Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXXV


__ADS_3

Darkerio tertawa kecil, kemudian ia melotot ke arah Xyon dan berkata, "Selamat tinggal, Jenderal Xyon!! Kita akan bertemu lagi nanti, dan aku akan memastikan planet ini hancur selamanya!"


Ia kemudian menghilang di balik kabut-kabut hitam yang baru saja menyelimuti seluruh tubuhnya. Sementara Treya yang hampir tewas, tampak berusaha untuk menoleh ke arah Xyon yang jaraknya agak jauh, lalu tersenyum kepada sang Jenderal muda tersebut.


“Selamat tinggal, Jenderal. Aku titipkan Planet Palladina kepada Arnea. Jagalah galaksi ini dengan nyawamu,” bisik sang Raja dari Palladina itu pelan, kemudian tubuhnya berubah menjadi debu halus yang menghilang di udara.


“Yang Mulia! Tidak! Yang Mulia!!!” teriak Xyon dengan air mata yang membasahi wajahnya, darah yang masih mengalir dari dalam mulutnya, sambil memegang perut yang kini terasa sakit luar biasa.


Kabut-kabut hitam yang menyelimuti seluruh sudut istana tersebut lantas menghilang, dan udara yang ada di sana kini kembali normal, tanpa ada lagi gas beracun yang menyebar di mana-mana. Xyon tiba-tiba menggeram sambil melotot tajam menatap lantai yang penuh darah.


Kedua telapak tangannya mengepal keras. Ia kemudian berusaha untuk bangkit dan memukul lantai dengan sangat keras menggunakan kedua kepalan tangannya, sambil menangis.


"Sialan, sialan, sialan! Kenapa harus aku, kenapa?! Kenapa?!" teriaknya dengan nada tinggi.


Mendadak ia terdiam, kemudian menghela nafas panjang. Sebuah pedang kosmik berwarna putih lalu muncul di dalam genggaman tangan kanannya yang tampak penuh dengan luka. Wajah yang penuh dengan kekecewaan serta kesedihan mendalam kini memaksanya untuk … mengarahkan ujung tajam senjata kosmik tersebut tepat di depan dada, di mana jantungnya berada.


"Lalu untuk apa aku berada di sini? Istri dan anakku sudah tewas. Ayah, Ibu, serta Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri. Mereka semua tewas hanya dalam waktu satu hari, yang bahkan aku baru saja kembali pagi ini. Benar-benar tidak bergunanya diriku. Untuk apa mendapatkan nilai ujian tertinggi, jika aku bahkan tidak bisa melindungi mereka semua?!" teriak Xyon sambil menangis keras.

__ADS_1


Ia tiba-tiba tertawa sebentar dan melanjutkan, "Nyawa yang ada di dalam diriku ini, bukankah hanya sebatas aliran energi dari atom-atom pembentuk alam semesta, bukan? Sebaiknya aku juga ikut pergi dengan mereka semua, daripada aku … sendirian di sini!”


Ia kemudian memejamkan kedua mata dan mulai mendekatkan ujung tajam pedang kosmik itu ke dadanya, namun, seseorang mendadak berlutut di hadapannya dan langsung meraih benda tajam tersebut, hingga Xyon terkejut dan langsung membuka kembali matanya dan menatap ke arah seorang pria yang sangat dikenalnya.


"Yang Mulia Pangeran Mahkota?" tanya Jenderal muda tersebut sambil melotot tajam.


"Kau tidak boleh bunuh diri. Ini adalah perintah. Kau tidak boleh tewas. Ini juga perintah," ucap pria itu, Arnea, dengan wajah yang tegas.


Xyon kemudian melihat Klara dan keempat prajurit muda yang ia kenal yakni Weim, Sey, Arex, dan Nordian, yang sedang berdiri di belakang Putri Mahkota dari Palladina tersebut. Mereka kemudian mendekatinya dan ikut berlutut di hadapannya, bersama dengan Arnea.


"Aku dan Yang Mulia Pangeran Mahkota tersadar dari gas beracun yang berbau busuk itu, dan tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu. Aku langsung membukanya dan keempat orang prajurit muda ini ternyata sudah berada di luar," ucap Klara pelan.


