
Raja dari Halida itu kemudian meraih dan menggenggam Starlet tersebut dengan tangan kanannya yang gemetaran. Xyon yang sedang berdiri di sampingnya hanya bisa menunjukkan rasa kecewa.
"Keira tadi berada di hadapanku dan memelukku dengan erat, kemudian ledakan energi kosmik itu …," ucap Aerim, namun Xyon langsung memotongnya dengan berkata, "Planet ini sudah kembali seperti semula. Aku harap kau tidak lagi mencari-cari Keira hanya demi membalaskan dendammu kepadaku. Ia sudah menyerahkan dirinya sendiri untuk Planet Silverian, bukan? Kalau begitu, jagalah kedamaian galaksi ini dan untuk dirimu sendiri, Aerim."
Setelah menghela nafas panjang, Xyon kemudian menoleh ke arah Higarashi dan berucap lagi, "Planet Palladina akan berduka selama empat puluh hari, Higarashi. Aku harap kau tidak jatuh ke dalam kesedihan yang terus menerus. Keira juga tidak akan menginginkan hal itu."
Ia lalu berjalan menjauhi Aerim dan Higarashi dan mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil, yang melesat ke atas langit dengan cepat, menembus keluar dari planet tersebut. Setelah itu, Higarashi memasukkan Starlet milik Keira ke dalam saku celananya, kemudian menatap Aerim dengan wajah yang sendu.
"Keira tidak membunuhmu, ia juga tidak menghancurkan planetmu. Namun kau yang sudah menghancurkan dirinya, Aerim. Kau dan ayahmu, beserta planet ini, sudah menghancurkan dirinya!" ucap Higarashi dengan nada tinggi.
Dengan wajah yang kecewa dan air mata yang kini membasahi wajahnya, Higarashi lantas berubah menjadi sebuah bintang kecil, lalu dengan sangat cepat, ia melesat ke luar angkasa. Aerim kini sendiri dalam kesedihan. Ia kemudian berlutut sambil menangis dan menundukkan kepalanya.
“Seharusnya … aku yang tewas, Keira! Kau seharusnya membunuhku!” teriaknya dengan wajah yang memerah.
Ia tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan begitu sebuah pedang kosmik berwarna abu-abu muncul di dalam genggamannya, Aerim langsung mengarahkan ujung benda tajam itu di depan dadanya. Ia hendak bunuh diri, namun, ia langsung melotot, terkejut begitu melihat pedang kosmik miliknya tersebut.
"Tidak mungkin. Pedang ini seharusnya berwarna hitam," gumam Aerim sambil mengernyitkan dahinya.
Ia lantas menurungkan pedang kosmik tersebut dan memegangnya dengan kedua tangan, lalu memperhatikannya baik-baik. Setelah beberapa saat, ia mendadak tersadar akan sesuatu.
"Ini bukan energi gelap! Tidak mungkin Keira menggunakan energi cahayanya untuk membuat perubahan besar kepada planet ini dan mengubah energi kosmik di dalam intinya! Ini adalah energi gravitasi, yang tersisa setelah energi gelap menghilang seluruhnya! Keira, apa yang telah kau lakukan kepada energi gelap itu? Misteri apa yang sebenarnya ada di dalam dirimu?!" gumamnya dengan wajah yang tampak kebingungan.
Di dalam Planet Halida suasana duka kini sangat terasa, Higarashi terlihat sedang berjalan di salah satu lorong istana bersama dengan Leino dan beberapa orang pelayan pria, dengan wajah yang sendu sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Aku ingin seluruh pengawal dan pelayan untuk menutup pintu istana selama empat puluh hari. Istana ini juga tidak akan menerima tamu tanpa terkecuali, ataupun surat, dalam bentuk apapun, dan dari siapa pun juga!” serunya.
“Baiklah, Yang Mulia,” balas Leino.
Higarashi kemudian tiba di depan kamar pribadinya, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam tanpa diikuti oleh seorang pun. Ia lantas mengunci pintu, karena hanya ingin berada di dalam kamar sambil menahan kesedihan yang luar biasa. Ia tiba-tiba berlutut, sambil memeluk kedua lututnya dan menangis dalam diam.
