
Sementara itu di dalam toko minuman, Keira yang sedang merapikan meja dan kursi karena tahu bahwa bibinya, Trea, akan segera tiba, mendadak dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari depan.
Ia langsung menatap pintu dengan mata yang melotot sambil berseru, “Tunggu sebentar!”
Dengan terburu-buru, Keira berjalan ke arah pintu dan membukanya. Senyum di wajahnya langsung muncul begitu ia melihat siapa yang baru saja datang untuk menemuinya. Seorang wanita dengan rambut berwarna coklat dan bola mata yang berwarna hitam, memakai baju lengan pendek berwarna putih dan celana panjang hitam, yakni Trea, bibi angkatnya yang baru saja tiba.
“Keira!” seru Trea dengan senyum lebar kepada gadis kecil itu.
“Bibi Trea!” balas Keira.
Ia langsung memeluk lutut Trea dengan erat, begitu juga dengan Trea, yang langsung menggendong keponakannya itu.
"Keira! Mengapa kau sendirian saja di sini?" tanya Trea dengan senyum lebar.
"Bibi! Ayah dan ibu sedang berada di perkebunan bunga krisan, dan mereka memintaku untuk menunggu kedatanganmu di sini, sendirian … namun karena Bibi sudah datang, bagaimana jika kita bermain terlebih dahulu? Aku merindukanmu, Bibi!" jawab Keira dengan wajah yang sangat gembira.
“Tentu saja!” balas Trea.
Ia hendak masuk ke dalam toko minuman sambil menggendong Keira, namun, tiba-tiba saja seorang wanita dari kejauhan berteriak dengan terengah-engah, "Keira!"
Trea dan Keira langsung menoleh ke arah wanita itu, dan dengan nafas yang tersengal-sengal, wanita tersebut kemudian berhenti berlari dan berdiri di samping Trea, sambil menatap mereka berdua dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Keira! Ayah dan ibumu! Mereka … mereka …," ucap wanita itu, namun, mendadak ia justru langsung merasa kasihan kepada Keira begitu ia melihat wajah gadis kecil tersebut.
“Ada apa, Nyonya?” tanya Trea dengan rasa penasaran.
__ADS_1
Wanita itu masih terus menatap Keira, sehingga gadis kecil itu sendiri yang kemudian berkata, “Nyonya, anda adalah pemilik toko kue yang berada tepat di depan perkebunan bunga krisan milik orang tua angkatku. Aku selalu memperhatikanmu ketika aku sedang berada di sana.”
Wanita itu mulai menitikkan air mata. Ia kemudian menghela nafas pendek dan memberanikan dirinya sendiri untuk berkata yang sejujurnya.
“Aku menemukan tubuh Eleina dan Dairu sudah tergeletak di atas tanah, di dalam perkebunan itu, dan mereka … mereka … tampaknya sudah tewas,” ucap wanita tersebut dengan bibir yang gemetar.
Seolah disambar petir, Trea dan Keira langsung melotot tajam kepada wanita itu. Tubuh mereka bahkan mulai gemetaran setelah mendengarkan kabar buruk tersebut.
“Tidak mungkin. Ayah dan ibu … mereka baik-baik saja ketika pergi,” ucap Keira dengan wajah yang terlihat panik.
“Aku tidak ingin berspekulasi, namun, aku merasa mereka berdua sudah dibunuh oleh seseorang, dilihat dari luka tusuknya…,” balas wanita itu.
Tiba-tiba, Trea berlari dengan cepat menuju ke perkebunan bunga krisan milik Eleina dan Dairu, sambil menggendong Keira, dengan wajah yang terlihat sangat panik.
Sesampainya mereka di sana, rupanya perkebunan bunga krisan itu sudah ramai oleh orang-orang yang berkumpul dengan rasa penasaran. Melihat Trea dan Keira yang baru saja tiba, orang-orang yang tadinya berkerumun, kemudian memberikan jalan kepada keduanya.
Trea langsung berjalan dengan cepat, masuk ke dalam perkebunan tersebut dengan Keira yang masih berada di dalam gendongannya. Ia berhenti melangkah begitu ia melihat tubuh Eleina dan Dairu yang sudah berlumuran darah, telah terbujur kaku di atas tanah.
