
Satu minggu lainnya kembali terlewat. Pagi hari ini, Anexta terlihat sedang membersihkan halaman depan dari rumah milik seorang wanita tua. Ia kemudian melihat sekelilingnya dan tersenyum lebar.
“Aku rasa kita bisa kembali setelah ini,” gumamnya di dalam hati.
Namun mendadak, ia merasa mual dan ingin muntah. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, yakni sakit pada perut. Anexta mendadak melemparkan sapu yang sedang dipegangnya ke tanah dan berlari masuk ke dalam rumah milik wanita tua tersebut.
Ia langsung membuka pintu kamar mandi dan berdiri di depan sebuah kloset, lalu memuntahkan isi perutnya sendiri. Setelah beberapa saat, ia kemudian menatap ke depan dengan wajah yang terlihat panik.
“Ada apa ini? Perasaan apa ini? Apakah ini yang dinamakan sakit? Apakah aku sedang terkena suatu penyakit?” gumamnya.
Ia kemudian mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukannya kemarin, lalu kembali bergumam, “Tidak mungkin. Aku tidak memakan banyak makan yang disuguhkan oleh penduduk desa ini karena takut akan kebersihannya. Aku bahkan bekerja dan beristirahat dengan seimbang, tidur yang cukup dan tidak mengkhawatirkan apapun. Aku harus segera mendapatkan Healing Renovatio.”
Ia lalu berdiri dan berjalan dengan cepat, mencari seorang pelayan wanita yang sedang tidak sibuk kelihatannya. Anexta lalu berdiri di samping pelayan wanita itu dan mendekatkan wajahnya tepat di depan daun telinga sang pelayan.
“Ikutlah bersama denganku. Berikan aku Healing Renovatio,” bisiknya pelan.
“Baik, Yang Mulia,” jawab pelayan wanita itu.
Anexta kemudian berjalan masuk ke dalam hutan, dengan terburu-buru sambil memperhatikan sekeliling, agar tidak ada orang yang mengikutinya. Namun, Sey tentu saja melihat hal ini dari kejauhan. Wajahnya langsung berubah menjadi terlihat curiga kepada sang ratu.
“Apa yang sedang terjadi?” tanyanya pelan.
Ketika ia dan pelayan wanita tadi sudah berada di dalam hutan, sang ratu dari Palladina itu kemudian berhenti berjalan. Pelayan wanita tersebut juga ikut menghentikan langkahnya, lalu mengangkat kedua tangannya di hadapan Anexta.
Healing Renovatio dimulai. Anexta memejamkan kedua matanya, namun, walaupun Healing Renovatio itu sudah diberikan untuk beberapa saat, ia masih merasakan mual dan ingin segera muntah.
“Ah, cukup,” ucapnya.
Pelayan wanita itu kemudian menghentikan aksinya.
__ADS_1
“Terima kasih. Kau boleh kembali,” ucap Anexta lagi.
“Baiklah, Yang Mulia,” balas pelayan wanita itu.
Ia kemudian berjalan meninggalkan sang ratu di sana, sendirian. Setelah pelayan wanita tersebut sudah tidak tampak lagi, Anexta lalu melangkah untuk kembali ke desa, namun tiba-tiba, sebuah pedang kosmik berwarna hitam muncul dari samping dan kini sudah berada di depan lehernya.
Ia terdiam, lalu menoleh ke samping dengan perlahan. Seorang pria berambut hitam rupanya yang sedang mengancam jiwanya.
“Ah, rupanya seorang Silverian. Apa yang bisa kubantu untukmu pada pagi hari ini?” tanyanya dengan senyum sinis yang lebar.
“Pergilah dari sini, dan jangan ganggu kami,” ucap pria tersebut.
“Siapa namamu? Aku sering melihatmu bersama dengan Flerix,” balas Anexta.
Namun, pria itu tidak menjawab. Ia justru semakin mendekatkan pedang kosmik miliknya ke arah dagu Anexta.
“Jika kau membunuhku sekarang, kau tidak akan melihat keseruannya,” ucap sang ratu dari Palladina itu dengan santai.
