Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXVIII


__ADS_3

“Namun, bisa saja kau sudah tidak ada jika aku kembali nanti, atau anak ini …,” bisik Xyon, namun Hyerin langsung menyentuh bibir suaminya itu dengan telunjuk kanannya dan berkata, “Jangan ucapkan selamat tinggal kepada Hyerixon.”


Xyon mulai menangis pelan. Air matanya yang tidak bisa ia tahan lagi, mulai mengalir membasahi wajahnya.


Hyerin lantas menyeka air mata itu dengan telapak tangannya dan membelai wajah Xyon lembut, sambil berkata, “Jangan menangis di depan anak kita, kumohon.”


Jenderal muda itu kemudian menatap istrinya dengan wajah sendu dan berucap pelan, “Aku akan membelikan sarapan untuk kalian esok pagi, sebelum aku kembali.”


“Baiklah kalau begitu. Sekarang, tidurlah dengan nyenyak sambil menikmati malam ini bersama,” balas Hyerin dengan tatapan yang penuh cinta untuk suaminya tersebut.


Malam itu sepertinya Xyon sangat ketakutan. Ia bahkan berkali-kali terbangun, hanya untuk memperhatikan istri dan anak laki-lakinya yang masih tertidur pulas. Ia juga tidak ingin tertidur hanya karena takut matahari akan segera terbit, dan ia harus kembali berpisah bersama dengan keluarga kecilnya itu.


Dan benar saja, matahari akhirnya terbit pada pagi hari. Xyon lantas berdiri, lalu keluar dari dalam kamar setelah mencium kening istri dan anak laki-lakinya yang masih tertidur pulas.


“Aku mencintai kalian,” bisiknya pelan.


Ia kemudian membuka dan menutup pintu kamar dengan sangat perlahan agar tidak membangunkan mereka.


Sesaat setelah Xyon keluar, tiba-tiba kabut-kabut hitam muncul di tengah-tengah kamar tersebut. Seorang pria berambut ungu tua dengan bola mata abu-abu yang muncul dari dalamnya kemudian berjalan mendekati Hyerin yang masih tertidur pulas bersama dengan Hyerixon.


Pria itu kemudian menepuk bahu Hyerin untuk beberapa kali, hingga perempuan berambut hitam tersebut membuka matanya sedikit demi sedikit.


"Oh, Xyon? Kau sudah bangun?" tanya Hyerin.


Ia lalu berusaha untuk duduk walaupun masih sedikit mengantuk, agar Hyerixon tidak terbangun.

__ADS_1


"Bukankah kau berkata tadi malam, bahwa kau ingin pergi membeli sarapan pagi ini?" tanya perempuan itu lagi.


Namun karena “Xyon” tidak menjawab dan hanya menatap dirinya dengan wajah yang datar, Hyerin langsung mencurigai ada sesuatu yang salah dari suaminya tersebut. Setelah beberapa saat, ia mendadak tersadar bahwa pria yang sedang berdiri di depannya, bukanlah Xyon, suaminya.


Kedua matanya melotot lebar-lebar sambil menatap ke arah pria tersebut, yang fisiknya persis sekali dengan Jenderal muda itu.


"Siapa dirimu?! Mengapa kau berpenampilan seperti Xyon?!" seru Hyerin, namun, pria itu langsung mencekik lehernya hingga ia mulai merasa sesak.


"Aku sudah pernah berkata kepadamu, jangan lagi bertemu dengan pria dari Palladina itu," bisik Xyon palsu itu pelan, namun ia sedikit melepaskan cengkramannya pada leher Hyerin, agar wanita itu bisa berbicara.


"Darkerio! Xyon adalah ayah dari anakku, tidak mungkin aku menyembunyikannya!" balas Hyerin sambil masih melotot tajam menatap pria tersebut, yang rupanya adalah ayahnya, Darkerio.


"Benar-benar anak kurang ajar! Kau masih saja memanggilku dengan nama pribadiku! Baiklah, kau akan lihat apa yang akan terjadi setelah ini, karena sudah mengabaikanku! Kau seharusnya kembali ke Planet Blackerian setelah tugasmu selesai, dasar perempuan bodoh! Bisa-bisanya dijebak oleh perasaan mortal!" seru Darkerio, yang masih menyamar menjadi Xyon, sambil melotot tajam.


