
Sementara itu, di dalam sebuah kamar yang terletak di paling belakang istana Planet Silverian, Demira dan Aerim terlihat sedang berdiri dan berhadapan satu sama lain dengan wajah yang serius.
"Mengapa tidak langsung kau bunuh saja perempuan sialan itu?! Ia bahkan sudah bukan lagi seorang gadis, Aerim! Ia sudah menikah!" tanya Demira dengan wajah yang kesal.
"Membunuh? Jika aku membunuhnya, lalu untuk apa bertahun-tahun ini aku mengincarnya, bodoh?! Aku akan merebutnya dari Pangeran bodoh itu!” balas Aerim sambil mengernyitkan dahinya.
"Bunuh saja Keira, agar kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau di dalam Galaksi Metal ini, bukankah begitu lebih baik?! Mengapa harus merepotkan diri sendiri?" balas Demira.
"Aku mencintainya! Kau sudah tahu akan hal itu, namun masih saja menggodaku!" seru Aerim dengan wajah kesal kali ini.
Demira tertawa sebentar, lalu bertanya, "Ah, padahal sebentar lagi aku akan melahirkan anakmu, dan kau masih mencintai perempuan Crossbreed itu? Apakah itu cinta, atau kau hanya menginginkan kekuatannya saja? Bukankah kau dan perempuan itu adalah saudara? Ibu kalian sesungguhnya adalah kakak beradik dari Palladina, bukan?!"
Aerim langsung tersenyum mendengar pertanyaan itu, dan menjawab, "Dengar, Demira. Kau sudah menanyakan hal itu berkali-kali. Kau bisa lihat sendiri, apakah wajahku ini ada kemiripan dengan Keira? Ibuku dan ibunya memang adalah kakak dan adik, namun, ibuku adalah anak angkat, bukan saudara kandung dari ibunya. Aku mencintainya karena kekuatan yang ia miliki … lebih berguna daripada otakmu!"
Wajah Demira mendadak berubah menjadi kesal dan memerah. Ia kemudian mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah Aerim sambil mengernyitkan dahinya.
"Kau! Sejak pertama kali kau menemukan perempuan Crossbreed itu, yang ada dipikiranmu hanya dirinya! Andaikan waktu itu kau tidak pernah menemukannya!" teriak Demira, lalu ia menurunkan kembali tangan kanannya.
"Menemukan Keira itu sangat mudah, Demira! Rambut biru tuanya sangat mencolok! Mereka pikir bisa menyembunyikannya dariku terlalu lama. Ah, mereka sama saja seperti dirimu yang bodoh!" balas Aerim dengan senyum sinis.
Ia kemudian memutar badannya ke belakang, lalu berjalan menuju pintu, dan keluar dari ruangan itu. Demira hendak mengejarnya, namun langkahnya terhenti karena rasa cemburu dan amarah yang semakin membesar di dalam hatinya.
"Aerim! Lihat saja kau nanti! Kau harus menjadi milikku, dan anak ini harus menjadi penerusmu! Jika tidak, aku akan mengacaukan dirimu, lihat saja!" seru Demira dengan mata yang melotot tajam ke arah pintu.
Aerim lalu berjalan menuju ke sebuah ruangan. Ia kemudian masuk ke dalam dan mengunci pintunya rapat-rapat, lalu duduk di atas sebuah sofa, dengan kekesalan yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Sialan, karena Azure Shield itu, aku tidak bisa lagi masuk ke dalam Planet Halida. Tidak mungkin aku membuat kekacauan di dalam Planet Palladina, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Jika seperti ini caranya, aku harus, mau tidak mau, menunggu mereka kembali ke Planet Bumi. Kekuatan kosmik apa yang kau miliki sebenarnya, Keira? Bahkan energi gelap milikku tidak bisa menembus Azure Shield itu. Sialan!" gumamnya kesal.
Sementara itu di dalam Planet Palladina, setelah dua hari tertidur untuk mengisi ulang energi cahaya miliknya, Keira akhirnya terbangun. Ia kemudian berdiri dan berjalan keluar dari Light Chamber itu.