"Jenderal, kami mengetahui kepulangan Anda kemari dan hendak menyambut Anda di halaman belakang istana, namun mendadak, kami melihat seluruh bangunan istana diselimuti oleh kabut-kabut hitam," ujar Weim.


"Kami lalu masuk ke dalam istana, namun yang kami temukan justru adalah seluruh pelayan dan pengawal yang sudah tergeletak di atas lantai, dan beberapa orang rupanya sudah tewas dengan mengeluarkan darah dari dalam mulut," balas Arex.


Xyon hanya bisa menatap mereka dengan wajah sendu, namun tidak membalas semua perkataan tersebut.

__ADS_1


"Kami langsung teringat dengan ucapan Anda, untuk selalu berhati-hati dan waspada, jadi kami langsung menutup hidung dengan kain, dan langsung berlari untuk mencari keberadaan Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri, namun karena terdengar suara teriakan, kami terpaksa bersembunyi di dalam sebuah ruangan rahasia di pojok istana," ucap Nordian.


"Setelah beberapa jam kabut-kabut hitam yang menyelimuti istana ini tiba-tiba menipis, lalu kami mulai mengetuk setiap pintu di setiap lorong, namun yang kami temukan pertama kali justru adalah Yang Mulia Pangeran Mahkota dan Yang Mulia Putri Mahkota di dalam kamar mereka," ujar Sey.


Arnea kemudian tersenyum kecil kepada Xyon, lalu menggenggam tangan kanan Jenderal muda itu lembut, sambil berkata, "Kau sudah berhasil melatih mereka untuk menjadi prajurit-prajurit terbaik yang pernah ada. Lihatlah.”


Namun mendadak, Xyon membungkukkan badannya di hadapan Arnea, hingga kepalanya menyentuh lantai hingga mereka semua terkejut.


Sambil menangis, ia berseru, "Yang Mulia! Maafkan aku yang tidak bisa melindungi siapa pun sama sekali! Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri, bahkan Jenderal Senior dan Kepala Pelayan, mereka semua telah tewas! Aku sangat tidak mampu menjadi seorang jenderal, Yang Mulia! Aku …. sudah sangat siap untuk menanggung seluruh hukuman yang akan Anda berikan kepadaku, atas seluruh kebodohan ini!"


Arnea mulai meneteskan air mata, bahkan Klara dan empat prajurit lainnya pun ikut menangis. Pangeran Mahkota dari Palladina itu sebenarnya sangat sedih setelah mendengarkan ucapan Xyon sejak tadi. Wajah-wajah sendu mereka mulai diikuti tangis yang pelan, dan mulai berduka atas tewasnya Treya, Veina, serta Derix, dan Wyona.


"Aku akan menghukum dirimu, Xyon. Kau harus tetap menjadi pengawal pribadiku karena hanya kaulah satu-satunya yang masih hidup dan mengetahui siapa pelaku yang sudah menyusup dan membuat kekacauan di dalam istana ini. Kau harus tetap hidup, dan membalaskan dendam kepadanya. Ini adalah perintah! Kau tidak boleh tewas kecuali atas perintahku!!" seru Arnea dengan wajah yang memerah dan bola mata yang berkaca-kaca.


Ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Tangisannya memang pelan, namun kesedihan di dalam hatinya benar-benar terasa dalam.


Xyon kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Arnea dengan wajah yang sendu, juga dengan air mata yang juga masih membasahi wajahnya.

__ADS_1


"Yang Mulia! Penyusup itu, aku tidak mengetahui dan tidak mengenalnya sama sekali. Bahkan aku tidak tahu kekuatan kosmik apa yang digunakannya, namun yang pasti sudah aku ketahui, ia bernama Darkerio," balas Xyon dengan suara yang hampir hilang karena menangis.


Tiba-tiba Arnea berdiri, lalu menatap Jenderal muda itu dengan sorot mata yang tajam dan berseru, "Aku perintahkan kau, Jenderal Xyon, untuk tetap hidup mencari tahu siapa Darkerio itu, dan apa tujuannya kemari, lalu balaskan dendamku atas seluruh kematian ini kepadanya!"


__ADS_2