Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kesaksian Demira


__ADS_3

"Ah," desah Keira sambil menatap ke arah piring makan miliknya, lalu ia kembali menoleh ke arah Higarashi dan berkata, "porsi makanku? Aku sudah memakan sedikit camilan sambil memasak tadi, jadi, aku mulai merasa kenyang."


Higarashi kemudian mengangguk, lalu membalas, “Pantas saja. Aku kira kau hanya akan memakan semangkuk sup. Kau bisa kelaparan lagi nanti di taman bermain itu. Bukankah masih ada nasi?”


“Oh, aku juga sudah menghabiskan semangkuk nasi sebelum kau turun, karena kelaparan. Maafkan aku tidka menunggumu terlebih dahulu,” jawab Keira, dan ia sebenarnya sudah meletakkan sebuah mangkuk di atas tempat cuci piring sebelumnya, agar terlihat seolah-seolah ia sudah memakan nasinya juga.


“Baiklah kalau begitu. Ah, Keira, bagaimana jika hari ini kita pergi berkeliling di sekitar sini saja?” tanya Higarashi, kemudian, ia mengambil segelas minuman dan langsung meneguk habis isinya.


"Ide yang bagus," jawab Keira dengan senyum lebar di wajahnya, lalu, ia berkata lagi, "tapi aku tidak ingin kelelahan dengan berjalan menuju ke halte bus yang jauh itu! Kau sudah berkata padaku bahwa aku bisa menikmati liburanku kali ini!"


Higarashi tersenyum, kemudian membalas, "Baiklah, aku akan memakai energi bintang saja kali ini, hahaha!"


Sebenarnya, Keira hanya tidak ingin kelelahan, atau Higarashi akan mencurigainya sedang sakit. Begitu mereka selesai sarapan, Raja dari Halida tersebut kemudian membantu istrinya untuk membereskan meja dan mencuci piring. Setelah semua pekerjaan sudah tuntas, mereka lalu berjalan keluar dan berdiri di depan pintu.


Keira lantas menutup dan mengunci pintunya. Higarashi mengangkat tangan kanannya dan Star Baton berwarna merah langsung muncul di atas telapak tangannya. Ia kemudian merain Star Baton itu, menggenggamnya, lalu mengayunkannya ke depan.


Debu-debu halus yang berwarna merah tiba-tiba keluar dari bagian atas Star Baton itu, kemudian melayang di hadapan Higarashi dan berubah menjadi sebuah pintu. Higarashi lalu menoleh ke arah Keira dan tersenyum kepada istrinya tersebut.


“Kita akan berkeliling dengan terowongan ajaib ini, dan melihat pemandangan kota dari atas, dengan begini, kita bisa berjalan jauh hingga ke pojok kota,” ucapnya.


Keira mengangguk sekali sambil tersenyum, dan setelah Star Baton milik Higarashi menghilang, ia kemudian membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya, diikuti oleh Permaisuri dari Halida itu. Mereka kini melayang-layang di dalam sebuah terowongan ajaib yang tidak terlihat oleh manusia, dan pintu tadi langsung menghilang dengan cepat.


“Perlahan saja, bagaimana?” tanya Higarashi.


“Baiklah,” jawab Keira.


Terowongan ajaib itu kemudian membawa mereka melewati beberapa pemandangan yang indah seperti rumah, jalan, halte bus, dan banyak pepohonan, yang jauh dari rumah, hingga akhirnya mereka tiba atas sebuah taman hiburan.


“Keira! Lihat! Sebuah taman hiburan di sana!” seru Higarashi sambil menunjuk ke arah taman hiburan tersebut.

__ADS_1


Keira langsung menoleh ke sana, lalu tersenyum lebar dan membalas, "Aku baru tahu ada taman hiburan yang buka pagi-pagi sekali!"


“Musim panas sudah tiba, bukan? Taman hiburan itu pasti akan buka di sepanjang musim ini! Ah, bagaimana jika kita ke sana?” tanya Higarashi sambil menatap Keira dengan wajah yang ceria.


Keira mengangguk. Terowongan ajaib itu kemudian membawa mereka lebih rendah, dan mendaratkan keduanya di balik sebuah pohon besar yang tidak terlalu diperhatikan oleh orang di sekitarnya.


