
Malam hari menjelang, dan Hyerin yang baru saja pulang dari restoran tersebut, kini sudah berada di dalam kamarnya. Setelah selesai membersihkan diri, ia kemudian duduk di atas ranjang sambil tersenyum kecil.
"Nak, apakah dirimu adalah seorang anak laki-laki, atau adalah seorang anak perempuan?" gumam Hyerin pelan sambil mengelus perutnya.
Tiba-tiba saja di sampingnya, seorang pria berbadan besar berambut hitam dengan bola mata serta baju dan celana yang berwarna sama, muncul dari balik kabut-kabut hitam. Pria itu langsung berjalan mendekati Hyerin, dengan wajah yang terlihat penuh dengan amarah.
Hyerin langsung menoleh ke samping dan menatap pria tersebut dengan wajah yang kesal. Ia bahkan menggeram dan mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Untuk apa Ayah datang kemari?!" tanya Hyerin dengan nada tinggi.
"Berani-beraninya kau berhubungan dengan pria dari Palladina itu! Bukankah sudah kukatakan bahwa tugasmu hanya sebatas untuk mencari informasi tentang planet penjaga galaksi tersebut?!" seru pria berbadan besar tersebut sambil melotot tajam.
"Kau mungkin bisa mengendalikan lubang hitam dan materi gelap, Ayah. Hanya saja satu-satunya yang tidak bisa kau kendalikan adalah perasaan! Aku sudah mendekatinya seperti yang kau inginkan, bukan?" jawab perempuan berambut hitam itu dengan wajah yang merah karena menahan emosi.
Pria berbadan besar tersebut langsung mendekati dan meraih serta mencengkram wajah Hyerin dengan kasar. Aura gelap yang menyelimuti tubuhnya, membuat pria itu terlihat menakutkan.
"Aku memintamu untuk mencari informasi tentang Planet Palladina dari pria muda itu, namun kau malah menyerahkan perasaanmu kepadanya. Serahkan anak yang ada di dalam kandunganmu itu kepadaku, jika ia sudah besar nanti," bisik pria berbadan besar tersebut dengan nada pelan.
Hyerin tersenyum sinis, lalu membalas, "Kau akan menjadikannya penerusmu, bukan? Kau akan membuatnya menjadi seseorang yang kejam dan jahat. Kau juga yang akan membuatnya menjadi seseorang yang membenci alam semesta ini, bukan, Darkerio?"
"Berani-beraninya kau memanggil ayahmu dengan namanya sendiri!" seru pria berbadan besar itu dengan penuh amarah sambil mencengkram wajah Hyerin semakin kencang.
"Kau, hanya satu-satunya pemimpin yang ada di dalam Galaksi Metal, yang masih memiliki selir. Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri, dan anak-anak dari mereka yang kau jadikan prajurit, hanya karena ambisimu untuk memusnahkan seluruh planet-planet yang berpenghuni di dalam Galaksi Metal, hanya karena kau tidak menginginkan adanya kelahiran lain?!" tanya Hyerin dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kau benar-benar kurang ajar! Hyerin, kau harus tahu, bahwa sudah terlalu banyak planet-planet yang dipenuhi oleh makhluk hidup, baik immortal ataupun mortal, dan keberadaan mereka membuat alam semesta semakin ramai dan tidak terkendali!" seru Darkerio lagi sambil melotot tajam.
"Hah! Maka dari itu, kau tidak pernah merasakan cinta. Yang kau bisa rasakan hanyalah amarah, kebencian, dendam, dan kegelapan!" balas Hyerin dengan wajah kesal.
Darkerio tertawa kecil, lalu membalas, "Jaga mulutmu, Hyerin. Kau sendiri adalah kegelapan, sementara pria itu adalah cahayanya! Apakah kau pikir, kau akan baik-baik saja setelah pria itu mengetahui dirimu yang sebenarnya, seorang Blackerian yang tinggal di dalam sebuah planet gas kecil di ujung galaksi?! Kau akan dibunuh olehnya, tentu saja, ia tidak akan lagi memikirkan cintanya kepadamu, bodoh!”
