
Lalu dengan terburu-buru, Keira masuk ke dalam toko minuman, melalui pintu belakang. Higarashi hanya bisa menghela nafas panjang dan menatap gadis kecil tersebut dengan wajah yang terlihat penuh dengan kekhawatiran.
Klafina memperhatikan raut wajah anak laki-laki semata wayangnya tersebut sambil tersenyum kecil.
"Apakah kau mengkhawatirkan gadis kecil itu, Higarashi?" tanyanya.
Higarashi langsung menjawab tanpa menoleh kepada ibunya itu, "Anak-anak yang ada di sepanjang jalan tadi, merundungnya terus menerus, hanya karena warna rambutnya yang berbeda dari manusia pada umumnya. Makhluk mortal itu benar-benar aneh sekali sifatnya!”
Seorang pria kemudian terlihat keluar dari dalam toko minuman itu, berjalan mendekati Neriya, Klafina dan Higarashi sambil membawa tiga botol minuman sari bunga krisan di dalam genggaman kedua tangannya.
Pria tersebut lalu berdiri di hadapan Neriya, kemudian berkata, "Permisi, Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda. Aku membawakan tiga botol minuman ini, sebagai rasa terima kasih dari diriku dan istriku kepada Tuan Muda, setelah mendengarkan cerita dari Keira. Ah, minuman ini adalah hasil dari perkebunan bunga krisan milik kami sendiri. Silahkan dicoba. Semoga kalian akan semakin menyukai kota kecil yang indah ini.”
Neriya langsung menerima tiga botol minuman kecil yang sudah ditempel dengan label kertas bergambar bunga krisan itu, dengan wajah yang senang.
"Tentu saja, terima kasih sudah memberikan minuman ini gratis untuk kami!" serunya.
"Oh, tidak, Tuan. Kamilah yang harusnya berterima kasih. Ah, kalau begitu, aku akan kembali ke dalam. Silahkan melanjutkan liburan kalian di sini, semoga menyenangkan," balas Dairu, kemudian ia tersenyum kepada Neriya, lalu berjalan kembali masuk ke dalam toko minuman miliknya.
Neriya dengan senang hati langsung saja memberikan dua botol lainnya kepada Klafina dan Higarashi, lalu membuka salah satu botol minuman itu dan langsung meneguknya.
"Memang yang paling enak adalah yang gratis!" ujarnya.
Mereka bertiga kemudian menghabiskan minuman gratis itu, lalu Neriya memutuskan untuk kembali berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan kota kecil tersebut. Namun, Higarashi rupanya masih memegang botol minuman bunga krisan yang sudah habis diminumnya itu. Ia kemudian mencabut labelnya dan menyimpannya di dalam saku celana, lalu membuang botolnya yang sudah kosong.
__ADS_1
Malam pun tiba, dan jam malam sudah mulai diberlakukan. Di dalam toko minuman yang sebenarnya juga adalah rumah milik Dairu dan Eleina, Keira terlihat sedang duduk di atas ranjangnya sendiri, ketika kedua orang tua angkatnya itu tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya, lalu berdiri di hadapannya dengan wajah yang khawatir.
"Keira," ucap Eleina, kemudian ia mendekati Keira dan berlutut di hadapan anak angkatnya tersebut dan melanjutkan, "mengapa kau tidak pernah memberitahukan kepada kami bahwa anak-anak itu selalu merundungmu? Apakah mereka sudah menyakitimu?”
Keira tersenyum kecil, lalu membalas, "Ah, aku sudah terbiasa dengan mereka, Ibu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Tidak mungkin tidak mengkhawatirkanmu, Keira," ujar Dairu sambil membelai lembut rambut Keira, "dua hari lagi, bibimu, Trea, akan datang kemari untuk mengunjungimu. Jadi, tetaplah berada di dalam rumah, agar mereka tidak lagi menyakitimu, dan senyummu tidak lagi kecil seperti itu.”
