
Anexta justru melotot tajam menatap Flerix dan tersenyum sinis, lalu berkata, "Tidak biasanya kau sendirian, Flerix. Bisa apa kau tanpa orang-orang itu? Kau bahkan melakukan Televortare hanya untuk bisa berada di sini, dan pada akhirnya, kau lengah karena kemampuan tersebut membutuhkan banyak energi kosmik. Sekarang, kau yang akan mati terlebih dahulu, Flerix, selamat tinggal!"
Dengan cepat, ia mencabut pedang kosmik miliknya dari dalam dada pria Silverian itu, hingga membuat Flerix tersungkur di atas tanah dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Pedang kosmik miliknya bahkan mendadak berubah menjadi debu halus, dan ia kini hanya bisa tertawa kecil sambil menyadari bahwa hidupnya sebentar lagi akan selesai.
Namun, tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat dengan sangat cepat di belakangnya, tanpa disadari oleh Anexta, lalu menancap tepat di jantungnya, dari balik punggungnya.
“Argh!” teriaknya karena rasa rakit yang amat sangat mulai terasa begitu anak panah tersebut berhasil menembus dadanya dari belakang, hingga ke depan, merobek jantungnya.
Anexta langsung menoleh ke belakang, kemudian jatuh berlutut di atas tanah dengan kedua mata yang melotot tajam, dan darah yang mulai mengalir dari dalam luka tusuk di dadanya itu.
“Sialan …,” gumamnya sambil mulai meraba luka tusuk yang dideritanya.
Ia sama sekali tidak menyangka akan ada seseorang yang membidiknya dengan anak panah. Anexta kemudian jatuh tersungkur, di hadapan Flerix, walaupun jarak di antara mereka tidak terlalu dekat. Tiba-tiba, seorang pria muncul di hadapan mereka dan berlutut, dan langsung saja keduanya menoleh ke arah pria tersebut.
"Yang Mulia Raja! Maafkan aku! Aku … aku datang terlambat …,” ucap pria itu kepada Flerix, ia kemudian meraih tubuh sang raja dari Silverian itu dengan wajah yang terlihat panik.
“Dovrix,” ucap Flerix pelan, lalu dengan lemah, ia menarik kerah baju pria tersebut dan berbisik, “anak itu akan menjadi penerusku. Ia akan menjadi mesin pembunuh yang lebih baik daripada diriku. Jagalah pangeran kecil untukku. Kau harus membantunya agar bisa menjadikan Planet Silverian sebagai satu-satunya penguasa galaksi. Ingat bahwa Xyon masih hidup, dan ratu bodoh ini akan segera tewas bersama denganku. Selamat tinggal, Dovrix.”
“Yang Mulia! Tidak! Tidak!” seru pria itu, Dovrix, dengan wajah yang terlihat sedih, namun, ia sama sekali tidak berurai air mata ketika Flerix menutup kedua matanya dan seluruh tubuhnya mendadak berubah menjadi debu halus yang langsung menyatu dengan udara.
Tiba-tiba Anexta tersenyum sinis kepada Dovrix setelah itu.
__ADS_1
“Dovrix? Aku mendengar ibuku dibunuh dengan sebuah anak panah. Apakah kau pelakunya, Dovrix? Rupanya kau adalah kaki tangan Flerix. Dasar bodoh, seharusnya kau bisa menjadi seorang raja yang lebih baik daripada dirinya,” ucap Anexta pelan dengan darah yang mengalir keluar dari dalam mulutnya.
“Kau akan segera tewas, Nyonya. Tidak perlu memberikanku kalimat terakhirmu,” bisik Dovrix.
“Dovrix. Tampaknya kau sama sekali tidak bersedih atas kematian rajamu,” ucap Anexta lagi.
Dovrix tersenyum sinis, kemudian berbisik pelan, “Kau tidak tahu siapa yang sedang kulayani sebenarnya, Yang Mulia. Pergilah, dan kematianmu ini akan menjadi … awal dari kehancuran Planet Palladina.”
Tiba-tiba dari kejauhan, dua orang pria terlihat berlari ke arah mereka.
“Yang Mulia!” seru kedua orang itu.
“Sialan!” seru salah seorang pria itu ketika melihat Dovrix sudah menghilang setelah melakukan Televortare.
