
Viora kemudian tersenyum sambil menyerahkan dua buah botol minuman yang jatuh tadi, kepada Higarashi, namun, Raja dari Halida itu langsung menatapnya tanpa mengambil kembali botol-botol minuman itu. Mereka lalu kembali berdiri tegak sambil masih memperhatikan satu sama lain.
"Higarashi? Maafkan aku sudah menghalangimu tadi," ucap Viora.
Jantung Higarashi entah mengapa mulai berdetak dengan cepat. Wajahnya memerah ketika ia melihat wanita itu. Memang, fisik Viora lebih menarik daripada Keira, walaupun ia mungkin saja lebih tua daripada Higarashi.
Raja dari Halida itu tiba-tiba bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukankah kau bilang bahwa kau adalah tawanan milik Aerim?"
Sementara itu, karena terlalu lama menunggu, Keira akhirnya merasa bosan.
“Ke mana Higarashi? Mengapa ia lama sekali? Apa sebaiknya aku mencarinya?” gumam Keira pelan.
Ia kemudian berdiri dan berjalan melewati banyak kios, dan setelah beberapa saat, ia tanpa sengaja menemukan Higarashi yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang tidak ia kenal.
Keira lalu berhenti melangkah dan memperhatikan mereka berdua dari kejauhan sambil bergumam, "Higarashi?”
Viora lantas tersenyum kepada Higarashi, dan menjawab, "Ah, aku di sini tentu saja karena ada Aerim yang bersama denganku. Oh, maksudku, kekasih Aerim ada di sekitar sini.”
"Kekasih Aerim?" tanya Higarashi dengan wajah yang tampak penasaran.
"Demira, kau tidak tahu Demira? Bukankah kalian berdua pernah bertemu sebelumnya?" tanya Viora dengan wajah yang terkejut.
"Ah, Demira. Aku hanya ingat dia pernah memintaku untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Padahal aku tidak pernah menyentuhnya," jawab Higarashi dengan wajah kesal, “ternyata ia adalah kekasih Aerim, dasar wanita sialan!”
Viora tiba-tiba meraih dan menggenggam erat lengan Higarashi, lalu mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga pria tersebut, hingga wajah Raja dari Halida itu semakin memerah.
"Karena anak yang ada di dalam kandungan Demira adalah anak Aerim,” bisik Viora dengan senyum sinis.
Higarashi kemudian menoleh ke arah Viora setelah mendengarkan hal itu, namun dengan cepat, Viora menjauhkan dirinya dari Higarashi dan melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Higarashi, aku sudah menghalangimu tadi," ucap Viora pelan dengan senyum kecil.
"Ah, ah, iya, iya, tidak masalah. Namun, sebentar, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Higarashi.
Viora tiba-tiba menatap ke samping dan berkata, "Kau lihat saja sekelilingmu terlebih dahulu."
Higarashi lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, dan di sisi lain, Keira mulai merasa panas setelah melihat kelakuan suaminya di hadapan wanita itu. Sambil memperhatikan Raja dari Halida tersebut, wajah Keira tampak kesal.
Tidak lama kemudian, seorang pria tiba-tiba muncul dan berdiri di sebelahnya sambil menatapnya dengan wajah yang serius.
"Untuk apa mencintai seseorang dengan cepat, sementara ia mengaku bahwa ia sudah mencintaimu sejak lama?" tanya pria itu.
Keira langsung menoleh ke samping dan menatap pria yang sedang berdiri di sebelahnya tersebut, lalu ia bergumam, "Aerim?"
Mata Keira dan Aerim kini saling bertemu satu sama lain, sementara dari kejauhan, Higarashi menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu tanpa sengaja, ia melihat Keira dan seorang pria yang sedang berdiri di sebelahnya, sedang saling menatap satu sama lain dengan wajah yang serius.
“Aerim? Keira?” gumam Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
“Viora?” tanyanya dengan wajah yang terlihat kebingungan, ia bahkan menoleh ke kiri dan ke kanan, namun, ia tidak lagi melihat wanita itu di mana pun.
Karena tidak bisa menemukan Viora, Higarashi lalu menoleh lagi ke arah Keira dan Aerim, sambil memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan.