Keira langsung tersenyum lebar begitu ia mendengar bibi angkatnya, Trea, adik kandung dari Eleina, akan datang ke kota kecil itu untuk mengunjunginya. Trea sangat menyukai Keira dan memang sering mengunjunginya, walaupun ia tinggal sendiri di sebuah kota yang besar namun memang letaknya jauh sekali dari kota kecil tempat mereka bertiga tinggal sekarang.
“Bibi Trea akan datang ke sini? Astaga, aku sangat merindukannya!” seru Keira dengan wajah yang ceria.
Eleina mengangguk, kemudian membalas, “Tentu saja! Sudah dua bulan ia tidak mengunjungimu, bukan?”
Keesokan harinya, Neriya, Klafina, dan Higarashi terlihat sedang berjalan-jalan di pagi hari, sambil mencari makanan-makanan enak di sekitar kota kecil itu. Higarashi sebenarnya selalu memperhatikan toko minuman milik Dairu setiap kali ia melewatinya, berharap Keira akan keluar, namun, hari itu, gadis kecil tersebut sama sekali tidak menampakkan dirinya.
“Ke mana ia pergi? Apakah ia sedang sakit?” tanya Higarashi di dalam hatinya.
Memang, Higarashi tampak sedikit kecewa karena ia tidak bertemu dengan Keira, namun, ia berpikir mungkin Keira sedang beristirahat pada hari itu. Namun, mereka terus berjalan mengelilingi kota kecil tersebut, membeli banyak barang yang tidak penting, memakan makanan yang berbeda-beda hingga malam hari tiba dan mereka akhirnya kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Higarashi masih memperhatikan toko minuman tersebut, namun, sampai toko itu ditutup, ia sama sekali tidak menemukan Keira di sana.
Keesokan paginya, ketika akhirnya liburan mereka telah usai dan harus segera kembali ke Planet Halida, Higarashi terlihat sedang berjalan perlahan menuju pintu, dan hendak keluar dari kamar tersebut sendirian, namun rupanya, Neriya terbangun dan langsung menatap ke arahnya hingga ia harus menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Astaga! Ada apa, Higarashi? Ini masih sangat pagi!” seru Neriya sambil masih menguap lebar.
“Ah, ah, aku … aku sangat lapar, Ayah,” jawab Higarashi.
Klafina langsung terbangun karena terganggu. Ia kemudian menatap ke arah Higarashi, dan tersenyum kepadanya.
“Jika kau ingin pergi sendiri pagi-pagi, pergilah. Jangan lupa untuk segera kembali ke sini, sebelum nanti kita akan pulang,” ucapnya pelan.
“Baiklah, terima kasih, Ibunda!” seru Higarashi dengan senyum lebar di wajahnya.
Ia langsung membuka pintu dan keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, namun, ia tidak lupa untuk menutup kembali pintunya. Neriya langsung menatap Klafina dengan wajah yang terlihat kebingungan.
“Hei, mengapa kau membiarkan anak itu pergi sendirian di pagi hari, sayang?” tanyanya.
Klafina tertawa kecil sebentar, lalu menjawab, “Kau tidak pernah muda, bukan?”
Neriya hanya menghela nafas panjang.
Higarashi rupanya tidak sedang ingin berjalan-jalan lagi di kota kecil itu. Ia justru memperhatikan toko minuman milik Dairu dari kejauhan, hingga toko tersebut dibuka beberapa jam kemudian. Namun, Keira sama sekali tidak terlihat keluar dari toko minuman itu. Ketika matahari sudah semakin tinggi, Higarashi akhirnya menyerah karena memang, ia harus kembali ke Planet Halida pada hari itu juga.
“Ke mana Keira? Apakah ia benar-benar sedang sakit?” gumamnya pelan.
Ia kemudian berjalan kembali menuju penginapan, dan langsung membantu kedua orang tuanya untuk membereskan barang bawaan mereka. Setelah keluar dari penginapan, mereka bertiga lalu berjalan menuju ke dalam hutan yang lebat dan meninggalkan kota kecil itu, karena kereta antar planet milik kerajaan Halida sudah menunggu di sana.
__ADS_1