Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kembalinya Keira


__ADS_3

"Kau benar. Baiklah, Perdana Menteri Xyon. Kalau begitu, kami akan kembali terlebih dahulu. Semoga Yang Mulia Permaisuri Keira baik-baik saja," balas Gerofin.


“Terima kasih atas perhatian Anda, Yang Mulia,” ucap Xyon yang kemudian membungkukkan badannya bersama dengan Weim, Arex, Nordian, dan Aerim, untuk memberi hormat kepada keduanya.


Gerofin dan Rexi lalu berjalan keluar, menuju ke halaman depan istana, dan masuk ke dalam kereta antar planet milik mereka untuk kembali ke Planet Diamona. Setelah keduanya sudah pergi, Xyon langsung berlari menuju ke ruang perawat, dengan wajah yang tampak gusar.


“Hei, Xyon! Tunggu!” seru Arex, yang kemudian mengikutinya bersama dengan Weim, Nordian, dan Aerim.


Begitu tiba di ruang perawat, tanpa berpikir panjang, Xyon lantas mencari di mana Keira sedang berada, hingga para perawat perempuan ataupun pria yang sedang berada di sana terkejut, berdiri, lalu membungkuk kepadanya. Ia berlari ke sana dan kemari, namun tidak juga menemukan perempuan berambut biru tua itu. Xyon kemudian berhenti di tengah-tengah ruangan tersebut bersama dengan empat orang yang mengikutinya, dan menatap semua orang dengan wajah yang serius.


“Keira! Di mana Yang Mulia Permaisuri Keira? Apakah kalian melihatnya?!” seru Perdana Menteri dari Palladina itu.


“Yang Mulia sedang berada di dalam Light Chamber, Tuan. Kepala Perawat Yeria yang membawanya ke sana,” jawab seorang perawat perempuan dengan wajah yang tampak ketakutan.


Xyon lalu kembali berlari tanpa mengucapkan satu kata pun, kali ini menuju ke Light Chamber yang berada di samping istana, masih bersama dengan Arex, Weim, Nordian, dan Aerim. Setelah mereka tiba di sana, Xyon langsung membuka pintunya lebar-lebar, masuk ke dalam, dan berjalan cepat mendekati seorang perempuan yang sedang berbaring di atas salah satu ranjang, di pojok ruangan tersebut.


"Keira!" seru Xyon dengan wajah yang benar-benar terlihat gusar, “Keira!!”


Ia lantas berdiri di samping ranjang, bersama dengan keempat orang yang mengikutinya sejak tadi.


Keira yang sedang tertidur, kemudian membuka kedua matanya perlahan, dan menoleh ke samping, tersenyum kecil dan berbisik pelan, "Paman … Xyon. Kau di sini.”


Xyon tiba-tiba meneteskan air mata sambil mengernyitkan dahinya. Ia lalu meraih dan menggenggam tangan kanan Keira, kemudian berlutut di sampingnya sambil menatap Permaisuri dari Halida itu dengan wajah yang sendu.


"Anak bodoh!! Seharusnya kau berdiskusi denganku terlebih dahulu sebelum melakukan hal konyol seperti itu! Kau tidak tahu betapa sesaknya dadaku begitu mengetahui bahwa kau sudah tidak ada!!" serunya dengan tangisan.


Ucapan tersebut membuat Weim, Arex, Nordian, dan Aerim langsung menoleh ke arah lain yang berbeda, sambil menahan air mata mereka.

__ADS_1


“Mengapa mereka tidak memberikan Healing Renovatio kepadamu, bahkan meninggalkanmu sendiri di sini?!” tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya.


“Aku … adalah makhluk mortal, Paman,” bisik Keira.


Xyon melotot begitu ia mendengar jawaban tersebut, namun tiba-tiba, seorang perawat perempuan membuka pintu ruangan itu dan membuat mereka semua menoleh ke arahnya. Ia lantas membungkukkan badan sebentar.


“Yang Mulia dan Tuan-Tuan,” ucapnya.


Ia kemudian kembali berdiri tegak, lalu berjalan mendekati Keira sementara kelima pria tersebut memberikannya jalan. Perawat perempuan itu kemudian berdiri di samping ranjang Permaisuri dari Halida itu, lalu menatapnya dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran.


“Ada apa, Perawat?” tanya Keira dengan nada pelan.


