
Higarashi kemudian berlutut dan membalas, "Yang Mulia Ratu Anexta, aku akan berjanji kepadamu untuk membahagiakan Keira."
Anexta kemudian mengangkat kedua tangannya.
Seberkas sinar yang sangat terang muncul dari dalam kedua telapak tangannya, kemudian ia berseru, "Nah, sekaranglah waktunya, Nak!"
Lalu ia memasukkan cahaya itu ke dalam tubuh Higarashi, dan setelah beberapa saat, pria muda tersebut akhirnya membuka kedua matanya dan kembali tersadar dari mimpi tadi. Ia lalu melihat Keira yang sedang berlutut dan menangis, sementara Arex sedang memeluk tubuh gadis itu dengan erat, dan Xyon yang masih duduk sambil melihatnya dengan wajah yang datar.
"Bagaimana, Pangeran Mahkota?" tanya Xyon.
Higarashi kemudian bangkit, lalu duduk di atas lantai dan menatap Xyon dengan sorot mata yang tajam.
"Aku mengerti maksudmu sekarang, Perdana Menteri Xyon. Baiklah, kalau begitu, aku akan kembali terlebih dahulu," jawabnya.
Ia lalu berdiri dan berjalan mendekati Keira. Arex kemudian melepaskan tubuh gadis itu. Keira langsung menatap Higarashi dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja. Sampai jumpa esok pagi, di halte yang sama," bisik Higarashi pelan kepada gadis tersebut.
Keira hanya bisa menatapnya, lalu membalas, "Higarashi, aku akan mengantarkanmu ke depan. Jaga dirimu baik-baik, beritahu aku jika Paman Xyon berbuat yang tidak-tidak lagi kepadamu.”
Higarashi hanya tersenyum, setelah itu, Keira kemudian berdiri dan mengantarkannya hingga keluar dari rumah.
Setelah pria muda itu sudah pergi, Xyon tiba-tiba berkata, "Kami akan menginap malam ini."
Keira mengangguk.
"Kalian bisa menggunakan kamar di sini, sementara aku akan tidur di dalam kamarku sendiri, di atas," balasnya.
Malam itu benar-benar merubah hidup Higarashi. Begitu tiba di dalam rumahnya sendiri, ia langsung saja mandi, lalu berbaring di atas ranjang sambil menatap keluar jendela, sambil merenungkan banyak hal.
__ADS_1
“Xyon mengizinkanku untuk menjadi pasangan Keira, bukankah ini adalah hal yang baik? Ia bahkan memberikanku pil putih … sebentar, aku bahkan belum menikah dengann gadis itu!” serunya.
Tiba-tiba saja sebuah pedang kosmik panjang yang berwarna hitam, berada tepat di bawa lehernya. Ia langsung menoleh ke samping, lalu melihat seorang pria dengan rambut berwarna abu-abu dan bola mata emas yang berpakaian serba hitam, namun wajahnya tertutup oleh topeng dengan warna yang sama.
"Menjauhlah dari gadis Crossbreed itu sekarang juga! Ia adalah milikku!" seru pria itu.
Kemudian, ia mengangkat dan mengayunkan pedang kosmik tersebut ke arah Higarashi, namun sang pangeran mahkota dari Halida itu dengan cepat berguling dari ranjang hingga terjatuh di atas tanah demi menghindar dari serangan tadi.
Higarashi kemudian berdiri, lalu ia berjalan mundur menjauhi pria tersebut. Kini mereka berdua saling bertatapan dengan sorot mata yang tajam, dan berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
"Siapa dirimu? Aku bisa merasakan aura energi kosmik milikmu," ucap Higarashi dengan wajah yang serius.
Pria itu tertawa kecil, kemudian membalas, "Tidak perlu tahu siapa diriku, yang harus kau ketahui sekarang adalah, menjauhlah dari Keira!"
Ia lalu berjalan dengan cepat, mendekati Higarashi dan mulai menyerang lagi pria muda itu dengan pedang kosmiknya. Higarashi berusaha menghindar dari serangan-serangan yang dilancarkan pria tersebut, namun ketika ia lengah, pria itu berhasil merobek lengan kirinya, dan membuatnya terluka.
Luka sayatan sepanjang kira-kira sepuluh sentimeter itu mulai mengeluarkan darah, dan Higarashi hanya bisa memegang lukanya itu dengan tangan kanannya. Pria tersebut menghentikan serangannya, kemudian tertawa kecil untuk beberapa saat.