Ia terus berjalan menyusuri setiap lorong, hendak mencari Xyon yang ia sendiri tidak tahu keberadaannya. Keira kemudian tiba di depan sebuah ruangan yang pintunya memiliki motif yang berbeda dari pintu-pintu lainnya di sana. Ia lalu mengetuk pintu ruangan itu perlahan, karena yakin bahwa ruangan tersebut mungkin adalah ruang kerja pribadi milik Xyon.
"Masuklah!" seru seorang pria dari dalam ruangan itu.
Keira kemudian membuka pintunya dan masuk ke dalam, lalu kembali menutup pintunya rapat-rapat. Ia lantas menatap seorang pria yang sedang duduk di atas sebuah sofa yang terletak di sebelah kiri ruangan tersebut.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, Paman," ucap Keira.
"Kau sudah ingin kembali? Apakah energi cahaya milikmu sudah terisi penuh?" tanya pria itu, Xyon, sambil menatapnya dengan wajah yang serius.
"Sudah, Paman. Maka dari itu, aku harus cepat kembali ke sana," jawab perempuan berambut biru tersebut.
Tiba-tiba, Keira berujar, "Paman ….”
"Ya? Apa ada lagi yang bisa kubantu, Yang Mulia?" tanya Xyon.
"Kau sama sekali tidak mengkhawatirkanku, bukan?" balas Keira dengan wajah sendu.
Sang Perdana Menteri dari Palladina itu terdiam sebentar, kemudian ia berdiri dan menatap lurus Keira dengan wajah yang serius.
"Ya, kau benar sekali. Kau tidak meninggal, Keira. Bahkan tubuhmu waktu itu tidak berubah menjadi debu, bukan?" jawab Xyon.
__ADS_1
"Bukan itu, Paman. Kau tidak mengkhawatirkanku sama sekali, bahkan sejak aku lahir, bukan?" tanya Keira dengan nada tegas.
Xyon lalu menatap sang Putri Mahkota dari Halida itu dengan sorot mata yang tajam dan bertanya balik kepadanya, "Apa yang kau maksudkan kali ini, Keira?"
Keira tersenyum, lalu kembali bertanya, "Kau sudah tahu bahwa aku akan memiliki kekuatan dari energi cahaya, energi bintang, energi cinta, dan energi kosmik lain yang diberikan oleh galaksi ini kepadaku, walaupun kutukan itu ada di dalam diriku. Kau sebenarnya sejak awal tidak pernah mengkhawatirkan diriku, Paman. Yang kau khawatirkan adalah ketidakmampuanku untuk memusnahkan para Silverian itu, karena dendam yang ada di dalam hatimu, bukan?"
Kali ini Xyon terdiam. Ia masih menatap Keira dengan sorot mata yang tajam, lalu menghela nafas panjang setelah beberapa saat.
"Tidak, Keira. Tugasku adalah menjagamu dan seluruh isi galaksi ini, dari ancaman para Silverian itu. Lantas, bagaimana aku tidak khawatir denganmu?" jawab Xyon dengan wajah yang serius.
Keira menghela nafas pendek, kemudian berkata, "Baiklah, Paman Xyon. Aku akan kembali menuju ke Planet Halida.”
Ia lalu membalikkan badannya dan membuka pintu, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Xyon hanya bisa menatap pintu tersebut dengan sambil mengernyitkan dahinya.
"Bukti bahwa hanya dengan kau bisa membuat Azure Shield untuk Planet Halida saja, sudah membuatku ketakutan. Kekuatan kosmik yang kau miliki itu benar-benar di luar batas kami, Keira. Sungguh berbahaya. Para Silverian bisa saja mencuci otakmu dan menjadikanmu sebagai mesin pembunuh suatu saat nanti," gumam Xyon dalam hatinya.
Keira kemudian berlari hingga ke halaman depan istana, dan menemukan ketiga jenderal senior lainnya sedang berada di sana, sepertinya hendak melakukan patroli. Ia lalu menghampiri mereka sambil tersenyum.
"Paman-Paman!" serunya, lalu ia berdiri di samping Arex.
"Kau sudah pulih, Keira?" tanya Weim.
"Tentu saja, Paman Weim!" jawab Keira dengan senyum yang lebar.
Arex kemudian menghela nafas pendek, lalu bertanya, "Kau akan segera kembali ke sana?"
__ADS_1
"Tentu, Paman Arex!" jawab Keira lagi.