
Flerix yang sedang dipenuhi amarah, langsung menatap Ryena dengan sorot mata yang tajam. Ia lalu mengarahkan pedang kosmik miliknya tepat di depan batang hidung mantan putri dari Palladina itu, dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Perempuan sialan!” serunya, “Apakah kau tidak takut mati?!”
Ryena tersenyum sinis, lalu membalas, “Kau akan segera membunuhku, untuk apa aku takut pada kematian?”
Lalu dengan cepat, ia mengayunkan tangan kirinya, hendak merebut pedang kosmik milik Flerix yang masih berada tepat di depan wajahnya, namun, usahanya itu gagal karena Flerix justru menarik pedang kosmik miliknya dari hadapan Ryena.
Perempuan itu kembali terguling setelah usahanya untuk merebut pedang kosmik milik Raja dari Silverian itu gagal. Melihat Ryena yang kini sudah tersungkur di atas tanah Flerix justru semakin berani dan kali ini, ia mengarahkan ujung pedang kosmiknya yang tajam tepat di depan dada kiri perempuan yang baru memberikannya seorang anak laki-laki itu.
“Energi cinta? Apakah kau memercayainya? Bodoh sekali,” bisik Flerix pelan.
Ryena hanya bisa melotot menatap Flerix dengan tatapan tajam tanpa bisa membela dirinya sendiri karena masih sangat lemah. Mereka berdua kini saling menatap dengan ketegangan di antara mereka.
"Dengarkan aku, putri bodoh. Kau tidak memiliki kekuatan yang menarik, kau juga terlalu polos. Namun, karena Anexta tidak mungkin bisa kuhasut, akhirnya aku mengubah rencanaku. Ya, tidak salah juga untuk menjebak adiknya. Kesabaran memang membuahkan hasil yang baik, bukan? Nah, sekarang, apakah ada kata-kata terakhir sebelum pedang kosmik ini masukke dalam jantungmu, sayang?" tanya Flerix dengan senyum sinis di wajahnya.
Ryena tiba-tiba tertawa sebentar, lalu menatap Flerix dengan wajah yang dipenuhi amarah, kemudian ia berteriak sekencang mungkin:
"Flerix! Suatu saat nanti, akan ada kekuatan besar yang mampu menghancurkan dirimu, dan juga planetmu hingga tidak bersisa! Aku memang bodoh, namun aku sangat tahu bahwa di dalam Galaksi Metal, sudah lama sekali tidak terdengar istilah Crossbreed … yakni seorang seorang anak yang lahir dari hubungan antara manusia mortal dengan seorang immortal. Anak ini yang nantinya akan menghancurkan planetmu dan dirimu! Ia memiliki seluruh kekuatan alam semesta di dalam tubuhnya, ditambah dengan energi cinta yang kau bilang adalah palsu itu, ia akan membuktikan bahwa seluruh ucapanmu adalah salah! Kau dan planetmu, akan hilang menjadi debu gelap di angkasa, oleh kekuatannya! Kau tidak akan bisa melawannya, bahkan anakmu sendiri, bukanlah tandingannya! Lihat saja, karma akan datang kepadamu!"
__ADS_1
Flerix langsung kembali dipenuhi amarah ketika ia selesai mendengarkan kutukan dari Ryena kepadanya dan planetnya barusan.
“Perempuan sialan! Aku satu-satunya makhluk immortal terkuat di alam semesta ini, satu-satunya pengendali energi gelap! Tidak akan pernah ada seorang Crossbreed pun yang akan lahir di dalam Galaksi Metal! Omong kosong, Crossbreed hanyalah sebuah cerita! Matilah kau sekarang juga!” teriak Flerix dengan kedua mata yang memerah.
Ia langsung menancapkan pedang kosmik miliknya tepat di jantung Ryena. Tanpa ada sepatah kata pun, darah mulai mengalir keluar dari dalam luka tusuk perempuan itu. Flerix lalu tersenyum, kemudian ia berlutut di hadapan Ryena sambil masih memegang erat pedang kosmiknya.
Mereka berdua kini saling menatap lurus satu sama lain dengan ketegangan yang semakin bertamba.
