
Jantung Hyerin berdetak cepat dan kencang, hingga ia menutup kedua matanya dengan wajah yang memerah dan badan yang mulai terasa panas.
"Mungkin, aku mulai menyukainya. Ia adalah pria yang terlihat baik, tidak seperti yang dikatakan oleh Ayah," gumamnya di dalam pikiran.
Malam itu, keduanya sama-sama merasa gusar. Xyon ia tidak bisa berbohong tentang dirinya sendiri, sementara Hyerin justru semakin memikirkan pria muda yang dipastikan harus kembali ke planet asalnya itu.
"Aku rasa Yang Mulia Pangeran Mahkota dan Yang Mulia Putri Mahkota sedang bersenang-senang sekarang. Mengapa mereka harus berbohong kepada Yang Mulia Raja? Astaga, mereka membawaku ke dalam perasaan yang menyebalkan ini," gumam Xyon pelan, dengan wajah yang kesal.
Ia lalu tertidur pulas setelah beberapa menit. Keesokan paginya, Hyerin tampak baru saja keluar dari kamarnya dan hendak pergi bekerja, namun, ia justru menghentikan langkah ketika ia menatap pintu kamar Xyon.
"Tidak, Hyerin. Tidak. Xyon sedang sakit jadi kau tidak perlu menunggunya. Pria itu selalu dingin," gumam Hyerin pelan dengan wajah yang kesal.
Ia menggelengkan kepalanya, kemudian kembali berjalan keluar dari gedung penginapan tersebut. Di sepanjang perjalanan, berkali-kali ia menoleh ke belakang dan Xyon tidak pernah tampak di sana.
“Ia tidak mengikutiku lagi, bukan? Baiklah! Ini saatnya untuk melupakan kejadian kemarin!” serunya pelan.
Hyerin akhirnya tiba di dalam restoran tempatnya bekerja. Ia langsung membersihkan meja dan kursi, lalu melayani tamu pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga jam makan siang selesai. Ia lantas berdiri di dekat meja kasir, dengan wajah yang tampak gusar hingga sang Nyonya yang sedang berada di sampingnya tersenyum kecil setelah melihat sikapnya.
“Kau sedang memikirkan pria itu, bukan?” tanya wanita pemilik restoran tersebut.
Tanpa menoleh ke arahnya, Hyerin menjawab sambil mengernyitkan dahinya, “Tidak, Nyonya. Aku hanya kelelahan. Hari ini ramai, bukan?”
“Wajahmu tampak lesu. Bagaimana jika kau pulang lebih cepat hari ini? Beristirahatlah, karena kau sudah bekerja dengan baik. Kau pantas mendapatkan liburan,” balas sang Nyonya.
“Ia tidak membuka pintu kamarnya hari ini,” jawab Hyerin.
Wanita itu menghela nafas pendek, lalu berbisik, “Pergilah sekarang. Aku tahu kau sangat memikirkannya. Wajahmu tidak bisa membohongiku, sayang.”
__ADS_1
Hyerin langsung menatapnya dengan senyum lebar dan berkata, “Nyonya, terima kasih! Aku akan kembali pagi-pagi besok!”
Ia kemudian keluar dari sana dan terus berlari, namun tidak kembali ke penginapan. Ia justru melangkah hingga tiba di pinggir danau yang berada di paling ujung kota kecil tersebut. Setelah menghela nafas panjang, ia mulai mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke danau tersebut, dengan wajah yang kesal.
"Kenapa aku harus memikirkan pria menyebalkan itu lagi, hah?! Aku sengaja ke sini agar tidak perlu lagi memikirkannya!" gumamnya.
Ia kemudian mengambil batu kecil lainnya, dan kembali melemparkannya ke danau itu.
"Cepatlah kau pergi dari pikiranku dan pandanganku, sehingga aku tidak perlu melihat dan memikirkan dirimu lagi! Kau harus … menyelamatkan dirimu, bodoh!" seru Hyerin dengan wajah yang memerah.
Untuk ketiga kalinya, ia mengambil sebuah batu kecil lainnya, namun ketika ia hendak melemparkannya lagi ke danau, seseorang tiba-tiba menggenggam erat tangannya. Hyerin langsung menoleh ke samping dan menatap pria yang sudah menghalangi tangannya barusan.
