
“Maafkan pertemuan kita yang singkat ini, Anexta,” bisik Keiri pelan.
“Tidak. Keiri, aku akan berusaha untuk menyembuhkanmu,” balas Anexta.
Namun sayang, ia baru tersadar bahwa Keiri adalah manusia mortal ketika ia hendak memberikannya Healing Renovatio. Anexta langsung terdiam. Ia tidak bisa berkata apapun, dan bahkan air matanya mulai mengalir semakin deras. Seluruh mata kini tertuju kepadanya.
Ia hanya bisa mengepalkan telapak tangan kanannya.
“Selamat tinggal, Anexta. Aku … aku mencintaimu,” bisik Keiri lagi, lalu ia mulai menutup kedua matanya.
“Keiri! Tidak! Keiri!” teriak Anexta dengan nada tinggi, dan wajah yang terlihat histeris.
Ia berkali-kali berusaha untuk membangunkan pria manusia itu dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya, namun, Keiri sudah tidak ada. Ia sudah tewas. Tubuhnya kini lemas, dan percuma saja Anexta merangkulnya.
Karena tubuh manusia mortal tidak akan berubah menjadi debu halus layaknya para immortal, Anexta hanya bisa menghela nafas panjang. Ia kemudian meletakkan tubuh Keiri perlahan di atas tanah, dan mulai menyeka air mata yang masih mengalir dari kedua matanya.
Ia kemudian berdiri, lalu menatap Flerix dari kejauhan. Pedang kosmik miliknya tiba-tiba muncul di dalam genggaman tangan kanannya. Anexta lalu mengangkat pedang kosmik itu ke arah Flerix, dengan wajah yang terlihat murka.
“Kau! Berani-beraninya membunuh seorang manusia mortal! Apakah kau tidak takut akan kutukan alam semesta, Flerix?!” serunya.
Flerix tersenyum sinis, lalu membalas, “Kutukan alam semesta? Bukankah kau yang seharusnya dikutuk, wahai Ratu Bodoh? Bukankah kau, yang memiliki hubungan dengan pria manusia itu dan tidak kembali ke planet asalmu selama lebih dari satu minggu ini, Anexta?”
Anexta hendak melangkah ke arah Flerix untuk menyerangnya.
Namun, langkahnya terhenti ketika Flerix berseru kembali, “Ah, tidak penting! Manusia itu sudah tewas. Tidak ada gunanya lagi aku berada di sini. Selamat tinggal!”
__ADS_1
Tiba-tiba, kabut hitam tebal menyelimuti tubuh Raja dari Silverian itu, dan ia menghilang begitu saja. Anexta menggeram begitu ia melihat aksi cepat dari Flerix barusan.
“Ke mana ia sedan melakukan Televortare?! Sialan!” serunya.
Dovrix rupanya juga melakukan hal yang sama, dan hal ini membuat Anexta menjadi semakin murka.
“Jenderal Senior Xyon!” teriaknya lagi.
“Baiklah, Yang Mulia!” balas Xyon.
Ia dan sang ratu, kemudian menyerang pasukan-pasukan Silverian yang masih menghalangi mereka di sana, sambil berlari dengan cepat menuju ke desa. Mereka tahu bahwa desa tersebut sedang diserang oleh para pasukan Silverian lainnya, walaupun ada dua orang jenderal yang masih berada di sana, Sey dan Weim.
Sementara itu di dalam desa, Sey dan Weim rupanya sudah terlihat kewalahan. Energi yang mereka miliki mulai menipis, karena mereka belum juga kembali ke Planet Palladina untuk mengisi ulang energi cahayanya.
Mereka berdua kini terpojok. Tubuh mereka hanya bisa bersandar di salah satu rumah yang belum hancur, sambil masih mengangkat pedang kosmik milik masing-masing ke depan, untuk melindungi mereka dari serangan para pasukan Silverian yang kini mengepung mereka.
“Yang Mulia akan sangat marah setelah melihat hal ini. Kita tidak bisa menyelamatkan penduduk desa dalam jumlah yang banyak. Beberapa dari prajurit kita bahkan sudah kuperintahkan untuk membawa lari wanita dan anak-anak, masuk ke dalam hutan,” balas Sey pelan.
Tiba-tiba dari belakang barisan, dua orang terlihat sedang berlari ke arah Sey dan Weim, sambil menyerang para pasukan Silverian itu, hingga mereka semua terjatuh dan tidak sempat menahan serangan tersebut.
