju ke halaman belakang istana bersama dengan Higarashi dan Weim, melalui sisi samping istana. Begitu mereka tiba di sana, Xyon terlihat sedang berdiri di bawa sebuah pohon yang besar, dengan wajah serius sambil menatap ke arah mereka.