
Ryena menggelengkan kepalanya, lalu membalas, "Flerix, setelah kupikir-pikir, Aku rasa aku sudah terlalu kasar kepada kakakku … seharusnya aku bisa lebih menjaga emosi….”
Mereka berdua terdiam sesaat.
Lalu, Ryena kembali melanjutkan, “Aku … hanya ingin melindungi dirimu dan planetmu saja. Mengapa kakak harus membencimu sebesar itu?”
“Tuan Putri, apakah kau tahu mengapa seluruh planet yang ada di dalam Galaksi Metal mempunyai energi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya? Pernahkah kau berpikir mengapa Planet Halida tidak mengendalikan energi cahaya padahal mereka jelas adalah planet di urutan kedua tata surya Goldinian?” tanya Flerix, hanya sekadar ingin berbasa basi dengan Ryena.
Putri dari Palladina itu hanya menggelengkan kepalanya. Flerix langsung tersenyum manis melihat kepolosan Ryena.
“Karena atas dasar keadilan. Planet Palladina mampu mengendalikan energi cahaya, dan Planet Halida mampu mengendalikan energi bintang. Sementara planet lainnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan energi dari meteoroid, komet, dan asteroid, namun tidak dengan Planet Silverian yang mereka pikir, kami sudah mencuri energi cahaya dari Planet Palladina dengan bulan-bulan milik kami. Mereka menghancurkannya, dan membiarkan kami hidup seperti ini hingga aku berhasil menemukan cara untuk mengendalikan energi gelap,” lanjut Flerix.
“Astaga, mengapa mereka melakukan hal itu? Maafkan kami, Flerix. Aku rasa para pemimpin planet itu hanya iri kepadamu!” seru Ryena.
“Kalau begitu, Tuan Putri,” ucap Flerix, lalu ia mendekati telinga Ryena, dan berbisik, "Hatimu. Ikuti saja apa kata hatimu. Kau sudah sangat dewasa, dan aku percaya kau mampu menjadi seorang putri yang memang berasal dari satu-satunya planet penjaga galaksi. Kau bisa memutuskan sendiri hidupmu. Kakakmu seharusnya tidak berhak ikut campur, jika itu menyangkut keputusanmu."
Ryena tiba-tiba mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia mulai menangis.
“Aku, kemampuan apa yang kumiliki selain daripada Healing Renovatio?! Bahkan kakak sama sekali tidak pernah mengajariku caranya bertarung, dan aku hampir tidak pernah menyentuh pedang kosmik milikku sendiri!” serunya dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Namun, Flerix dengan cepat menyeka air mata Ryena, lalu mengelus wajahnya, kemudian mencium bibirnya. Walaupun sang putri tahu bahwa hal ini salah, ia tidak menolak sama sekali, bahkan menerima ciuman itu dengan hangat.
Setelah beberapa saat, Flerix lalu melepaskan ciumannya dari bibir Ryena, dan berbisik, "Maafkan aku, Tuan Putri. Aku menyukaimu, namun, sepertinya kita harus berhenti sampai disini. Status kita berbeda dan tidak mungkin kita bisa bersatu. Nah, sesuai keinginan kakakmu, aku akan secepatnya pergi dari sini. Anggap saja ciuman tadi adalah hadiah perpisahan dariku. Selamat tinggal, Yang Mulia."
__ADS_1
Flerix hendak berbalik badan dan melangkah, namun, Ryena langsung meraih lengannya dan berseru, "Tidak, jangan, jangan pergi! Bawa aku bersamamu, Flerix!”
Wajah pria itu langsung terlihat terkejut begitu mendengar permintaan aneh dari sang putri barusan. Ia bahkan menatap Ryena dengan sorot mata yang tajam sambil mengernyitkan dahinya.
“Tuan Putri?” tanya Flerix pelan.
“Di sini juga, aku tidak dibutuhkan oleh siapa pun. Kakak hanya memperhatikan Jenderal Senior Xyon! Aku … aku hanya menginginkan kebahagiaanku saja! Aku tidak peduli lagi dengan semuanya! Mereka tidak pernah memberikanku tugas kerajaan, bahkan ayah dan ibu lebih memilih kakak untuk datang sebagai wakil mereka di seluruh acara kerajaan planet mana pun! Jika aku tidak meminta, mereka tidak akan mengajakku untuk ikut bersama dengan kakak! Sungguh tidak adil!” seru Ryena lagi dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.