Air matanya langsung jatuh mengalir membasahi wajahnya. Kedua tangannya bergetar. Tubuhnya langsung terasa lemas hingga ia kemudian berlutut di hadapan jasad keduanya, dan melepaskan Keira dan gendongannya.
Gadis kecil itu mendadak terdiam. Kedua matanya melotot tajam ke arah jasad orang tua angkatnya itu. Ia mulai menangis, dan Trea langsung memeluknya, agar ia tidak berteriak dan tetap tenang.
"Ayah … Ibu!!!" teriaknya, diikuti tangis yang hebat.
“Keira, Keira, tenanglah, Nak. Tenang, tenang,” bisik Trea yang juga menangis bersama dengan gadis kecil itu sambil memeluknya erat.
__ADS_1
Sambil masih berusaha menenangkan Keira, Trea lalu menoleh ke belakang dan bertanya, "Apa yang sudah terjadi sebenarnya di sini?”
Seorang wanita langsung menjawab, "Kami tidak tahu kejadiannya seperti apa karena hari sudah mulai gelap dan jam malam sudah diberlakukan. Orang-orang bahkan sudah berada di dalam rumahnya masing-masing, namun, kami curiga bahwa ada bandit yang mulai beraksi lagi di sekitar sini, padahal sudah lama sekali sejak mereka semua diusir dari kota kecil ini!”
"Namun kakakku sama sekali tidak membawa barang berharga, lantas apa yang dicuri oleh bandit-bandit itu? Lihatlah, ia hanya membawa sebuah keranjang!" seru Trea.
Orang-orang yang berada di sekitar sana, mulai kembali riuh. Mereka juga mempertanyakan hal yang sama yang baru saja diucapkan oleh Trea.
"Ah, kemungkinan karena tidak berhasil menemukan barang berharga, maka para bandit itu membunuh mereka, mungkin ingin menghilangkan jejak," jawab seorang pria.
Suasana mulai kembali tegang. Semua orang bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada Eleinadan Dairu, namun, justru mereka semua mulai berspekulasi yang tidak-tidak, dan hal ini membuat Keira semakin menangis dengan kencang. Trea yang kini merasa tidak nyaman dengan pemikiran-pemikiran dari semua orang itu, pada akhirnya memutuskan sesuatu.
Trea kemudian menoleh lagi ke arah jasad Eleinadan Dairu sambil menatap tubuh keduanya dengan wajah yang sendu.
"Aku akan mengurus pemakaman mereka hari ini juga," ujarnya, sambil masih berusaha untuk menenangkan Keira.
Keesokan paginya, beberapa orang datang ke sebuah area pemakaman yang berada di pinggiran kota kecil tersebut. Jasad Eleina dan Dairu masing-masing sudah ditempatkan di dalam peti, dan siap untuk dikuburkan di sana. Trea dan Keira yang memakai pakaian berwarna putih, sejak dari semalam memang sudah mengikuti seluruh proses melelahkan ini.
Trea bahkan berkali-kali harus menenangkan gadis kecil yang masih berusia enam tahun itu, karena selalu menangis dengan kencang. Satu hari itu dihabiskan hanya untuk prosesi pemakaman mendiang Eleina dan Dairu. Melelahkan memang, bagi mereka berdua, khususnya Keira yang bahkan hampir tidak mau makan walaupun sudah dibujuk berkali-kali.
Ketika seluruh proses pemakaman sudah selesai dan orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan area pemakaman, Trea kemudian mengajak Keira untuk kembali ke toko minuman milik mendiang pasangan suami istri tersebut untuk beristirahat.
Setelah mereka berdua sudah membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka seperti semula, Trea lalu memasak beberapa jenis makanan untuk sekadar mengganjal perut mereka. Ia kemudian mengajak Keira untuk makan bersama dengannya di ruang makan, sambil terus membujuk gadis kecil itu agar ia mau makan walaupun sedikit, namun, Keira masih terus menangis. Akhirnya Trea memeluk gadis kecil itu dan membelai kepalanya dengan lembut.
Ia kemudian membantu Keira untuk duduk di atas sebuah kursi, lalu ia menarik sebuah kursi lainnya dan duduk di atasnya, di samping gadis kecil tersebut.
__ADS_1