
Ia kemudian berhenti di satu-satunya halte bus yang ada di sana, dan begitu busnya tiba, ia lalu naik ke atasnya, menuju ke kota besar yang letaknya memang agak jauh dari sana.
Setelah beberapa kali berganti bus dari kota kecil tadi, akhirnya Higarashi tiba juga di kota besar yang pemandangan di sekelilingnya benar-benar berbeda dari kota kecil tersebut.
Sambil berjalan, ia lalu meraih peta yang ada di dalam saku celana dan membukanya, kemudian memperhatikan baik-baik jalan di sekelilingnya dengan peta tersebut. Leino sudah memberitahukan kepadanya tentang lokasi rumah yang akan ditempati olehnya selama seratus hari di dalam Planet Bumi, beserta sekolah yang akan ia tuju, sehingga, ia tidak terlalu kerepotan ketika ia membaca peta tersebut.
“Hmm … hmm. Aku rasa di sini,” gumamnya setelah berjalan untuk beberapa waktu.
Ia akhirnya tiba di rumah sewaan satu tingkat yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Leino. Jaraknya tidak begitu jauh dari halte bus tadi, dan komplek di sekelilingnya tampak tidak terlalu ramai. Rumah yang satu dengan yang lainnya sangat berjarak dengan pagar-pagar kayu yang cukup tinggi menghalangi pemandangan masuk ke dalam.
Dengan terburu-buru, ia masuk ke dalam rumah tersebut, lalu membuka pintu dengan kunci yang ia dapatkan sebelumnya, dan berjalan menuju ke sebuah sofa yang ada di ruang tamunya. Karena kelelahan, ia langsung berbaring di atas sofa tersebut dan mulai menghela nafas panjang.
"Seratus hari, baiklah. Rumah ini juga tidak terlalu buruk, walaupun hanya satu lantai namun cukup untuk diriku sendiri," gumamnya.
Ia kemudian mengangkat tangan kanannya, dan Star Baton miliknya muncul di dalam genggamannya. Ia lalu mengayunkan tongkat tersebut dan titik-titik cahaya lantas keluar dari ujungnya, melayang-layang ke arah lemari yang ada di sampingnya.
Semua barang bawaannya kemudian muncul di depan matanya. Ia lalu terbangun dan mulai membereskan semuanya.
Keesokan paginya, karena sudah diberitahukan oleh Leino bahwa ia bisa langsung masuk ke sekolah, maka Higarashi pagi itu juga, keluar dari rumahnya dan langsung menuju ke sekolah yang juga sudah diberitahukan oleh Leino kepadanya. Ia bahkan sudah membaca peta tersebut semalam suntuk hanya untuk menghapal jalan menuju ke sana, dan menuliskannya lagi di atas sebuah kertas yang lalu disimpannya di dalam saku bajunya.
Lokasi sekolah tersebut memang agak jauh dari rumahnya namun hanya sekolah itu satu-satunya yang cukup terkenal di sekitar situ. Tentu saja Higarashi mengenakan seragam sekolah, berpura-pura menjadi murid berusia delapan belas tahun. Ia memakai kaus dalam, celana panjang, serta jas sekolah lengan panjang yang berwarna biru gelap. Seragam sekolah yang memang sudah disiapkan oleh sang sekertaris kerajaan.
Hanya dengan melihat peta acak-acakan yang sudah ia tulis setelah tiga kali berganti bus, ia berhasil juga tiba di sekolah tersebut. Karena bel masuk sudah berbunyi kencang hingga membuatnya kesal, ia mulai berlari tanpa sadar bahwa gadis-gadis yang berada di sekelilingnya mulai melirik ke arahnya dengan senyum-senyum lebar di wajah mereka.
__ADS_1
"Aduh, kelas tiga-satu, kelas tiga-satu, di manakah ruangan itu?!" gumamnya pelan.
Karena berjalan dengan wajah yang terlihat kebingungan sambil mencari ruang kelasnya sendiri, ia akhirnya menabrak bahu seorang gadis yang memiliki rambut dan bola mata yang berwarna hitam. Gadis itu tampak tersenyum bahkan setelah Higarashi menabrak bahunya dengan cukup kencang.
"Hei!" seru gadis itu.
Higarashi langsung berhenti melangkah, lalu menoleh ke arahnya.
