Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Tertutupnya Planet Halida


__ADS_3

Mereka semua terdiam setelah mendengarkan jawaban itu.


"Keira, hidupmu benar-benar … kacau, bukan?" tanya Aerim dengan wajah sendu.


Keira langsung menoleh ke arah Raja dari Silverian itu, lalu menatapnya dengan air mata yang tiba-tiba mengalir membasahi wajahnya.


“Aku tidak memberikan seluruh energi antimateri yang kumiliki ke dalam inti planetmu, dan yang bisa kulakukan hanyalah memindahkan Planet Silverian di urutan ketiga, seperti sebelumnya, serta mengganti energi kosmik yang kalian gunakan, menjadi energi gravitasi. Maafkan aku yang tidak bisa mengembalikan bulan-bulan milik kalian …,” ucapnya pelan.


Aerim menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum kecil dan berkata, “Fokuslah kepada janin yang ada di dalam kandunganmu mulai dari sekarang, Keira. Aku … sudah baik-baik saja, dan sangat berterima kasih atas pengorbananmu kepada planet kami. Aku minta maaf sudah hampir saja membunuhmu.”


Mereka terdiam dengan wajah yang tampak sendu, namun, setelah beberapa saat, Aerim tiba-tiba berseru, Aku…  akan memberitahukan kepada Higarashi tentang hal ini! Ia harus mengetahui bahwa Keira masih hidup, bahkan sedang mengandung darah dagingnya!”


Ia hendak berlari keluar, namun, Xyon langsung mencengkram lengannya erat-erat dan menatapnya dengan wajah yang serius.


"Ia sudah menutup istananya dan sama sekali tidak ingin menerima tamu ataupun surat dari siapapun. Lalu bagaimana caranya dirimu untuk memberitahukan hal ini kepadanya, Aerim?" tanya Perdana Menteri dari Palladina itu.


"Aku akan berusaha untuk memaksanya keluar dari istana dan bertemu denganku!" seru Aerim sambil menngeryitkan dahinya.


Ia lantas melepaskan cengkraman tangan Xyon dengan kasar, lalu berlari keluar dari Light Chamber, dan begitu tiba di luar, ia langsung mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil yang kemudian melesat ke luar angkasa.


“Benar-benar keras kepala!” seru Xyon dengan wajah yang tampak panik.


Sayangnya, begitu Aerim menembus atmosfer Planet Halida dan hendak mendarat di halaman depan istana, tubuhnya mendadak terbentur benda keras. Karena hal itu, ia lantas mengubah fisiknya kembali seperti semula, lalu melayang dan memperhatikan istana tersebut dengan wajah yang kesal.


"Astaga, Higarashi! Apa yang sedang kau lakukan? Menutup seluruh istana ini dengan sebuah kubah raksasa yang berwarna merah?! Higarashi!!" serunya sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Ia kemudian memutuskan untuk mendarat di samping istana itu dan berusaha untuk menembus kubah tersebut dengan tubuhnya, namun, setelah beberapa kali mencoba, ia sama sekali tidak sekali pun berhasil masuk ke dalamnya.


“Kubah ini keras sekali, astaga! Ia benar-benar raja yang bodoh, bukan?! Aduh!” serunya lagi sambil menggaruk kepalanya dua kali.


Tiba-tiba dari atas langit, dua buah bintang kecil terlihat sedang melesat ke bawah, lalu mendarat di sampingnya dan berubah menjadi dua orang pria yang baru saja ditemuinya di dalam Planet Palladina. Ia hanya menatap kedua orang itu dengan wajah yang datar.


“Ah, Arex dan Weim,” ucapnya dengan nada kesal.


“Kami langsung berbelok begitu melihat dirimu di sini, Aerim. Apa yang terjadi dengan istana ini?” tanya salah satu pria itu, Arex, dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.


“Raja bodoh itu … justru menutup dirinya sendiri dengan membuat kubah merah raksasa ini!” seru Aerim sambil menendang kubah tersebut dengan kaki kanannya sebanyak dua kali.


“Menutup diri? Benar juga, aku tidak melihat seorang pun Halida yang berada di sekitar sini,” balas satu pria lainnya, Weim.


Aerim menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya dua kali, kemudian kembali menatap lurus ke depan dan berkata, “Bagaimana jika kita tusuk saja kubah konyol ini dengan … pedang kosmik?”


