
"Jika dia adalah seorang manusia, maka aku akan mengikutinya, lagi pula, tinggal di dalam Planet Bumi bukanlah hal yang buruk. Aku menyukainya. Ayah juga suka mengunjungi planet biru itu, bahkan ayah memberikanku nama Higarashi, dari bahasa suatu negara yang ada di sana, bukan?" balas Higarashi dengan kesal.
Neriya menggebrak meja dengan kedua tangannya kali ini, setelah mendengar perkataan dari sang pangeran mahkota barusan.
Ia kemudian berdiri dan berseru lagi, "Kau! Apa yang kau ketahui tentang menyukai seseorang? Yang kau rasakan itu bukanlah cinta! Menyukai seseorang hanyalah sebuah obsesi belaka!"
Higarashi tiba-tiba berdiri, lalu menatap Neriya dengan sorot mata yang tajam dan berkata, “Gadis itu bukan manusia! Aku bahkan bisa merasakan aura energi kosmik yang kuat di dalam dirinya! Aku bisa merasakan itu, ayah! Bukankah kalian semua juga melihatnya? Lalu mengapa kalian tidak bisa merasakan aura dari energi kosmik miliknya?”
“Apa?!” seru Neriya dengan mata yang melotot, termasuk Klafina yang juga ikut terkejut setelah mendengarkan ucapan tersebut.
"Higarashi, lagi pula kau sudah pernah kembali ke kota kecil itu, tiga tahun lalu, bukan? Dan kau tidak menemukan gadis itu ketika berada di sana. Bahkan toko minumannya saja sudah bukan lagi milik mereka. Ia pasti sudah dewasa sekarang. Mungkin saja gadis itu sudah pindah ke kota lain, pergi bersama kedua orang tuanya, atau mungkin saja … ia sudah tiada," ujar Klafina.
“Kau pasti salah, Nak. Tidak mungkin ada seorang immortal yang tinggal di dalam Planet Bumi, apalagi jelas ia berkata bahwa kedua orang tuanya adalah pemilik dari toko minuman itu!” seru Neriya.
Higarashi semakin kesal mendengar ucapan dari kedua orang tuanya itu. Ia kemudian menatap kedua orang tuanya dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang kesal.
"Aku akan kembali ke sana dan akan menemukan gadis itu!" serunya.
"Lalu? Kau akan membawa manusia kemari, ke dalam Planet Halida? Coba pikirkan bagaimana cara manusia itu akan bernafas di sini!" balas Neriya.
“Ia bukan manusia, ayah! Ia adalah seorang immortal! Aku bisa merasakan energi kosmiknya, ayah!” seru Higarashi lagi.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung terdiam untuk beberapa saat, namun, Klafina akhirnya memecah keheningan dengan tersenyum kecil kepada Higarashi.
"Begini saja, rajaku. Berikan Higarashi waktu seratus hari untuk mencari gadis itu di sana. Jika ia tidak berhasil menemukan gadis itu, atau, jika ia berhasil menemukan gadis itu namun gadis itu tidak membalas perasaanmu, Higarashi, maka kita akan menjodohkanmu dengan Putri dari Diamona," ujarnya.
Higarashi tersenyum kecil, "Lalu bagaimana jika gadis itu ternyata juga menyukaiku?"
"Maka silahkan kau putuskan sendiri, apakah kau ingin tinggal bersama gadis itu di sana dengan konsekuensi yang harus kau tanggung, yakni Starlet milikmu akan musnah dan kau tidak bisa lagi menggunakan energi bintang, atau, kau bisa mencari berbagai cara agar gadis itu bisa tinggal di dalam planet ini dan menjadi bagian dari keluarga kerajaan," jawab Klafina.
Neriya langsung menatap istrinya itu dengan sorot mata yang tajam, dan berkata, “Menjadi bagian dari anggota kerajaan? Astaga! Ia hanyalah orang biasa, istriku!”
“Baiklah! Aku akan membuktikan bahwa gadis itu adalah seorang immortal, dan aku tidak perlu sampai harus kehilangan Starlet dan Star Baton milikku!” seru Higarashi.
"Haha! Kalau begitu silahkan! Seratus hari! Aku yakin kau tidak akan bisa menemukan gadis itu, ataupun membuatnya untuk menyukaimu. Seratus hari berlalu sangat cepat! Baiklah, baiklah, hahaha! Aku setuju!" seru Neriya dengan sangat yakin.