"Ah, maafkan aku, aku sedang mencari ruang kelas tiga-satu, karena bel masuk sudah berbunyi jadi aku agak terburu-buru. Apakah kau baik-baik saja?" balas Higarashi.
"Ruang kelas tiga-satu? Ah, apakah kau murid baru di sini?" tanya gadis tersebut.
"Iya, aku adalah murid baru di sini. Ah, apakah kau tahu di mana ruang kelas tiga-satu?" tanya Higarashi.
Gadis itu tersenyum sinis sebentar, lalu menjawab, "Kebetulan sekali, bagaimana jika kita berjalan bersama menuju ke ruang kelas tersebut? Karena aku juga adalah murid di kelas tiga-satu, dan itu berarti kau adalah teman sekelasku. Namaku Demira.”
"Ikutlah denganku!" seru Demira yang lalu berjalan menuju ke ruang kelas tiga-satu dengan senyum sinis di wajahnya.
Higarashi kemudian mengikuti gadis itu dari belakang hingga akhirnya mereka tiba di ruang kelas tersebut, lalu masuk ke dalamnya bersama-sama. Mereka kemudian berhenti di tengah-tengah ruangan itu dan berdiri terpaku untuk beberapa saat.
Demira kemudian memperhatikan sekelilingnya, lalu mendadak, ia berseru, "Nah, inilah ruang kelas tiga-satu! Ada lima ruangan kelas tiga, namun hanya di ruangan inilah, murid-muridnya paling dikenal di seluruh sekolah!"
Lalu, ia menunjuk ke arah sebuah bangku dan meja kosong yang berada di paling belakang, dan melanjutkan, "Nah, sebaiknya kau cepat duduk di bangku kosong satu-satunya, di sebelah pria menyebalkan itu!"
__ADS_1
Higarashi langsung melihat ke arah bangku dan meja yang baru saja ditunjuk Demira, kemudian membalas, "Ah, iya, iya, terima kasih!"
"Hei, hei, guru sudah datang!" seru seorang gadis kepada mereka berdua.
"Cepat, pergilah ke tempat dudukmu!" ujar Demira kepada Higarashi yang masih berdiri di sampingnya.
Mereka langsung berjalan menuju ke tempat duduknya masing-masing dan duduk dengan rapi sambil menunggu kedatangan sang guru, termasuk Higarashi. Ia duduk di atas sebuah bangku kosong yang ditunjuk oleh Demira tadi, lalu menoleh ke samping dan menatap seorang murid pria yang sedang duduk di sebelahnya walaupun dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengannya.
Murid pria itu memiliki rambut berwarna abu-abu dengan bola mata emas, dan wajahnya terlihat datar. Seorang guru pria masuk ke dalam kelas, kemudian berdiri di depan kelas sambil menatap ke arah Higarashi.
Ia berdehem sedikit sebelum berbicara, "Baiklah murid-murid sekalian, kita kedatangan murid baru di dalam kelas ini. Silakan berdiri dan perkenalkan dirimu!"
Higarashi langsung berdiri, kemudian ia memperkenalkan dirinya sendiri, "Hai, semua. Namaku adalah Higarashi, dan aku baru saja pindah dari kota kecil yang letaknya agak jauh dari sini. Salam kenal, dan mohon bantuannya!"
Ia lalu membungkuk sebentar, kemudian berdiri tegak kembali sambil menatap murid-murid yang lain.
"Salam kenal, Higarashi!" sahut beberapa murid yang berada di depannya.
Namun, mata-mata para gadis justru terus terkunci kepadanya.
"Silahkan duduk kembali, Higarashi," seru guru pria tersebut.
Higarashi kembali duduk, dan pelajaran langsung dimulai. Namun, murid pria yang ada di sebelahnya, membuatnya tidak nyaman sama sekali. Ia memperhatikan murid pria itu, wajahnya yang begitu datar, seolah tidak peduli dengan seisi kelas maupun pelajaran yang sedang diajarkan. Murid pria tersebut hanya memainkan pulpen yang sejak tadi berada di dalam genggaman tangan kanannya.
__ADS_1
"Jadi namamu Higarashi?" tanya murid pria itu, lalu ia berkata lagi, "Aku tidak menyukai caramu memandangku sejak tadi."
Higarashi agak terkejut karena mendadak murid pria itu berbicara.