“Astaga!! Lalu apa yang harus kita lakukan? Berdiam diri di sini sambil menunggu raja bodoh itu membuka kubahnya?!” seru Aerim, kali ini dengan nada tinggi.


Mereka terdiam sesaat, lalu setelah itu, Weim kemudian berkata kepada Aerim, “Ia sedang berduka, berpikir bahwa Keira sudah tiada. Sebaiknya kita kembali ke Planet Palladina, lalu laporkan hal ini kepada Xyon.”


Aerim hanya bisa menghela nafas panjang, lalu sekali lagi, ia menendang kubah keras tersebut dengan kaki kanannya, sekali.


“Sudahlah! Dasar raja bodoh!” teriaknya dengan wajah yang memerah.


Mereka kemudian berubah menjadi tiga buah bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa, dan begitu ketiganya berhasil menembus Planet Palladina dan mendarat di halaman belakang istana, mereka lantas mengubah fisiknya menjadi seperti semula, lalu berlari menuju ke Light Chamber yang terletak di samping istana, tidak terlalu jauh dari sana.

__ADS_1


Aerim membuka pintu ruangan itu dengan kasar, kemudian masuk ke dalam bersama dengan Arex dan Weim, hingga membuat Xyon dan Keira terkejut, lalu menoleh ke arah mereka.


“Mengapa kalian kembali cepat sekali?” tanya Xyon sambil masih duduk di atas sebuah kursi, di samping ranjang di mana Keira sedang berbaring.


Mereka lantas berdiri di hadapan Perdana Menteri dari Palladina itu, lalu Aerim menjawab, “Raja bodoh itu membuat sebuah kubah pelindung raksasa yang mengelilingi seluruh istananya, dan kami tidak bisa menembus benda konyol itu untuk menemuinya!”


“Aku rasa, Higarashi sedang bersedih dan tidak ingin ditemui oleh siapa pun, Xyon. Ia menutup istananya, bahkan suasana di sekitarnya terlalu sepi,” ujar Weim.


Xyon menghela nafas panjang. Wajah Keira langsung berubah sendu begitu ia mendengar laporan tersebut.


“Kita tidak bisa memaksanya, Paman,” ucap Keira pelan.


“Astaga, aku akan memberitahukan hal ini kepada Nordian nanti karena ia sedang berpatroli. baiklah, begini saja. Aku melarangmu untuk pergi ke mana pun, termasuk Planet Bumi, hingga waktunya kau untuk melahirkan tiba, karena yang ada di dalam kandunganmu adalah anak dari seorang Raja, tentu saja kau adalah tanggung jawabku selama kau berada di sini,” balas Xyon dengan wajah yang serius.


“Kami akan bergantian menjaga dirimu, Keira,” ujar Arex.


“Aku akan kembali lagi ke sana, sampai raja bodoh itu menerima kehadiranku!” seru Aerim sambil mengernyitkan dahinya.


Perempuan Crossbreed itu mengangguk sekali, kemudian berkata, “Terima kasih, Aerim, Paman.”


Mulai hari itu juga, Xyon, Arex, Weim, dan Nordian yang sudah diberitahukan hal ini setelah ia kembali, secara bergantian datang ke Planet Halida dan berusaha untuk bertemu dengan pengawal, ataupun pelayan istana itu, hanya untuk memberitahukan kepada Higarashi tentang Keira.


Sementara Aerim sekarang memiliki kesibukan baru di dalam Planet Silverian, yakni membantu rakyatnya, untuk membangun kembali rumah-rumah mereka. Namun, setiap hari, ia akan meluangkan waktu untuk datang ke Planet Palladina dan bertemu dengan anaknya, Reix, lalu ia akan melakukan hal yang sama seperti keempat pria tadi.


Sayangnya, mereka selalu gagal, karena istana kerajaan Halida tertutup kubah raksasa.

__ADS_1


“Mau sampai kapan raja bodoh itu akan menutup istananya? Astaga, ini sudah hampir tiga puluh hari!” seru Aerim dengan wajah yang tampak kesal, ketika ia sedang menjenguk Keira di dalam kamar Permaisuri dari Halida itu, bersama dengan Arex dan Nordian.


__ADS_2