Higarashi tersenyum sinis, kemudian membalas, "Silverian. Planet kalian bernama Silverian, namun seluruhnya adalah hitam."
"Maka itu kami mengumpulkan banyak energi kosmik dan sumber daya dari planet lain, demi memulihkan planet kami seperti semula. Kalian adalah pencuri sebenarnya, menghalangi sinar yang dipancarkan oleh Goldinian kepada kami. Bukankah itu sangat keji?" tanya pria tersebut.
Ia kemudian mengarahkan pedang kosmiknya lagi kepada Higarashi, pertanda ia akan kembali menyerang.
Higarashi kali ini tampak tidak takut. Ia justru tersenyum, kemudian mengangkat tangan kanannya ke depan.
"Divine Sword!" serunya.
Tiba-tiba saja muncul sebuah pedang kosmik di dalam genggaman tangan kanannya, yang berukuran lebih besar dan terlihat lebih berat daripada pedang kosmik lainnya. Pedang kosmik itu, Divine Sword, berwarna merah darah dari atas ke bawah. Untuk memegang pegangannya saja, Higarashi menggunakan kedua tangannya, karena memang ukurannya yang panjang dan berat.
__ADS_1
Pria misterius tersebut terkejut, bahkan ia sampai melotot.
“Apa?! Tidak mungkin! Apakah Xyon sudah memberikannya pil putih? Energi cahaya? Ia bahkan belum menikahi Keira! Xyon pasti sudah mengetahui rencanaku! Sialan!” gumamnya di dalam hati.
Higarashi tiba-tiba tersenyum lebar, kemudian berseru, "Aku akan dengan senang hati menjaga Keira mulai dari sekarang! Pergilah kau dari sini, Silverian! Jangan lagi mengganggu hidup kami! Dasar pembawa keonaran!”
“Oh, baiklah. Namun, kau harus paham akan sesuatu, yakni kutukan yang diarahkan kepada gadis itu akan membuat kalian semua lebih sengsara daripada sekarang!” seru pria misterius itu.
“Jaga ucapanmu!” teriak Higarashi.
Ia mulai menyerang pria itu dengan Divine Sword miliknya, dan pria tersebut berusaha menghindar berkali-kali. Walaupun memang pedang kosmik itu terlihat panjang dan berat, namun ternyata, Higarashi sangat mahir menggunakannya, bahkan senjata kosmik tersebut benar-benar mengikuti ayunan kedua lengannya.
Karena Divine Sword milik sang pangeran mahkota dari Halida itu bukan tandingannya, pria misterius tersebut mulai kewalahan. Ketika ia lengah pada satu waktu, Higarashi berhasil melukai lengan kanannya dan membuat luka sayatan yang cukup panjang.
“Argh!” teriak pria misterius itu, dan ia langsung memegang luka pada lengan kanannya dengan tangan kiri setelah menjatuhkan pedang kosmiknya.
Mereka berdua kemudian berhenti untuk saling menyerang dan bertahan, dan berdiri dengan jarak yang tidak begitu dekat satu sama lain. Pria tersebut kemudian lalu tersenyum sinis sambil menatap Higarashi dengan sorot mata yang tajam.
"Baiklah, anggap saja hari ini kau beruntung. Selamat tinggal!" seru pria misterius itu, kemudian kabut-kabut hitam mulai mengelilingi tubuhnya, dan ia tiba-tiba saja menghilang entah ke mana.
"Televortare sialan!" balas Higarashi.
Divine Sword miliknya kemudian menghilang dari genggaman tangannya. Ia kini menghela nafas panjang, lalu berjalan menuju ke ranjang. Setelah duduk di atas ranjang yang empuk itu, Higarashi kemudian merobek baju bagian bawahnya dan mengikatkan robekan tersebut pada luka sayatan yang ada di lengan kirinya agar darah tidak mengalir terus menerus.
Ia kemudian berbaring dengan perlahan.
“Sialan. Mereka benar-benar menargetkan diriku. Namun, dari mana mereka tahu kalau aku sedang berada di sini? Pria itu bahkan menyebut nama Keira berkali-kali!” serunya.
Malam itu menjadi malam yang mencekam untuk dirinya, karena akhirnya, ia benar-benar menjadi target dari para Silverian. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya berkali-kali, namun, sudah lebih dari empat jam dan ia sama sekali tidak bisa tertidur pulas.
__ADS_1
“Tidak bisa begini. Aku … harus secepatnya memberitahukan kejadian tadi kepada Perdana Menteri Xyon. Keira sedang berada di dalam bahaya yang serius,” ucapnya.