"Lebih baik aku tewas di tangan orang yang kucintai daripada harus tewas di tangan orang yang sangat kubenci!" seru Hyerin sambil menatap ayahnya itu dengan tatapan tajam.
Darkerio kemudian berdiri tegak dan melepaskan cengkramannya dari wajah Hyerin.
Ia lalu tersenyum sinis dan berkata, "Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi pada alam semesta ini, ketika kegelapan dan cahaya yang sama-sama kuat, bersatu dalam sebuah perasaan yang kau beri nama cinta. Haha!"
Darkerio kemudian menghilang bersama dengan kabut-kabut hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Hyerin terdiam dengan wajah kesal. Kedua telapak tangannya mengepal, dan ia mulai menangis, namun masih dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Sementara itu di dalam Planet Palladina, Xyon yang sedang berada di halaman depan istana sambil melatih beberapa prajurit baru, terlihat sangat serius memperhatikan mereka.
"Baiklah, kalian semua, serang aku sekarang juga! Tidak perlu berpikir, jika kalian ingin melukaiku, silakan saja!" seru Xyon sambil menggenggam pedang kosmiknya.
“Baik, Jenderal!” seru mereka, yang mulai maju satu per satu dan menyerangnya tanpa ampun.
Xyon berusaha menghindari serangan-serangan mereka, hingga ia tiba di barisan belakang prajurit-prajurit baru tersebut setelah berhasil menjatuhkan beberapa orang. Kedua matanya tiba-tiba fokus kepada empat orang prajurit muda yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kalian berempat!" serunya, lalu ia berlari ke arah empat orang prajurit muda baru tersebut.
“Jenderal!” seru keempatnya.
__ADS_1
Tentu saja kesempatan tersebut tidak bisa disia-siakan. Mereka langsung menyerang sang Jenderal tanpa berpikir panjang, juga menghindar cepat dari serangan-serangan yang dibuat oleh Xyon. Kemampuan mereka berempat rupanya mulai menarik perhatian jenderal muda itu.
"Sungguh menarik, kemampuan yang mereka miliki. Sangat menarik," gumamnya dalam hati, kemudian ia menghentikan serangannya hingga keempat prajurit baru itu berhenti bergerak dan menundukkan kepala di hadapan Xyon.
"Kalian semua bisa kembali, kecuali keempat orang ini," seru Jenderal muda itu sambil menunjuk ke arah empat prajurit muda yang terakhir menyerangnya tadi.
Setelah kini hanya mereka berlima saja yang masih berada di sana, Xyon kemudian berjalan mendekati keempatnya sambil menatap mereka dengan wajah yang sangat serius.
"Perkenalkan diri kalian masing-masing," ucapnya dengan tegas.
Keempat prajurit muda itu memakai baju besi ringan yang berwarna putih. Mereka lantas menundukkan kepala di hadapan Xyon.
"Jenderal, namaku adalah Arex," ucap seorang prajurit muda pria muda yang memiliki rambut berwarna abu-abu dengan kedua bola mata yang berwarna coklat.
"Jenderal, namaku adalah Sey, Jenderal," ujar seorang prajurit lainnya yang berambut coklat dengan bola mata yang juga berwarna sama.
"Nordian, Jenderal!" seru seorang lainnya dengan rambut berwarna emas dengan bola mata yang berwarna hijau.
"Weim, Jenderal!" seru seorang prajurit di sebelah Nordian, dengan rambut berwarna biru terang dan bola matanya yang berwarna putih.
Xyon kemudian menghela nafas panjang, lalu berkata, "Kemampuan bertarung kalian sangat menarik perhatianku. Jika ujian kerajaan diadakan kembali, aku berharap kalian akan ikut serta di dalamnya. Galaksi ini membutuhkan kemampuan bertarung seperti itu, jadi aku mungkin akan melatih kalian berempat secara pribadi, agar dapat lulus dari ujian kerajaan itu dengan mudah."
Wajah mereka berempat langsung terlihat senang, bahkan mereka langsung berlutut di hadapan Xyon hingga membuatnya terkejut.
"Kalian, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Jenderal muda itu sambil melotot.
__ADS_1