
Sementara itu, Higarashi terlihat berada di atas ranjang setelah melepaskan pakaian yang melekat di badannya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar, dan membangunkannya. Ia lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Seorang pelayan pria kemudian membungkukkan badan di hadapannya, lalu menyerahkan sebuah kertas kosmik yang terlipat.
“Yang Mulia, surat ini ditujukan untuk anda,” ucap sang pelayan pria.
Higarashi langsung meraih benda itu dari tangannya.
“Terima kasih,” balas sang Pangeran Mahkota dari Halida tersebut.
Higarashi lalu kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat, lalu membuka lipatan kertas kosmik itu, namun, tidak ada apapun yang muncul di sana. Ia lantas mengernyitkan dahinya karena kebingungan.
Tiba-tiba, kertas kosmik tersebut mengeluarkan suara seorang wanita, "Temuilah aku di depan gedung sekolah besok pagi, tanpa mengajak siapa pun. Hanya kau seorang yang ingin kutemui, karena aku hanya percaya kepada dirimu. Aku akan mengatakan semuanya tentang para Silverian, dan rencana selanjutnya untuk menghancurkan Planet Palladina beserta Keira. Raja dari Silverian sudah menghancurkanku, jadi, aku akan memberitahumu semua rahasia tentang dirinya. Aku tidak ingin perang antar planet ini terus menerus terjadi, tolonglah aku.”
Tampaknya Higarashi tidak curiga akan surat itu, namun ia justru dibuat penasaran olehnya. Keira kemudian keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian tidurnya, lalu menatap ke arah Higarashi yang terlihat kebingungan.
“Ada apa, Higarashi?” tanya Keira sambil berjalan mendekati suaminya itu, lalu berdiri di hadapannya.
Higarashi langsung menoleh ke arah istrinya tersebut, kemudian tersenyum dan berkata, "Keira, aku baru saja mendapatkan sebuah surat yang kemungkinan besar dikirimkan oleh seseorang dari Planet Silverian, dan tampaknya ia sedang ingin melakukan pemberontakan terhadap pemimpinnya sendiri.”
Keira lalu memperhatikan kertas kosmik yang sedang dipegang oleh Higarashi, sambil mengernyitkan dahinya.
" Apakah kau yakin bahwa surat itu bukan jebakan?" tanya Keira.
"Jebakan? Aku rasa kita tidak akan tahu apakah itu adalah jebakan atau bukan, sampai kita mencobanya, bukan? Keira, maafkan aku, tapi aku akan pergi menuju ke Planet Bumi besok pagi. Aku harus mencari tahu tentang Planet Silverian lebih jauh, untuk melindungimu,” jawab Higarashi.
__ADS_1
"Biarkan aku ikut denganmu,. Bukankah kau memiliki rumah di sana?" ucap Keira pelan.
“Namun, orang ini memintaku untuk datang sendiri, karena ia sangat memercayaiku. Ah, rumah itu sudah kukembalikan kepada pemiliknya, dan aku bahkan meninggalkan ponselku di sana. Begini saja, Keira. Kau akan tetap berada di sini karena lebih aman untukmu, sementara aku akan menemuinya. Kau tenang saja, tidak perlu khawatir, karena aku sudah memiliki senjata kosmik dengan energi cahaya yang diberikan oleh Perdana Menteri Xyon,” balas Higarashi.
Keira masih terlihat khawatir dan curiga, namun, ia tidak berkata apapun.
“Entah mengapa aku merasa bahwa surat itu adalah jebakan,” gumamnya di dalam hati.
Higarashi tiba-tiba meraih tubuhnya dan mencium bibirnya. Keira lalu memeluknya erat, sambil memejamkan kedua matanya. Mereka kemudian menikmati malam yang santai setelah pesta pernikahan yang melelahkan.
Keesokan paginya, ketika Keira baru saja membuka kedua matanya dan menoleh ke samping, Higarashi ternyata sudah tidak ada. Suaminya itu terlebih dahulu pergi, dan meninggalkannya sendirian. Keira kemudian membersihkan diri dan mengganti bajunya, lalu berjalan keluar dari kamar, menuju ke ruang makan.