Hyerin tersenyum sinis, lalu membalas, "Tugas? Aku sudah berhasil membuat Xyon jatuh hati kepadaku, kami bahkan sudah memiliki anak. Lalu, bukankah tugasku sudah selesai, Tuan?!"


Perempuan berambut hitam itu tiba-tiba tertawa kecil, kemudian berbisik pelan, "Yang kau inginkan bukanlah tata surya ini, atau galaksi itu. Kau hanya takut peradaban para immortal yang ada selama ini akan mengalahkan kekuatan Planet Blackerian dengan materi gelapnya. Kau juga takut jika seorang Crossbreed nantinya lahir dan menguasai seluruh energi kosmik yang ada di alam semesta!"


Darkerio langsung mencekik leher Hyerin dengan semakin erat hingga wanita itu mulai susah untuk bernafas. Masih berpenampilan seperti Xyon, pria itu tiba-tiba mengangkat tubuh Hyerin ke atas sambil memegang leher anak perempuannya tersebut dengan tangan kanan.


"Seharusnya aku menarik kekuatan kosmik yang kau miliki, karena kay bukan lagi adalah anakku, Hyerin. Namun, cucuku, Hyerixon, akan menjadi penerusku, dan akan segera menjadi mesin pembunuh yang lebih baik daripada diriku. Hanya ada satu jenis mahkluk yang bisa hidup di dalam galaksi ini, dan itu, hanyalah kita, Blackerian!" seru Darkerio dengan mata yang memerah.


Ia lantas mengangkat tangan kiri ke atas, lalu sebuah belati hitam kecil yang sangat tajam muncul di dalam genggaman telapak tangannya itu. Namun tanpa mereka sadari, Hyerixon mendadak bangun dan melihat semuanya.


“Ibu! Ayah!” teriak anak laki-laki itu dengan wajah yang tampak panik dan mulai menangis.

__ADS_1


Darkerio tersenyum sinis, sementara Hyerin berusaha untuk menatap Hyerixon dengan wajah yang terlihat pasrah.


"Kau tahu, sebaiknya kau berdiam di sini dan tidak perlu lagi kembali ke Galaksi Metal, dasar immortal bodoh! Rasakanlah Energy Revocation dari Hellix Dagger ini!!" teriak Darkerio sambil mulai mengarahkan ujung tajam benda kecil tersebut ke arah Hyerin.


"Kau, sialan!!" seru Hyerin sambil melotot lebar karena tahu bahwa ia mungkin akan dibunuh.


“Diam! Matilah kau!” balas Darkerio, dan dengan cepat, ia menancapkan belati hitam bernama Hellix Dagger tersebut tepat di dada kiri Hyerin.


"Argh!" teriak Hyerin sambil melotot tajam menahan rasa sakit pada luka tusuknya itu, "kau sudah gila! Menyamar sebagai manusia pria! Sungguh licik!"



“Ibu!!!” teriak Hyerixon dengan semakin keras sambil menangis hebat.


Darkerio tertawa sebentar setelah melihat darah yang mengalir dari luka perempuan berambut hitam itu, kemudian ia berkata, "Selamat tinggal, Hyerin!”


“Ayah!! Tidak!” seru anak laki-laki tersebut dengan air mata yang mengalir semakin deras, ia bahkan mulai ketakutan melihat “Xyon” yang sedang menatapnya dengan senyum sinis.


Darkerio kemudian menoleh lagi ke arah Hyerin, lalu melepaskan cengkramannya dari leher anak perempuannya itu, membiarkannya tersungkur di atas lantai dengan darah segar yang membasahi tubuhnya.


"Ibu! Ibu!!!" teriak Hyerixon, yang mulai memberanikan diri untuk berjalan perlahan ke arah ibunya tersebut.


Hyerin hanya bisa melotot tajam ke arah Darkerio, namun tidak bisa berkata apapun, karena mulutnya seolah terkunci, dan Hellix Dagger yang masih tertancap di dalam dadanya itu, mulai mengeluarkan kabut-kabut hitam. Ia ingin sekali berteriak karena kesakitan, namun badannya terasa sangat kaku dan tidak mampu bergerak.


Hyerixon kemudian mengangkat kepalanya dan melihat wajah “ayahnya” yang sedang tersenyum licik setelah ibunya tersungkur lemas tidak berdaya akibat tusukan benda tajam itu.

__ADS_1


"Ayah!" serunya sambil menangis dengan keras.


__ADS_2