"Kau memang bodoh. Crossbreed tidak pernah ada, mereka hanya cerita dari mulut ke mulut saja. Sampai saat ini, Crossbreed hanyalah sebatas teori dan tidak pernah ada satu orang pun yang hidup di dalam Galaksi Metal, pernah menemukan Crossbreed, satu saja. Tidak ada satu pun penduduk dari Galaksi Metal juga, yang mau berpasangan dengan manusia, karena itu berarti sama saja mereka melemahkan kekuatannya sendiri. Kutukanmu tidak akan pernah terjadi. Nah, sekarang, pergilah dengan tenang. Selamat tinggal!" bisik Flerix.
Ryena masih melotot tajam ke arah Flerix bahkan hingga akhir hayatnya, tanpa berbicara sama sekali. Flerix lalu mencabut pedang kosmiknya dengan kasar dari dalam dada perempuan tersebut, dan seketika itu juga, tubuh Ryena langsung berubah menjadi debu halus yang menghilang di udara.
Sementara itu, dari balik pohon besar yang berada tepat di belakang tenda mereka, Xyon ternyata bisa mendengarkan dengan jelas seluruh percakapan mereka berdua barusan termasuk kutukan itu, dan suara nyaring dari pedang kosmik milik Flerix.
“Sialan, apa yang baru saja ia lakukan terhadap Ryena?!” gumam Xyon di dalam hatinya.
Flerix kemudian masuk ke dalam Silvir dan pintu pesawat luar angkasa itu langsung menutup dengan sendirinya. Angin kencang mulai berhembus di sekitar sana, ketika mesin Silvir sudah dinyalakan, dan dengan cepat, pesawat luar angkasa itu berubah menjadi sebuah bintang kecil dan melesat ke luar angkasa.
Setelah Silvir sudah tidak terlihat lagi di atas awan, Xyon langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan dengan cepat berlari ke arah tenda. Dengan terburu-buru, ia masuk ke dalam, lalu berdiri di balik pintu sambil melihat sekelilingnya, lalu melihat bercak-bercak darah yang tumpah di atas tanah.
__ADS_1
“Ryena! Sialan, benar-benar keterlaluan Flerix itu!” serunya dengan mata yang melotot tajam.
Wajahnya langsung dipenuhi amarah yang besar karena meyakini bahwa pembunuh Ryena adalah Flerix. Ia langsung berlari keluar dari dalam tenda setelah memastikan bahwa Ryena benar-benar sudah dibunuh oleh sang Raja dari Silverian itu.
“Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Yang Mulia Ratu!” serunya di dalam hati.
Xyon berlari kembali menembus hutan, menuju ke perkemahan para Palladina yang letaknya agak jauh dari tenda tadi. Setelah berlari untuk sekian lama, ia akhirnya tiba di depan tenda milik Anexta. Ia hendak masuk ke dalam tenda, dengan nafas yang berat karena berlari terlalu lama.
Kebetulan saja, Anexta hendak keluar dari dalam tendanya. Ia hampir saja bertabrakan dengan Xyon yang terlihat terburu-buru sekali berlari ke arahnya.
“Jenderal Senior Xyon!!” teriak Anexta dengan mata yang melotot ke arah Xyon.
Namun, Xyon dengan cepat menghentikan langkahnya sebelum ia benar-benar menabrak sang ratu, dan langsung berlutut di hadapannya.
“Yang Mulia,” ucap Xyon.
"Jenderal Senior Xyon! Kau mengagetkanku saja! Ada apa lagi ini?" tanya Anexta sambil mengernyitkan dahinya.
Xyon menghela nafas panjang sambil menundukkan kepalanya. Ia lalu mengatur kembali nafasnya, sambil mulai memberanikan diri untuk berbicara.
__ADS_1
"Yang Mulia Ratu, maafkan aku, tapi ada sesuatu yang harus aku laporkan sekarang kepadamu!" seru Xyon dengan wajah yang serius.
Anexta kembali mengernyitkan dahinya, dan kali ini, ia mulai merasakan ketegangan.