Wajahnya masih terlihat gusar, seolah masih berpikir bahwa surat itu adalah jebakan bagi Higarashi.
“Tidak mungkin ada seseorang yang mendadak memberikannya surat dan mengatakan bahwa ia ingin menemui Higarashi, tanpa ada sesuatu di baliknya,” gumam Keira di sepanjang lorong istana.
Sang Raja dan Permaisuri dari Halida itu bahkan telah duduk di atas kursi masing-masing, dan para pelayan terlihat sudah menyajikan berbagai macam makanan di atas meja makan yang ada di hadapan mereka.
"Duduklah, Putri Mahkota," ucap Klafina dengan senyum di wajahnya.
Keira kemudian berjalan menuju ke kursi yang ada sebelah Klafina, lalu duduk sambil menunggu gilirannya untuk mengambil makanan.
"Anak itu, baru saja menikah dengan seorang putri cantik, namun, pagi ini dia justru pergi sendirian ke Planet Bumi, meninggalkan istri yang baru saja dinikahinya!" seru Neriya dengan wajah yang terlihat kesal.
Klafina hanya tertawa kecil, lalu ia menawarkan Keira untuk mengambil makanan yang sudah tersedia di hadapannya. Keira mengangguk, kemudian ia mengambil beberapa makanan yang menarik perhatiannya ke atas piring.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir, Putri Mahkota," ucap Klafina dengan senyum.
keira lalu menoleh ke arah Permaisuri dari Halida itu dan berkata, "Ah, Yang Mulia, maafkan aku tidak bisa melarang suamiku sendiri untuk pergi …."
"Tidak masalah, Putri Mahkota. Anak itu memang sudah terbiasa pergi ke sana ke mari tanpa pemberitahuan! Sifatnya itu yang aku tidak suka!" seru Neriya.
Mereka kemudian menikmati sarapan paginya, namun mendadak, seorang pengawal terlihat berlari menuju ke ruang makan, lalu masuk dengan terburu-buru dan berlutut di hadapan mereka. Wajahnya terlihat tegang, hingga ketiganya berhenti memakan sarapannya dan menatap sang pengawal dengan wajah-wajah yang terkejut.
"Yang Mulia! Sebuah pesawat luar angkasa tiba-tiba saja menyerang atmosfer kita, dan mendarat tepat di halaman depan istana!" teriak pengawal itu.
Neriya dan Keira langsung berdiri setelah mendengarkan hal itu, dengan wajah yang serius. Kedua bola mata perempuan berambut biru tua itu bahkan mulai berkaca-kaca.
"Apakah mereka … adalah para Silverian?" tanya Keira sambil melotot tajam ke arah pengawal tersebut, hingga Klafina ikut berdiri karena ketakutan setelah mendengar pertanyaan dari menantunya barusan.
“Sebuah pesawat luar angkasa yang besar dan berwarna hitam legam!” seru pengawal itu.
Neriya menggeram setelah mendengarkan hal itu. Ia juga mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang penuh oleh amarah.
"Siapkan pasukan! Aku akan langsung menemui mereka! Sialan! Para Silverian itu!" serunya, lalu ia menoleh ke arah para pelayan yang ada di ruang makan itu dan berkata, “Kalian, cepat ikut denganku!”
“Baik, Yang Mulia!” seru mereka semua.
Lalu dengan cepat, pengawal tersebut berdiri dan berlari keluar dari ruang makan, begitu juga Neriya yang langsung meninggalkan istri serta menantunya dengan langkah yang cepat, bersama dengan semua pelayan yang ada di sana.
Klafina dan Keira hanya bisa terdiam sambil berdiri, namun setelah beberapa saat, Keira lalu mengambil langkah, hendak keluar dari ruang makan itu juga. Karena hal itu, Klafina langsung meraih tangannya, membuat Keira menghentikan niatnya dan menoleh ke arah sang Permaisuri dari Halida itu dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Yang Mulia, biarkan aku pergi ke sana," ucap Keira, “ini adalah tugasku sebagai seorang penjaga galaksi. Mereka sudah mengincar planet ini, Yang Mulia.”
"Tidak. Kau adalah seorang Putri Mahkota, dan kami harus melindungimu, selama kau berada di dalam Planet Halida," balas Klafina.