Di dalam kamarnya, Higarashi terlihat sedang berbaring di atas ranjang sambil menggenggam sebuah label bergambar bunga krisan di tangan kirinya.
“Keira …,” gumamnya.
Mendadak pintu kamar itu diketuk oleh seseorang dari luar.
"Higarashi," sahut seorang wanita, dari luar kamar.
__ADS_1
Higarashi lalu terbangun, lalu berusaha untuk merapikan pakaiannya dan duduk di atas ranjang, kemudian berseru, "Ah, ibu, masuklah.”
Wanita itu, Klafina, kemudian masuk ke dalam kamar anak laki-lakinya tersebut, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Ia berjalan mendekati Higarashi dan duduk di sampingnya. Wajah sang pangeran mahkota tiba-tiba memerah, ketika sang ibunda menoleh ke arah tangan kirinya.
“Bunga krisan itu,” ucap Klafina, sambil memperhatikan sebuah label bergambar bunga krisan yang sedang dipegang oleh Higarashi.
"Aku yang dulu, sebenarnya menolak perasaan itu. Namun, lama kelamaan rasa itu bukannya menghilang, namun menjadi semakin kuat, bertambah menjadi sangat besar, hingga aku jatuh ke dalamnya. Sudah dua belas tahun ini, aku akui bahwa aku merindukan dirinya …," ujar Higarashi dengan raut wajah yang sedih.
Klafina kemudian menepuk-nepuk punggung sang putra mahkota, hanya agar ia merasa lebih baik.
"Higarashi, biarkan ibu menolongmu sedikit. Karena kau sangat yakin bahwa ia adalah seorang immortal. Begini, gadis itu pasti sudah dewasa, dan sepertinya ia terlihat lebih muda antara empat hingga enam tahun daripada dirimu. Kemungkinan besar, ia masih bersekolah di tahun terakhirnya. Nah, ibu sudah mempersempit pencarianmu, bukan?" tanya Klafina dengan senyum lebar di wajahnya.
Higarashi langsung menatap sang ibu, dengan senyum yang tiba-tiba merekah di wajahnya.
"Ibunda! Itu adalah ide yang sangat bagus! Kalau begitu, aku akan mencari gadis itu di kota besar. Ia pasti bersekolah di sana …,” ujarnya, namun entah mengapa raut wajahnya berubah lagi menjadi sedih.
"Aku sebenarnya bisa merasakan energi kosmik dari dalam dirinya, maka itu aku akan membantumu, Nak. Ya, bisa jadi juga ia tidak lagi bersekolah, namun, sayang, tidak ada salahnya untuk mencoba terlebih dahulu. Begini saja, kau bisa menyewa sebuah rumah kosong untuk sementara tinggal di sana, lalu ibu akan memasukkanmu ke sebuah sekolah di salah satu kota besar, agar kau bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan gadis itu dengan cepat. Ya, anak muda, ibu sangat mengerti masa-masa itu. Anak-anak muda di sana, biasanya membuat kelompok-kelompoknya sendiri dan dengan cara itu, mereka bisa dengan cepat mendapatkan banyak informasi tentang orang lain," ucap Klafina.
Namun, Higarashi justru mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Maksud Ibunda, aku harus berpura-pura menjadi murid sekolah itu? Aku … sudah terlalu tua, tampaknya.”
"Tentu saja, anggap saja kau kembali berusia delapan belas tahun lagi! Wajahmu yang tampan itu tidak akan membuatmu dicurigai, tenang saja!" balas Klafina dengan diikuti senyum kecil.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Higarashi langsung setuju dengan ide dari ibunya barusan. Klafina sadar, jika Neriya tahu bahwa ia sudah membantu Higarashi, ia akan mendapatkan luapan emosi dari sang raja, namun, nalurinya sebagai seorang ibu, membuatnya ingin sekali melihat anak laki-laki semata wayangnya itu bahagia.
“Ayah akan murka karena hal ini,” ucap Higarashi, “aku akan memerintahkan pelayan-pelayanku sendiri untuk mempersiapkan segala kebutuhanku di sana, selama seratus hari di Planet Bumi.“