“Yang Mulia, Kepala Perawat Yeria memberikanku perintah untuk memperhatikan kesehatan Anda mulai saat ini karena tampaknya, kedua janin yang berada di dalam rahim Anda … memang masih baik-baik saja, namun sepertinya mulai terasa lemah pada pemeriksaan tadi,” jawab perawat perempuan itu dengan wajah yang gusar.


"Apa maksudmu dengan … kedua janin yang berada di dalam rahimnya, Perawat?!” tanya Xyon dengan wajah yang serius, sambil mengernyitkan dahinya.


“Kau … adalah perempuan yang benar-benar …,” ucap Aerim sambil melotot tajam.


Perawat perempuan itu langsung memutar badannya ke belakang dan membungkuk kepada Xyon dengan wajah yang tampak ketakutan, namun sebelum ia menjawab, Keira tiba-tiba berkata, “Aku sedang mengandung anak kembar, Paman.


Kelima pria itu melotot tajam ke arah Keira, sementara perawat perempuan tadi lantas kembali berdiri tegak dan menatap Permaisuri dari Halida tersebut dengan wajah yang panik.


“Tidak mungkin! Mengapa Kepala Perawat Yeria sama sekali tidak memberitahukan hal ini kepadaku?!” tanya Xyon dengan nada tinggi.


“Aku yang memintanya untuk diam,” jawab Keira dengan wajah yang serius.


Perawat perempuan tadi langsung terkejut begitu ia mendengar jawaban tersebut, lalu ia berkata dengan bibir yang gemetar sambil membungkuk kepada Keira, “Yang Mulia! Aku sama sekali tidak tahu bahwa Anda meminta untuk merahasiakan hal ini! Maafkan aku, maafkan aku!”

__ADS_1


“Ini bukan salahmu, Perawat. Aku akan membutuhkan bantuanmu untuk menjaga kedua calon anak ini,” balas Keira dengan senyum kecil.


Perawat itu lantas berdiri tegak, lalu menundukkan kepalanya sebentar, kemudian menatap Keira dengan wajah yang tampak senang, dan berseru, “Terima kasih, Yang Mulia! Terima kasih!”


“Aku ingin berbicara dengan mereka terlebih dahulu, Perawat,” ucap Keira pelan.


“Baiklah, Yang Mulia!” balas perawat tersebut, lalu ia membungkukkan badannya sesaat, berdiri tegak, dan berjalan cepat untuk keluar dari ruangan itu.


Setelah perawat perempuan tadi sudah menutup kembali pintunya rapat-rapat, kini, Keira dan kelima pria tersebut lantas saling menatap dengan wajah yang serius. Lampu ranjang yang menyala terang, menandakan bahwa Permaisuri dari Halida itu sedang mengisi ulang energi cahayanya.


“Bisakah kau memberitahukan kepadaku, lain kali, tentang rencana-rencanamu sebelum kau benar-benar menjalankannya, Keira?!” tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya.


“Jika aku memberitahukan hal ini kepada kalian, tidak mungkin Aerim akan berada di sini bersama kita, bukan?” tanya Keira balik kepada Perdana Menteri dari Palladina itu.


“Namun, kau sedang mengandung, dengan cara mortal, dan itu berarti anak-anakmu …,” ucap Nordian, namun, Keira langsung memotongnya dengan berkata, “Mereka adalah immortal, seperti kalian.”


“Apakah kau akan terus menerus memakai energi antimateri untuk menjadikan semuanya sesuai dengan … keinginanmu, Keira?” tanya Aerim dengan wajah yang serius.


Keira tidak menjawabnya. Ia hanya memalingkan wajah dari mereka sambil berusaha untuk tertidur.


“Kau bahkan menyembunyikan kabar bahagia ini dari suamimu sendiri,” ujar Weim sambil menggelengkan kepalanya sekali.


"Untung saja raja dan permaisuri dari Planet Diamona melihat keberadaanmu, dan membawamu kembali ke sini,” ucap Arex dengan wajah yang gusar.


Keira masih terdiam. Ia sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah mereka.


Namun, setelah beberapa saat, ia kemudian mengernyitkan dahinya sambil berkata, "Andai saja aku memberitahukan hal ini kepada Higarashi, ia akan mati-matian mencegahku untuk melakukan hal itu, dan jika aku tidak melakukannya, maka perang antar planet tidak akan pernah berhenti!”

__ADS_1


__ADS_2