"Xyon?" gumamnya sambil mengernyitkan dahi dan mata yang melotot karena terkejut.
Pria muda itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya tampak lesu dan memerah. Ia lalu melepaskan tangan Hyerin dari genggamannya, sambil berusaha untuk bernafas perlahan.
Hyerin langsung menahan tubuh Xyon dengan penuh rasa khawatir, lalu berkata, "Astaga, Xyon! Apakah kau sedang sakit?!"
Ia langsung meletakkan telapak tangannya di dahi pria muda itu, dan terasa hangat, hingga gadis tersebut berseru, "Xyon! Astaga, mengapa kau datang ke sini jika kondisimu sedang tidak baik-baik saja?!"
Xyon langsung menatap Hyerin dengan bola mata yang berkaca-kaca, lalu berbisik, "Karena aku sudah berkata kepadamu bahwa aku akan menemanimu. Lagi pula, aku tidak akan tewas hanya karena penyakit ringan seperti ini.”
“Ringan katamu? Aku akan mengantarkan dirimu kembali ke penginapan terlebih dahulu. Bisakah kau bertahan? Aku akan membantumu berjalan,” balas Hyerin sambil menunjukkan wajah yang gusar.
"Namun kau harus kembali bekerja, bukan? Aku adalah seorang immortal, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Xyon.
"Astaga! Kau masih saja bersikap dingin! Hei, siapa pun dirimu, seorang immortal atau seorang mortal sekalipun, tetap saja kau akan membutuhkan bantuan dari orang lain ketika sedang sakit!" seru Hyerin dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
"Aku …," bisik pria muda itu, namun Hyerin langsung memotongnya, "Aku akan mengantarkanmu kembali ke penginapan! Nyonya sudah memberikanku izin untuk merawatmu hari ini, jadi kau tidak perlu memikirkan hal itu!"
Ia lalu membantu Xyon untuk berjalan. Walaupun sesekali pria muda tersebut merasa kelelahan, namun mereka tetap melanjutkan langkahnya, dan Hyerin kini menahan lengan Xyon dengan bahunya.
Begitu tiba di dalam gedung penginapan, Hyerin lantas membantu Xyon untuk membuka kunci pintu kamar pria muda itu, lalu masuk ke dalam dan mengunci kembali pintunya. Ia juga menolong Xyon untuk berbaring, lalu menyelimuti tubuhnya dengan sebuah selimut tebal.
Hyerin kemudian duduk di samping Xyon sambil sekali lagi, memegang dahi pria muda tersebut dengan telapak tangannya.
"Aku akan baik-baik saja setelah mendapatkan Healing Renovatio dari para perawat yang ada di dalam planetku," ucap Xyon pelan.
"Hei, aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan, jadi sebaiknya kau berbaring saja di sini dan aku akan mencoba untuk menurunkan panas tubuhmu!" seru Hyerin dengan wajah yang masih penuh dengan kekhawatiran.
Xyon terdiam. Ia kemudian memejamkan kedua mata dan berusaha untuk tetap tenang, walaupun jantungnya berdetak cepat karena kehadiran gadis yang disukainya itu.
"Maafkan aku, ini semua karena diriku …," bisik Hyerin, yang tiba-tiba mulai menangis.
Pria muda tersebut tiba-tiba membuka matanya dan berusaha untuk bangun, lalu ia duduk di sebelah Hyerin dan menyeka air mata yang kini membasahi wajah gadis itu hingga Hyerin menatapnya dengan wajah sendu.
"Kau tidak perlu menangis, aku akan baik-baik saja," balas Xyon, dan wajahnya benar-benar datar tanpa ekspresi.
Namun Hyerin masih terus menangis.
Ia kemudian berucap dengan bibir yang bergetar, "Tetap saja ini semua salahku! Aku bahkan lupa untuk mengganti handuk yang menutupi lukamu kemarin!"
"Aku sudah merasa sudah semakin membaik setelah tertidur selama kau pergi," ujar Xyon.
Hyerin menghela nafas panjang sambil mengernyitkan dahinya dan berbisik, “Kau benar-benar pria yang dingin, bukan?”
__ADS_1