Anexta tertawa kecil, lalu membalas, “Hei, pria Silverian. Kalian membuat kekacauan dan aku yang harus memperbaikinya. Jika aku tidak membantu mereka untuk membereskan semua kekacauan yang kalian buat, mereka akan mengira bahwa ada makhluk luar angkasa yang datang dan membuat onar di sana. Lalu, berita ini akan menyebar hingga ke seluruh penjuru Planet Bumi. Jika para manusia itu mengetahui bahwa ada kehidupan di luar Planet Bumi, kau pikir, apakah mereka akan diam saja?”
Pria itu terdiam, namun, tidak juga menjauhkan pedang kosmiknya dari leher Anexta. Tiba-tiba dari samping, seorang pria lain dengan cepat melukainya dengan menggunakan sebuah belati tajam hingga pria itu kesakitan dan menurunkan pedang kosmiknya.
Anexta bahkan terkejut dan melangkah sedikit untuk menjauh dari kedua pria tersebut.
“Keiri!” serunya.
Pria yang baru saja melukai pria dari Silverian itu rupanya adalah Keiri. Ia kini berdiri di depan Anexta dan memasang badan untuk wanita yang dicintainya tersebut.
Pria dari Silverian itu tersenyum begitu ia melihat luka sayatan kecil pada bagian perut kiri bawahnya. Ia kemudian menatap Keiri dan Anexta, lalu tersenyum sinis.
__ADS_1
“Ah, pria manusia. Seorang mortal yang tidak memiliki kekuatan apapun. Minggirlah, aku tidak ingin membunuhmu. Yang kuinginkan adalah wanita yang berada di belakangmu itu,” ucapnya.
“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pergilah dari sini!” seru Keiri.
Anexta mulai terlihat panik. Ia tidak ingin mengeluarkan pedang kosmiknya karena Keiri bisa saja tahu siapa dirinya.
“Keiri, menjauhlah. Aku akan …,” ucapnya, namun, Keiri langsung memotong, “Tidak! Anexta, berlarilah menuju desa. Aku akan membereskan pria ini!”
“Kau, tapi … tapi, kau tidak akan bisa mengalahkannya. Ia memiliki pedang panjang sementara kau hanya memiliki sebuah belati kecil,” bisik Anexta.
“Lihat saja!” seru Keiri yang tiba-tiba maju ke depan dan menghunuskan belati kecilnya ke arah pria dari Silverian itu.
Tentu saja, pria dari Silverian tersebut langsung menghindar dengan cepat. Keiri tidak mau kalah, ia bahkan berkali-kali berusaha untuk menusuknya, walaupun semua usaha itu gagal. Anexta hanya bisa terdiam dan melihat pertarungan di antara kedua pria itu dengan wajah yang panik. Keringat dinginnya mulai mengalir membasahi wajahnya.
Mendadak dari kejauhan, sebuah anak panah melesat dan menancap di lengan kiri atas Keiri. Pria manusia itu langsung jatuh dan berteriak kesakitan di atas tanah yang kotor.
“Keiri!” teriak Anexta.
Ia dengan cepat menghampiri Keiri dan berlutut di depannya. Namun tiba-tiba, puluhan pasukan Silverian keluar dari tempat persembunyian mereka, pohon-pohon besar di sekitar sana, dan berdiri mengelilinginya.
Anexta hanya bisa menatap mereka semua. Lalu, seorang pria berjalan ke arahnya, dari barisan paling belakang prajurit-prajurit Silverian itu.
“Anexta!” seru pria tersebut.
Anexta langsung menoleh ke arahnya, lalu berseru, “Flerix …!”
Pria tersebut rupanya adalah Flerix. Ia kini berhasil mengepung Anexta dan Keiri, dan membuat sang ratu dari Palladina itu ketakutan serta panik.
Flerix kemudian berjalan mendekati Anexta dan berlutut di hadapannya, sambil menatap wanita itu dengan senyum sinis di wajahnya.
__ADS_1
“Seharusnya kau pergi dari kemarin. Untuk apa kau berlama-lama di sini? Apakah … kau dan pria manusia ini memiliki hubungan yang spesial hingga kau tidak bisa meninggalkannya sendiri?” tanya Flerix.
Anexta menggeram. Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam, sementara Keiri hanya bisa terbaring lemah, dirangkul oleh Anexta.