Setelah terowongan ajaib tadi menghilang, mereka lalu berjalan masuk ke dalam taman hiburan tersebut dan mulai mengunjungi beberapa kios permainan. Walaupun Keira sebenarnya merasakan mual untuk beberapa kali, namun, ia ternyata sangat pintar untuk menutupi kehamilannya.


“Ke sana!” seru Keira sambil menunjuk ke sebuah kios permainan lainnya.


Ia tampak senang, bahkan menikmati taman hiburan itu, sampai hari mulai siang dan Keira kini merasa lelah karena banyak permainan yang sudah mereka mainkan sejak tadi.


“Higarashi, bisakah kita duduk sebentar?” tanya Keira sambil berjalan menjauhi kios permainan sebelumnya, dengan menggandeng lengan suaminya itu.


“Ah, baiklah,” ucap Higarashi, lalu, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, dan menemukan sebuah tempat duduk panjang yang terletak di bawah satu pohon besar di pojok taman hiburan tersebut.


Keira mengangguk. Higarashi lalu berlari meninggalkannya untuk mencari makanan dan minuman terlebih dahulu. Keira kemudian berjalan sendiri menuju ke bangku taman yang baru saja ditunjuk oleh suaminya tadi.


Ia langsung duduk di atas bangku tersebut, sambil menikmati indahnya pemandangan taman hiburan itu dan menunggu suaminya untuk kembali.


“Ah, sungguh menyenangkan, musim panas pertama dalam hidupku, aku bisa bermain seperti ini,” gumamnya pelan.


Namun tiba-tiba seorang wanita dengan rambut dan bola mata hitam yang memakai baju terusan berwarna sama, muncul dan duduk di sebelahnya dengan jarak yang dekat, lalu berucap, “Keira.”


Keira lalu menoleh ke samping, dan langsung memperhatikan perut buncit wanita itu. Ia kemudian menatap wajah wanita tersebut tanpa mencurigainya sama sekali.


“Keira,” ujar wanita itu, lalu, ia menoleh ke arah Keira dan menatapnya balik dengan wajah yang sangat serius.


Tiba-tiba, Keira teringat akan sesuatu. Ia lantas melotot dengan wajah yang tampak terkejut.

__ADS_1


"Kau adalah perempuan yang bersama dengan Higarashi di belakang gedung sekolah pada waktu itu, bukan?" tanya Keira.


"Demira. Namaku Demira," jawab perempuan itu, Demira, sambil tersenyum kecil.


“Ah,” desah Keira, kemudian ia menatap lagi perut buncit Demira sebentar, dan kembali menoleh ke arah perempuan itu.


Demira tersenyum sinis kali ini, lalu berkata, “Ini bukanlah anak dari Higarashi, jadi, kau bisa bernafas lega, Keira.”


Permaisuri dari Halida itu melotot, lalu bertanya, "Bukankah kau waktu itu meminta Higarashi untuk bertanggung jawab?"


"Ya, memang. Namun, itu semua karena aku sedang menjalankan perintah dari ayah anak ini," jawab Demira sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat besar itu.


Keira langsung terkejut mendengar jawaban itu.


"Maksudmu?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


"Higarashi tidak seharusnya masuk ke dalam hidupmu. Rajaku sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan menemuimu di sini, maka itu, Yang Mulia Raja memerintahkanku untuk menggodanya, menjauhkan dirinya darimu," jawab Demira dengan nada pelan.


"Raja?” tanya Keira lagi.


"Aku adalah seorang Silverian, Keira,” balas Demira dengan senyum kecil.


Keira semakin terkejut setelah mendengarkan ucapan tersebut, lalu ia berujar, “Jika kau adalah seorang Silverian, itu berarti, rajamu adalah …," ucap Keira, namun, Demira langsung memotongnya dengan berkata, "Aerim."


Keira menggelengkan kepalanya sekali, lalu menatap Demira dengan wajah yang tampak serius.


"Aerim? Apakah maksudmu, Aerim sudah mengikutiku selama ini?" tanyanya.


"Keira, ia sudah mengikutimu bahkan sejak kau masih berada di kota kecil itu. Namun, ia tidak memiliki keberanian dan kekuatan untuk berhadapan dengan dirimu langsung pada waktu itu, jadi, ia berpikir untuk membunuh semua orang yang dekat denganmu," jawab Demira lagi.

__ADS_1


__ADS_2