
Setelah mereka masuk ke dalam dan berhenti di depan sebuah kamar, seorang wanita tua dengan baju terusan berwarna putih, berambut hitam serta bola mata coklat, lantas berjalan mendekati ketiganya dan berdiri di hadapan Arnea.
"Anak Muda, apa ada yang bisa kubantu?" tanya wanita tua itu.
"Ah, kami kebetulan sedang mencari penginapan di sekitar sini, dan kebetulan saja tertarik dengan suasana gedung ini," jawab Arnea.
"Begitu rupanya. Namun kami hanya memiliki dua kamar yang tersisa, dan kalian bertiga," jawab wanita tersebut.
"Nyonya, aku dan istriku akan menyewa sebuah kamar, sementara temanku yang satu ini akan tinggal di kamar yang berbeda," balas Arnea dengan senyum kecil.
Wanita tua itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya sekali, kemudian berkata, "Baiklah. Namun dua kamar yang tersisa, letaknya agak berjauhan. Kalian bisa memilih, kamar yang berada di tengah atau di bagian pojok lorong ini.”
Ia lalu menunjuk ke arah sebuah kamar yang letaknya di tengah lorong, setelah itu, ia menunjuk lagi ke sebuah kamar yang berada di paling pojok lorong gedung penginapan itu.
"Aku akan memilih bagian tengah, agar kalian bisa sedikit bersantai," bisik Xyon kepada Arnea.
"Ah! Nyonya, aku dan istriku akan tinggal di kamar yang berada di pojok, sementara temanku ini memilih kamar yang berada di tengah-tengah," ucap Arnea dengan wajah yang gembira.
Wanita tua itu kemudian mengangguk sekali dan membalas, "Baiklah, anak muda.”
Ia lalu mengambil satu buah kunci dari dalam saku baju sebelah kanan, dan menyerahkannya kepada Arnea.
"Pembayarannya nanti saja setelah kalian memutuskan untuk keluar,” ucap wanita tua itu lagi.
"Terima kasih, Nyonya!" seru Arnea yang langsung mengambil kunci tersebut.
__ADS_1
Wanita pemilik penginapan tersebut kemudian merogoh kembali saku bajunya dan mengambil satu buah kunci lainnya, lalu menyerahkannya kepada Xyon. Pria muda itu lantas mengambilnya dengan cepat.
"Jika ada yang bisa kubantu lagi, bilang saja, Anak Muda. Kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu," ucap wanita tua itu, dan ia berjalan keluar dari gedung penginapan tersebut setelahnya.
Arnea langsung menatap Xyon sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berkata, "Baiklah, Xyon, kalau begitu, aku dan Klara akan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.”
"Silakan, Yang Mulia. Jika anda membutuhkan diriku, langsung saja ketuk pintu kamarku," balas Xyon, masih tanpa ekspresi di wajahnya.
Arnea mengangguk. Ia menggandeng tangan istrinya dan berjalan menuju ke kamar yang berada di pojok lorong gedung penginapan tersebut, meninggalkan Xyon sendirian. Begitu ia memastikan bahwa Arnea serta Klara sudah masuk, Xyon kemudian melangkah ke kamarnya, lalu berdiri di depan pintunya.
Ia lantas memasukkan kunci kamar miliknya ke dalam lubang kunci, namun entah mengapa, sepertinya kunci tersebut macet. Xyon sudah berusaha berkali-kali untuk memutar benda itu, dan sayangnya, ia selalu gagal.
"Astaga. Menyebalkan sekali," gumamnya pelan, sambil berusaha untuk mendobrak pintu kamar tersebut berkali-kali dan memutar-mutar kuncinya.
Karena pintu kamar itu tidak kunjung terbuka, Xyon akhirnya menendang pintu tersebut dengan keras dan wajah yang kesal.
"Astaga, sungguh menyebalkan! Wanita tua itu sudah pergi, dan aku harus menunggunya di sini! Ah!" serunya, lalu ia menggeleng-gelengkan kepala dua kali setelah menendang lagi pintu tersebut dengan kasar, namun tetap saja, masih tidak terbuka juga.
