
Keesokan paginya setelah selesai menghabiskan sarapan, Higarashi kembali pergi menuju ke sekolah menggunakan bus. Ia harus berjalan beberapa langkah dari rumahnya menuju ke halte bus terdekat, dan dua kali berganti bus, agar bisa tiba di sekolah.
“Semoga aku bisa menemukan informasi tentang dirinya. Warna rambutnya sangat mencolok,” gumamnya pelan.
Begitu lonceng tanda masuk sudah berbunyi, ia segera berjalan masuk ke dalam ruang kelas tiga-satu, lalu duduk di sebelah Aerim, dan mengikuti kegiatan belajar mengajar layaknya murid biasa. Namun, setiap kali waktu istirahat tiba dan selalu saja ada keributan di luar ruang kelas, Aerim entah mengapa, selalu mencoba agar ia tidak pergi keluar dan melihat apa yang sedang terjadi.
Sementara Demira sendiri, mulai menggodanya dengan berpindah tempat duduk tepat di depannya. Kedua hal ini membuat Higarashi tidak nyaman sama sekali.
Setiap hari dilalui Higarashi dengan kebiasaan yang selalu sama. Bangun pagi, sarapan, pergi ke sekolah, lalu Aerim dan Demira akan mengganggunya, kemudian ia akan pulang dari sekolah sendirian. Sudah lima hari dan ia masih belum bisa menemukan informasi apapun mengenai Keira. Rasanya ia ingin menyerah saja, bahkan wajahnya mulai terlihat kecewa setiap pagi ia berangkat ke sekolah.
Suatu pagi di ruang kelas tiga-satu, Higarashi baru saja tiba di dalam ruang kelas, lalu berjalan menuju ke kursinya dan duduk di atasnya. Ia kemudian memperhatikan Aerim yang sedang terlihat sibuk memainkan sebuah benda kecil yang bercahaya.
Higarashi sangat penasaran dengan benda kecil tersebut, bahkan sampai ia memperhatikan dengan sangat fokus dan membuat Aerim kesal. Pria itu lalu menoleh ke arah Higarashi dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Hei, jika kau begitu penasaran, ini dinamakan ponsel. Apa kau tidak tahu tentang ponsel sampai kau harus memperhatikanku dengan sangat fokus?" tanya Aerim dengan kesal.
"Kelihatannya sibuk sekali jari-jarimu, apa ada yang menarik dari benda bercahaya bernama ponsel itu?" tanya Higarashi.
Aerim menghela nafas panjang.
"Ya ampun. Kau benar-benar tidak tahu ponsel? Sebenarnya kau ini manusia Bumi atau alien luar angkasa?" tanyanya balik kepada Higarashi dengan nada kesal.
"Aku, baru saja pindah dari sebuah kota kecil …," jawab Higarashi.
"Aduh, pantas saja kau tidak tahu. Ponsel ini sangat berguna. Kau bisa menelpon orang lain, berkirim pesan, hingga bergabung dengan grup yang berisi sekumpulan orang di dalam sosial media. Jika kau sangat penasaran, kau bisa membeli ponsel seperti ini di toko-toko yang ada di dekat halte bus. Namun, guru akan segera menyitanya jika ia melihat benda kecil ini," jawab Aerim, masih dengan wajah yang kesal.
Higarashi kemudian memalingkan wajahnya, dan bergumam, “Ponsel?”
__ADS_1
Seorang guru pria kemudian masuk ke dalam ruang kelas. Higarashi lalu mengikuti pelajaran pada hari itu dengan serius, walaupun masih memikirkan Keira di dalam kepalanya.
Setelah seharian mengikuti pelajaran dan akhirnya lonceng tanda waktu pulang sekolah berbunyi, Higarashi dengan cepat berlari keluar sekolah hingga ke halte bus terdekat, kemudian berhenti sebentar di depan sebuah toko.
"Ponsel! Benda itu akan sangat berguna, aku bisa ikut ke dalam salah satu grup sosial media, dan mungkin aku bisa mencari tahu tentang Keira di sana!" gumamnya dalam hati.
