Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXV


__ADS_3

"Ah, baiklah, Yang Mulia. Aku akan menemanimu. Jadi kapan anda akan berangkat?" tanya Xyon, pada akhirnya, setelah menghela nafas panjang.


"Nah, Xyon. Besok pagi saja. Kita akan menginap di penginapan yang sama seperti kemarin. Pemandangan kota kecil itu sangat indah, dan banyak jajanan yang menarik hati Klara," jawab Arnea dengan senyum lebar.


"Baiklah, Yang Mulia," balas Xyon, tanpa ekspresi.


Arnea kemudian berdiri, lalu berseru, "Baiklah! Aku akan menunggumu esok pagi! Selamat tinggal!"


Jenderal muda itu kemudian menundukkan kepalanya untuk menghormati Arnea. Dengan tergesa-gesa, Pangeran Mahkota dari Palladina tersebut meninggalkan Xyon sendiri di sana.


"Hyerin, akhirnya kesempatan ini tiba," gumam Xyon dengan senyum kecil di wajahnya.


Ia berdiri, berlari masuk ke dalam istana, hendak menuju ke perpustakaan menghabiskan waktunya, namun, di salah satu lorong istana, ia tampa sengaja bertemu dengan dengan ayahnya, Derix. Mereka langsung menghentikan langkah masing-masing, sambil menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam.


"Apakah Ayah akan menghentikanku?" tanya Xyon dengan wajah yang serius.


"Tidak. Jika itu adalah tugasmu sebagai seorang pengawal pribadi, maka aku tidak akan menghentikanmu, walaupun aku ingin, namun itu adalah perintah dari Yang Mulia Pangeran Mahkota," jawab Derix sambil menahan kekesalannya.


Xyon terdiam. Namun, setelah beberapa saat, Derix kemudian berdehem sedikit.


"Kau sudah mempelajari banyak hal tentang alam semesta ini. Aku perhatikan kau sudah semakin sering membaca buku kosmik. Aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi. Kau sudah pasti tahu konsekuensinya, jika kembali berhubungan dengan seorang manusia," ucap Derix dengan wajah gusar.


Ia kemudian mendekati Xyon, lalu menepuk bahu anak laki-lakinya itu dan berbisik, "Pergilah."


Derix lalu kembali berjalan, meninggalkan Xyon sendiri di sana. Setelah ayahnya pergi, pria muda itu justru tersenyum sambil menggelengkan sedikit kepalanya.


"Aku tidak mungkin bisa melupakannya, Ayah. Maafkan aku," gumamnya pelan.


Ia lantas berjalan lagi menuju ke perpustakaan istana. Xyon memang memiliki kebiasaan baru, selain dari bertarung, yakni membaca. Pengetahuannya sudah semakin luas, dan buku-buku kosmik yang ia baca, selalu berbeda di setiap harinya. Begitu ia tiba di dalam perpustakaan, ia akan langsung mengambil sebuah buku kosmik lalu duduk di bagian pojok perpustakaan itu, sendirian.

__ADS_1


Keesokan harinya, Arnea, Klara, dan Xyon terlihat sudah tiba di depan kereta antar planet yang terparkir di halaman depan istana sambil masing-masing membawa sebuah tas punggung yang berisi barang pribadi mereka. Kali ini Treya dan Derix tidak mengantarkan mereka, karena suatu urusan. Hanya Veina yang berada di sana untuk menemani kepergian anak laki-laki dan menantunya, serta pengawal pribadi mereka.


"Kali ini, pastikan kalian berdua memiliki waktu yang banyak untuk bersama. Putuskan secepatnya, apakah kalian akan menggunakan Wormbye atau tidak," ucap Veina dengan senyum kecil di wajahnya.


Tentu saja Arnea langsung mengerti maksud dari sang Ibu, dan wajah Klara terlihat memerah begitu ia mendengar godaan dari Veina.


"Hanya tiga hari, Ibu. Tiga hari, haha!" balas Arnea.


"Tidak masalah walaupun hanya tiga hari, namun Ibu sangat berharap banyak darimu!" ucap Veina lagi kepada anak laki-laki dan menantu perempuannya itu.


Ia kemudian menoleh ke arah Xyon, lalu dengan suara yang pelan, ia bertanya, "Jenderal Xyon, aku harap kau bisa menjaga mereka dari gangguan-gangguan yang bisa merusak suasana. Kau tentu bisa menjaga dari jarak jauh, bukan?"