Mereka kini saling menatap satu sama lain. Wajah Xyon langsung memerah setelah melihat tatapan hangat dari gadis itu.
“Apakah kau … adalah penghuni kamar ini?” tanya gadis tersebut sambil menunjuk ke kamar milik Xyon.
Pria muda itu langsung menyadari kesalahannya.
"Astaga, Nona, maafkan aku!" ucap Xyon sambil membungkukkan badan di hadapan gadis tersebut.
"Suara tendangan yang cukup kencang. Apakah kau adalah penghuni baru di sini?" tanya gadis itu.
Xyon langsung berdiri tegak, lalu menatap gadis tersebut dengan wajah yang memerah, kemudian menjawab, "Ah, iya. Aku akan tinggal di sini untuk beberapa waktu, dan baru saja mendapatkan kunci kamar ini, namun sepertinya lubang pintu itu macet dan aku tidak bisa membukanya. Maafkan aku, Nona. Sebaiknya aku menunggu nyonya pemilik penginapan ini terlebih dahulu.”
__ADS_1
Gadis itu tersenyum mendengar jawaban Xyon dan melihat kepanikannya. Senyuman hangatnya justru membuat wajah Xyon semakin memerah.
"Bolehkah aku mencobanya?" tanya gadis tersebut.
"Oh, iya, baiklah, tentu saja, Nona. Silakan," jawab Xyon, kemudian menyerahkan kunci kamar tadi kepada gadis itu, yang langsung diambilnya dengan tangan kanan.
Ia kemudian mundur satu langkah, dan membiarkan gadis tersebut untuk mencobanya sendiri. Dengan cepat, gadis itu memasukkan kunci ke lubang pintu, dan memutarnya perlahan.
"Tidak semua hal harus dilakukan dengan kasar," ucap gadis tersebut, "Ada saatnya di mana kau harus bersabar dan melakukannya perlahan, agar tujuanmu tercapai. Tidak semua yang terburu-buru itu baik.”
Dan tiba-tiba saja, pintu kamar tersebut terbuka. Gadis itu kemudian menarik kembali kunci kamar tadi, lalu menatap ke arah Xyon sambil menyerahkannya kembali.
"Tidak semua orang bisa menerima sikapmu yang kasar itu, yang mungkin bisa saja menyakiti hati mereka. Bersikaplah sedikit lembut, dan kau akan dengan mudah berteman dengan siapa pun," ujarnya, lalu ia melangkah menuju ke kamarnya sendiri.
Xyon lantas membalas, "Nona, terima kasih sekali!"
Gadis itu menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum, lalu berkata, "Jangan lagi kau menendang pintu kamar itu. Nyonya pemilik gedung ini akan sangat marah dan kau bisa diminta untuk membayar kerusakannya."
Ia hendak kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya, namun, Xyon berseru lagi, "Nona, tunggu!”
Gadis itu sekali lagi berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, kemudian bertanya, "Apa ada yang bisa kubantu lagi?"
"Uh, maafkan aku, tapi apakah aku boleh tahu namamu? Kau sudah membantuku, dan aku harus membalasnya," jawab Xyon dengan wajah yang serius.
Gadis tersebut langsung tersenyum lebar, lalu membalas, “Membalasnya? Ah, kau seperti seorang jenderal saja. Aku hanya membukakan pintu itu untukmu. Baiklah, kau bisa memanggilku Hyerin. Jika kau memang ingin membalas kebaikanku, cukup dengan tidak lagi membuat kegaduhan di dalam gedung penginapan ini.”
"Xyon. Namaku Xyon, salam kenal, Nona! Ah, baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Terima kasih sudah membantuku," balas pria muda itu dengan wajah yang gembira.
"Baiklah, kalau begitu, Xyon," ucap Hyerin, kemudian ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
__ADS_1
Xyon masih berdiri terpaku, setelah bertemu dengan gadis bernama Hyerin tersebut.
“Entah mengapa jantungku berdedetak sangat cepat, namun bukan karena aku sedang kesal,” gumamnya pelan.