Kedua orang tersebut kemudian berlutut di hadapan Anexta. Salah satu dari mereka langsung menatap ke arah anak panah yang masih menancap di dada sang ratu, menyadari bahwa ia akan segera tewas sebentar lagi.
“Xyon dan Arex. Aku akan menitipkan Planet Palladina di tangan kalian,” ucap Anexta pelan.
Kedua pria tersebut rupanya adalah Xyon dan Arex, yang kini terlihat sedang menatap sang ratu dengan kepanikan di wajah mereka.
"Yang Mulia Ratu!” seru Xyon sambil menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh tanah, “Aku benar-benar tidak bisa diandalkan! Aku tidak bisa melindungi anda, adik angkat anda, ataupun kedua orang tua anda!"
__ADS_1
Ia mulai menangis, begitu pula dengan Arex yang juga ikut menundukkan kepalanya di hadapan sang ratu yang sedang sekarat itu.
“Kami sudah berusaha mengejar anda, namun, hutan yang lebat ini membuat kami tersesat untuk beberapa saat. Maafkan kami, Yang Mulia!” serunya dengan diikuti air mata yang mulai mengalir membasahi wajahnya.
“Aku akan segera membawa anda kembali ke Planet Palladina untuk mendapatkan Healing Renovatio!” seru Xyon.
Ia menegakkan kembali kepalanya dan menatap Anexta dengan wajah yang sendu, namun, sang ratu justru berkata, “Tidak mungkin. Anak panah ini sudah merobek jantungku. Ada sebuah surat wasiat yang kutinggalkan untukmu, ambillah di dalam laci yang berada di samping meja ruangan kerja pribadiku, Jenderal Senior Xyon. Aku akan menitipkan planet kita dan anak Crossbreed itu kepadamu, jadi, jagalah ia baik-baik, lalu balaskanlah dendamku kepada para Silverian itu, khususnya pria Silverian yang bernama Dovrix!”
“Tidak, Yang Mulia! Yang Mulia!” seru Xyon sambil meraih tubuh Anexta, namun, sang ratu dari Palladina itu mulai menutup kedua matanya. Tubuhnya mendadak berubah menjadi debu halus perlahan-lahan, lalu menghilang di udara begitu saja.
Xyon langsung mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya terlihat sangat dipenuhi amarah yang seolah ingin meledak keluar dari dalam hatinya. Arex hanya bisa termenung sambil berteriak memanggil, “Yang Mulia!” dan menangis sejadinya.
“Sialan, sialan, sialan! Para Silverian itu! Dovrix, Flerix, siapa pun nama mereka, aku bersumpah akan membalas seluruh kejahatan yang kalian lakukan! Anak Crossbreed itu, lihat saja! Sialan!” teriak Xyon sambil mulai memukul-mukul tanah dengan kedua kepalan tangannya, hingga jari-jarinya terluka.
“Xyon, hentikan! Kau tidak bisa seperti ini!” seru Arex yang berusaha menghentikannya, namun Xyon yang tangisannya kini semakin menjadi, justru semakin keras memukul tanah.
Arex langsung mencengkram kedua bahu dari Jenderal Senior itu dan menatap kedua matanya, lalu berseru dengan nada tinggi, "Xyon! Sudah hentikan! Tidak ada gunanya melakukan ini semua! Yang Mulia Ratu sudah tidak ada! Kita harus segera menjalankan perintah terakhirnya dengan membacakan surat wasiat itu! Tidak mungkin Yang Mulia Ratu bisa kembali, walaupun berkali-kali kau memukul tanah ini sampai kedua tanganmu itu terluka!”
Setelah mendengar seruan dari Arex barusan, Xyon terdiam. Ia memang berhenti memukul tanah, namun masih mengeluarkan air mata. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap ke atas, langit yang mulai cerah dengan sinar matahari yang menembus pepohonan.
"Anak crossbreed itu … akan kujadikan dia sebagai alat untuk membalaskan seluruh dendamku kepada para Silverian sialan tersebut! Lihat saja, suatu saat nanti, aku akan membiarkan anak itu untuk menghancurkan mereka!!" teriaknya dengan mata yang melotot dan wajah yang memerah, penuh dengan kebencian dan amarah.
__ADS_1