Sementara itu, di dalam istana kerajaan Palladina, Weim, Arex, dan Nordian terlihat sedang duduk di atas sebuah sofa yang terletak di samping ruang kerja pribadi milik Xyon. Kesedihan mendalam dengan jelas tampak di wajah-wajah mereka.
"Xyon, apakah kau yakin Keira sudah … tidak ada?" tanya Arex dengan nada pelan.
Xyon terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali, dan hanya duduk di atas kursi yang terletak di balik meja kerjanya, dengan tatapan kosong.
"Xyon, kita harus menanyakan hal ini kepada Aerim. Keira adalah makhluk mortal, bukan? Ia tidak mungkin tewas dan berubah menjadi debu, seperti kita semua, makhluk-makhluk immortal. Pasti ada petunjuk tentang di mana Keira sekarang berada," ucap Weim dengan wajah yang gusar.
Lagi-lagi Xyon tidak menjawab.
Namun wajah Nordian terlihat gusar. Ia tiba-tiba melotot tajam ke arah Xyon karena baru saja teringat akan sesuatu.
"Perempuan Silverian itu, Xyon," ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi.
Perdana Menteri dari Palladina tersebut langsung menatap Nordian dengan wajah yang serius.
“Aku baru ingat tentang dirinya, ada apa, Nordian?” tanya Xyon.
__ADS_1
"Seorang perawat berkata kepadaku bahwa ia melihat dengan kedua matanya sendiri, ada seorang pria Silverian yang menyamar menjadi salah satu dari pelayan istana ini dan membunuh perempuan itu. Apakah pria Silverian tersebut adalah Aerim, Xyon?" tanya Nordian dengan wajah serius.
“Apakah maksudmu, Aerim sudah membunuh kekasihnya sendiri yang baru saja melahirkan dengan cara mortal? Anak itu adalah darah dagingnya sendiri, lantas, mengapa ia harus menghabisi nyawa ibunya?” tanya Weim kepada sambil mengernyitkan dahinya.
“Kejadian yang sama terulang kembali. Flerix pada waktu itu juga membunuh Ryena dan membawa Aerim bersama dengannya. Namun tidak kali ini. Di mana bayi itu sekarang, Nordian?” tanya Xyon dengan wajah yang gusar.
Nordian menghela nafas pendek, kemudian menjawab, “Ia ada di ruangan rahasia bersama dengan salah seorang perawat perempuan lainnya.”
Tiba-tiba, seorang pengawal membuka pintu ruangan itu dengan kasar, lalu berlutut di hadapan Xyon dengan wajah yang tampak panik hingga mereka melotot ke arahnya.
“Ada apa dengan kegaduhan ini?!” seru Xyon sambil mengernyitkan dahinya.
"Perdana Menteri! Seorang pria Silverian ingin bertemu denganmu, dan ia sudah berada di halaman depan istana!” jawab pengawal tersebut dengan bibir yang gemetar.
"Pria Silverian?!" gumam Xyon, kemudian dengan tergesa-gesa, ia berdiri, lalu berlari menuju ke halaman depan istana, diikuti oleh ketiga jenderal seniornya yang lain dan pengawal tersebut.
Begitu tiba di halaman depan istana, mereka lalu menghentikan langkah begitu melihat seorang pria yang sangat mereka kenal dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Aerim," ucap Xyon dengan wajah yang serius.
"Xyon," balas Aerim.
Ia kemudian berjalan mendekati Xyon, namun, seluruh pengawal istana yang berada di sana, langsung berlari dan mengelilinginya, sambil mengarahkan senjata kosmik mereka di hadapannya. Aerim lalu menghentikan langkahnya begitu ia melihat hal tersebut.
__ADS_1
Xyon justru memberikan isyarat dengan mengangkat tangan kanannya sambil berseru, “Biarkan pria Silverian itu.”
Pengawal-pengawal istana tersebut kemudian berjalan mundur dan menjauhi Aerim. Kali ini, Xyon melangkah mendekati pria muda itu diikuti oleh ketiga jenderal seniornya di belakang, lalu ia berdiri di hadapan Aerim dan menatapnya dengan wajah yang datar.