Mendengar permintaan itu, Flerix lalu menoleh lagi ke arah Ryena dan menatapnya dengan wajah yang sangat serius, lalu bertanya, "Apakah kau yakin akan permintaanmu, Yang Mulia? Aku adalah raja kegelapan. Isi hatiku ini seluruhnya hanyalah gelap. Tidak ada satu pun cahaya yang bisa menembusnya."
Ryena langsung mengangguk dengan amat yakin tanpa berpikir dua kali, lalu bertanya, "Aku akan menjadi cahaya bagimu, Flerix. Bukankah kita sama-sama mendapatkan ketidak-adilan dari mereka? Aku rasa, kita bisa bersatu….”
Flerix tersenyum setelah yakin bahwa Ryena sendiri yang meminta hal itu.
Ia lalu membelai wajah sang putri dengan perlahan, sambil bergumam dalam hatinya, "Kau ini sebenarnya bodoh, atau polos, Yang Mulia?"
Flerix langsung tersadar dari pikirannya setelah mendengar pertanyaan itu. Ia lalu menjauhkan tangannya dari wajah Ryena, dengan wajah yang terlihat sedikit gugup.
"Ah, jika kau tidak takut akan konsekuensinya, maka aku akan mengabulkan permintaanmu, Tuan Putri. Namun, apakah kau yakin kau ingin ikut denganku? Planetku tidak memiliki apapun selain kegelapan,” tanya Flerix.
Ryena sekali lagi, langsung mengangguk tanpa berpikir panjang. Flerix lalu meraih tangan kanan sang putri dengan senyum besar yang mendadak muncul di wajahnya.
“Jika kau yakin, aku akan membawamu untuk ikut denganku,” bisik Flerix.
__ADS_1
Ryena mengangguk.
Flerix lalu berlari, mengajak Ryena, menuju tempat di mana pesawat luar angkasanya, Silvir, sedang diparkir. Setelah berlari di dalam hutan untuk beberapa saat, mereka berdua akhirnya berhenti melangkah begitu mereka sudah tiba di depan sebuah pesawat luar angkasa yang besar dan berwarna hitam.
Namun, tidak ada pasukan planet Silverian yang terlihat di sekitar sana. Hanya Silvir, Flerix dan Ryena saja.
Ryena kemudian memperhatikan sekelilingnya lalu bertanya, "Ke mana seluruh pasukanmu, Flerix? Disini sangat sepi. Apakah kakak masih melukai mereka di sana?”
"Ah, mereka berjaga agak jauh dari pesawat luar angkasa ini. Pesawat ini bernama Silvir,” jawab Flerix.
Kedua bola mata Ryena berkaca-kaca begitu ia melihat pesawat luar angkasa yang besar tersebut. Sungguh begitu menarik perhatiannya.
“Bagaimana jika aku membawamu masuk ke dalam, Tuan Putri?" tanya Flerix.
Ryena mengangguk sambil masih memperhatikan ukuran Silvir yang amat besar, dan mulai tertarik untuk masuk ke dalamnya. Flerix kemudian berjalan mendekati pintu pesawat luar angkasa itu sambil mengangkat tangan kanannya.
Kabut-kabut gelap mendadak muncul dari dalam telapak tangannya, dan berhembus ke arah pintu tersebut. Tiba-tiba saja pintu pesawat luar angkasa itu terbuka. Flerix lalu menurunkan tangan kanannya dan menoleh ke arah Ryena.
“Masuklah,” serunya.
Ryena lalu berjalan mendekati Flerix. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam dan pintu tadi langsung menutup dengan sendirinya. Setelah pintu sudah tertutup rapat, mereka berdua lalu berjalan berdampingan, menyusuri lorong pesawat tersebut.
"Astaga, mengapa bagian dalam pesawat ini tidak begitu terang? Apakah tidak ada lampu di sini? Ini sama saja seperti kau masuk ke dalam gua yang besar!” seru Ryena.
__ADS_1
"Aku sudah berkali-kali mengatakannya kepadamu, Tuan Putri! Aku adalah penguasa energi gelap!” jawab Flerix.
Ryena terpana melihat sekelilingnya, kemudian ia berkata lagi, "Panggil aku Ryena! Aku tidak menyukai gelar putri kerajaan itu! Lagi pula aku sudah di sini bersama denganmu!”