Ia kemudian memperhatikan beberapa toko yang ada di sana, dan begitu ia melihat sebuah toko yang menjual ponsel, Higarashi langsung berlari dan masuk ke dalamnya, hingga salah satu pegawai perempuan terkejut karena kedatangannya.
“Aku ingin … sebuah ponsel! Ya, sebuah ponsel!” seru Higarashi.
“Tuan, ponsel seperti apa yang anda inginkan?” tanya pegawai perempuan itu.
Higarashi kemudian menatap ke arah salah satu etalase yang ada di dalam toko tersebut, lalu menunjuk sebuah ponsel yang berwarna merah di sana.
“Itu saja!” serunya.
Higarashi lalu membuka tasnya dan meraih sesuatu dari dalamnya, kemudian menyerahkannya kepada pegawai perempuan itu.
“Apakah ini cukup?” tanyanya.
Pegawai perempuan tersebut melotot begitu ia melihat tumpukan uang yang diberikan oleh Higarashi.
“Ah, akan kuhitung terlebih dahulu. Terima kasih, Tuan,” ucapnya.
Setelah proses transaksi tersebut disetujui oleh sang pemilik toko, pegawai perempuan itu lalu membiarkan Higarashi membawa pulang ponsel tersebut. Demira yang sedang berjalan di samping pertokoan itu, tiba-tiba melihat Higarashi yang baru saja keluar dari sebuah toko sambil memainkan ponselnya.
Ia langsung berlari, dan dengan sengaja menabrak bahu pria berambut merah darah itu dengan pelan dan membuat Higarashi terkejut akan kehadirannya.
__ADS_1
“Hei!” seru Higarashi.
"Ponselmu?" tanya Demira.
Higarashi mengangguk. Kemudian dengan cepat, Demira merebut ponsel milik Higarashi, dan mulai mengetik nomor ponsel pribadinya di sana, lalu menelpon nomornya sendiri dengan ponsel milik pria itu.
“Hei!!” seru Higarashi lagi.
Demira kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celananya, dan ketika ia sudah mendapatkan nomor ponsel milik Higarashi, ia langsung mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya dengan senyum yang lebar.
"Simpan saja nomorku. Kita akan sering bertukar pesan mulai hari ini!" seru Demira.
"Apa? Aku tidak ada waktu untuk itu! Aduh, sudahlah, sebaiknya aku segera pulang," balas Higarashi dengan kesal sambil mengambil kembali ponselnya dari tangan Demira, lalu berjalan cepat menuju ke halte bus, meninggalkan gadis itu sendiri di sana.
Demira tersenyum licik, lalu bergumam, “Memang dasar pangeran bodoh.”
Ia kemudian menatap ke arah layar ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan. Setelah mendapatkan nomor ponsel Higarashi, dari pagi hingga malam hari, ia selalu mengirimkan pesan teks yang bahkan sama sekali tidak pernah dibalas oleh pria itu. Pesan teks basa-basi yang seolah ingin mencari perhatian darinya, membuat Higarashi mulai merasa terganggu.
Keesokan paginya, karena kesal, Higarashi akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ponselnya di atas ranjang sebelum pergi ke sekolah.
“Gadis itu sudah gila!” serunya.
Ia kemudian berjalan keluar dari rumah dan tidak lupa mengunci pintunya, menuju ke halte bus. Ia lantas menunggu bus selanjutnya tiba, dengan wajah yang terlihat kesal.
Ketika sebuah bus sudah tiba, ia kemudian naik ke atasnya. Higarashi memutuskan untuk melihat-lihat pemandangan, untuk mendinginkan kepalanya. Namun, begitu ia memutar tubuhnya ke belakang, betapa terkejut dirinya ketika ia melihat seorang gadis yang sedang berdiri di belakangnya, sambil mengenakan jas sekolah yang sama dengannya, dengan rambut berwarna biru tua.
Wajah gadis itu tampak sedih. Kedua bola matanya yang berwarna biru muda, terlihat berkaca-kaca. Ia berdiri sambil menggenggam erat pegangan bus dengan tangan kanannya. Gadis itu hanya menatap ke bawah, tanpa memperhatikan sekelilingnya. Pandangannya kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
“Keira?” gumam Higarashi di dalam hatinya.