"Aku sudah lama menyukaimu, Keira. Mungkin jauh lebih lama daripada Raja bodoh itu," bisik Aerim pelan, kemudian ia dengan cepat, meraih wajah Keira dengan tangan kanannya dan mulai membelai wajah perempuan Crossbreed itu dengan lembut.
Namun, Keira langsung meraih tangan Aerim dan menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya, kemudian ia membalas, "Aku tidak bisa menyukaimu, Aerim, maafkan aku."
Wajah Aerim langsung berubah. Ia tampak kesal, bahkan mengernyitkan dahinya dan menatap Keira dengan sedikit ketegangan.
"Mengapa? Bukankah kau sudah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Raja bodoh itu tidak pernah bisa setia, bukan? Apa kau masih ingat Chexy? Demira? Ah, dan sekarang, wanita itu, yang kau lihat tadi bersama dengannya, " balas Aerim.
__ADS_1
Keira langsung menatap Aerim dengan sorot mata yang tajam, dan berbisik, "Uh? Kau berkata bahwa kau mencintaiku, namun, bukankah kau sudah memiliki Demira? Bukankah ia sedang mengandung anakmu?"
Aerim kemudian tertawa kecil sebentar, lalu membalas, "Itu kecelakaan. Ia terus menerus mengejarku. Lagi pula, aku sudah bertanggung jawab, bukan? Anak yang akan ia lahirkan nanti, akan menjadi penerusku."
"Tidak, Aerim. Kau harus menjadikannya istrimu!" ujar Keira dengan nada kesal sambil mengernyitkan dahinya.
Aerim tiba-tiba meraih punggung Keira dan mendekatkan wajahnya di depan telinga Permaisuri dari Halida tersebut, lalu berbisik, "Tidak mau. Aku hanya menginginkan dirimu. Bisakah kau bercerai dari Raja bodoh itu sekarang juga, demi kedamaian Galaksi Metal? Keira, kau harus merelakan tubuhmu, jadilah milikku, lalu aku akan menjagamu dengan seluruh jiwa dan ragaku."
Tiba-tiba seorang pria mendorong Aerim dari samping, agar menjauh dari Keira. Raja dari Silverian itu langsung menoleh dan menatap pria tersebut dengan senyum sinis.
“Ah, sang Raja dari Halida,” ucap Aerim.
"Menjauhlah dari Keira!" seru pria itu, yang rupanya adalah Higarashi, dengan wajah kesal.
"Menjauh?" balas Aerim, lalu ia menoleh ke arah Keira dan melanjutkan, "Keira, sebaiknya kau pikirkan penawaranku dengan matang. Baiklah, selamat tinggal!"
Aerim kemudian berjalan dengan cepat, menjauhi mereka, lalu menghilang begitu saja di tengah kerumunan orang-orang yang sedang berlalu-lalang di tengah-tengah taman bermain tersebut.
“Sialan!” gumam Higarashi.
Ia kemudian menggenggam tangan Keira dengan sangat erat, lalu membawanya keluar dari taman hiburan tersebut.
Setelah beberapa langkah dari pintu keluar, Keira tiba-tiba menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangan Higarashi dengan kasar sambil berkata, "Sakit, Higarashi! Lepaskan!”
Wajah Permaisuri dari Halida itu tampak kesal, begitu juga dengan Higarashi yang langsung menoleh ke arah istrinya tersebut. Mereka saling menatap satu sama lain dengan ketegangan di antara keduanya.
"Sebenarnya apa yang baru saja kau bicarakan dengan Aerim, Keira?!" tanya Higarashi dengan nada yang sedikit tinggi sambil mengernyitkan dahi.
"Lalu, apa yang sudah kau lakukan dengan wanita itu barusan hingga wajahmu memerah begitu?!" tanya Keira balik kepada Higarashi, dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Ah, itu …," ucap Higarashi, namun, ia tiba-tiba mengurungkan niat untuk berbicara lebih lanjut, karena ia sendiri tidak tahu mau menjawab apa tentang Viora kepada istrinya itu.
Wajah Keira memerah dan mulai terlihat kesal, kemudian ia berkata, "Sudah, lupakan saja! Kau mungkin mulai menyukainya!"