“Yang Mulia!” seru Sey sambil melotot ke arah salah satu dari dua orang itu.
“Xyon!” seru Weim ketika ia melihat rupanya Xyon dan Anexta yang sedang menyerang para pasukan Silverian dan berlari ke arahnya.
Setelah pasukan-pasukan Silverian tersebut tersungkur di atas tanah, sang Ratu dari Palladina dan jenderal seniornya itu kemudian menghampiri Sey dan Weim, yang sudah terpojok entah sejak kapan, dan berdiri di depan mereka.
__ADS_1
Sey langsung menurunkan pedang kosmiknya, begitu juga dengan Weim. Anexta kemudian menatap mereka berdua dengan wajah yang terlihat penuh dengan amarah. Mendadak, pasukan-pasukan Silverian yang sudah tersungkur di atas tanah barusan, tubuh-tubuh mereka diselimuti oleh kabut-kabut hitam, dan mereka tiba-tiba menghilang begitu saja.
Anexta, Sey, Weim, dan Xyon langsung terkejut dengan kejadian itu. Mereka bahkan melotot tajam ke depan, dan melihat sudah tidak ada lagi pasukan-pasukan Silverian itu di sana. Kosong. Desa itu kini kosong dan yang bisa dilihat hanyalah … rumah-rumah yang hancur dan terbakar, serta jasad-jasad dari manusia yang gagal menyelamatkan dirinya.
“Para Silverian itu menjebakku di dalam hutan, rupanya salah satu dari mereka sudah lama menjadi mata-mata di sini,” ucap Anexta dengan nada tegas.
“Yang Mulia, maafkan kami. Aku dan Sey tidak bisa menyelamatkan lebih banyak penduduk desa ini. Kami sudah memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa anak-anak dan wanita untuk pergi menjauhi tempat ini, dan masuk ke dalam hutan,” balas Weim dengan wajah yang terlihat kecewa.
Anexta menghela nafas panjang.
“Flerix dan pria yang satunya lagi. Mereka berdua melakukan Televortare, dan aku tidak mengetahui di mana mereka saat ini. Sialan,” ucapnya lagi.
“Yang Mulia, aku sempat melihat beberapa pasukan Silverian membawa sebuah bola hitam raksasa dan menggali sebuah lubang yang dalam tepat di tengah-tengah desa ini. Mereka bahkan memasukkan sebuah selang panjang ke dalam lubang itu, dan sepertinya, bola hitam raksasa tersebut menyedot sesuatu,” ujar Sey sambil mengernyitkan dahinya.
Xyon langsung menoleh ke arah Anexta dan menatap sang ratu dengan wajah yang serius.
“Yang Mulia, apakah mereka …,” ucapnya, namun, Anexta langsung memotong, “Ya, mereka berhasil mengambil energi panas melalui tanah di desa ini. Bola itu tampak seperti bola Dyson, sesuai dengan yang kau katakan, Sey.”
Xyon mengela nafas panjang. Begitu juga dengan Anexta. Sang Ratu dari Palladina itu mulai memperhatikan sekelilingnya. Rumah yang hancur, berantakan, jasad-jasad manusia di mana-mana, dan luka-luka di tubuh mereka.
“Sebaiknya kita kembali ke Planet Palladina. Sey, aku ingin kau mencari prajurit-prajurit kita yang masih berada di sini. Ah, iya. Jasad pria yang bernama Keiri itu masih berada di dalam hutan. Jika kau menemukannya, aku meminta tolong kepadamu untuk menguburkannya dengan layak seperti manusia pada umumnya. Aku melihat mereka di sini melakukan hal itu kepada orang-orang yang sudah meninggal. Jika semuanya sudah beres di sini, kereta antar planet akan datang untuk menjemput kalian,” ucapnya pelan.
“Baik, Yang Mulia,” balas Sey.
“Xyon, Weim, kalian kembalilah bersama denganku,” ucap Anexta lagi.
__ADS_1
Kedua jenderal itu mengangguk. Anexta lalu mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa, begitu juga Xyon dan Weim, yang juga ikut melakukan hal yang sama. Mereka bertiga melesat melewati banyak planet dan bintang, lalu membuka lubang cacing yang jaraknya jauh dari Galaksi Bima Sakti, untuk kembali pulang menuju ke Planet Palladina.