"Baiklah, Yang Mulia," jawab Xyon datar.


"Ah, baiklah! Kalau begitu, kami akan pergi terlebih dahulu. Sampai nanti, Ibu!" seru Arnea dengan semangat yang tinggi.


"Yang Mulia, kami pergi terlebih dahulu," ucap Klara sambil menundukkan kepalanya.


Veina tersenyum lebar, lalu membalas, "Baiklah, sampai jumpa, dan berhati-hatilah!"


Arnea langsung masuk ke dalam kereta antar planet tersebut, sambil menggandeng Klara, dan Xyon setelahnya. Alat transportasi itu lalu berubah menjadi sebuah bintang kecil yang dengan cepat melesat ke atas langit, menuju ke luar angkasa.


Jantung Xyon tiba-tiba berdetak cepat, namun yang dirasakannya justru adalah … rasa sakit.


“Akhirnya kita bisa kembali bersama, Hyerin! Namun …, apakah kau masih berada di sana?” gumamnya di dalam pikiran.


Tidak butuh waktu lama, mereka masuk ke dalam Planet Bumi dan mendarat di dalam sebuah taman yang sepi dan penuh dengan pepohonan, karena malam sudah tiba. Xyon keluar terlebih dahulu, lalu diikuti oleh Arnea dan Klara. Kereta antar planet yang baru saja mengantar mereka tadi, langsung kembali melesat ke luar angkasa.


"Yang Mulia, apakah Anda benar-benar akan menginap di tempat yang sama seperti waktu itu?" tanya Xyon, sambil berusaha untuk menyembunyikan semangatnya.

__ADS_1


"Penginapan itu murah, dan letaknya dekat banyak restoran di tengah-tengah kota kecil ini. Tentu saja, jika gedung itu masih berada di sana," jawab Arnea.


"Hari sudah malam, sebaiknya kita segera ke sana," balas Klara.


Mereka kemudian berjalan menuju ke gedung penginapan yang sama seperti pada waktu itu. Karena hari sudah gelap, ketiganya tampak sedikit tergesa-gesa. Begitu mereka tiba sana dan terlihat kebingungan, seorang wanita tiba-tiba menepuk bahu Xyon.


"Ah," desah Xyon, dan langsung saja mereka menoleh ke belakang karena terkejut.


"Apakah kalian sedang mencari penginapan?" tanya wanita itu dengan senyum kecil di wajahnya.


"Astaga, Nyonya, Anda mengagetkan kami. Ya, kami sedang mencari penginapan di sini. Apakah Anda masih memiliki dua kamar tersisa?" tanya Arnea.


"Dua? Tentu saja. Namun hanya tersisa satu kamar di depan dan satu kamar di paling belakang sana, apa kalian tidak keberatan terpisah jauh seperti itu?" tanya wanita tersebut balik kepada Arnea.


Pangeran Mahkota dari Palladina itu langsung tersenyum lebar dan menjawab, "Ah, tidak masalah, Nyonya. Aku dan istriku akan mengambil kamar yang berada di ujung sana.”


"Jika begitu, aku akan mengambil kamar yang berada di depan," ucap Xyon.


"Baiklah," balas wanita tersebut, kemudian ia merogoh saku bajunya dan memberikan sebuah kunci masing-masing untuk Arnea dan Xyon.


"Pembayaran akan dilakukan setelah kalian meninggalkan tempat ini, kalau begitu, aku pergi terlebih dahulu. Silakan menikmati liburan kalian di kota kecil ini, anak muda," ucap wanita itu lagi, lalu ia pergi begitu saja, meninggalkan mereka di sana.


"Nah, aku akan langsung ke kamarku terlebih dahulu. Xyon, ingat, kau hanya bisa datang jika kami memanggilmu," ujar Arnea, kemudian dengan tergesa-gesa, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kantong yang berisi koin-koin perak dan langsung memberikan benda itu kepada Xyon.


Jenderal muda itu tampak tidak tertarik dengan koin-koin tersebut.


"Yang Mulia, apakah ini adalah uang untukku agar tidak mengganggu kalian?" tanya Xyon pelan.


"Astaga, ayolah," jawab Arnea dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


Xyon kemudian menerima kantong tersebut dari tangan Arnea, lalu ia menundukkan kepalanya dan berkata, "Terima kasih, Yang Mulia, baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian hingga kalian sendiri yang akan memanggilku."


__ADS_2