Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Planet Blackerian


__ADS_3

Mereka lalu dengan cepat berlari ke arah suara teriakan tersebut, dan begitu sudah tiba di salah satu lorong di mana Aerim dan Keira sedang berada, keduanya lantas mendekati Aerim serta berlutut di hadapannya.


“Tuan!” seru salah satu dari kedua pelayan perempuan tersebut sambil melotot tajam ke arah Aerim, bahkan ia terkejut setelah melihat darah yang mengalir dan membasahi kedua lutut Keira.


Raja dari Silverian itu lantas menoleh dan menatap mereka dengan sorot mata yang tajam, lalu berkata, “Cepat bawa Yang Mulia Permaisuri ke ruang perawatan!”


“Baik, Tuan! Akan lebih cepat jika aku menggunakan energi bintang!” balas pelayan perempuan lainnya, dan tiba-tiba saja ia mengangkat tangan kanan, lalu sebuah Star Baton berwarna putih muncul di dalam genggamannya.


Pelayan perempuan tersebut kemudian mengayunkan Star Baton-nya, dan sebuah pintu ajaib mendadak muncul di hadapan mereka. Ia lalu menatap temannya dengan wajah yang serius setelah tongkat kosmik itu menghilang dari genggaman tangannya.


“Cepat!” ucapnya sambil membungkuk dan berusaha untuk meraih lengan Keira.


“Aku akan menggendongnya,” balas Aerim.


“Aku akan berada di sini untuk membersihkan lantainya,” ujar seorang pelayan perempuan lainnya.


Aerim kemudian mengangkat Keira dan berusaha untuk menggendongnya dengan hati-hati, lalu pelayan perempuan yang adalah seorang Halida tadi, lantas membuka pintu ajaib itu dan mereka masuk ke dalamnya.


Sementara itu di dalam kamar, Higarashi terlihat sedang duduk di pinggir ranjangnya, dengan wajah yang kesal. Ia bahkan berkali-kali menggeram dan memukul dinding yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Ia lalu mengepalkan kedua tangan di atas lututnya, kemudian bergumam, "Sialan, tidak seharusnya aku memiliki perasaan kepada wanita lain! Namun, senyuman milik Viora sangat … menyiksaku! Wanita itu! Viora …!”


Higarashi lantas berbaring di atas ranjang dan memejamkan kedua matanya. Setelah beberapa saat, ia kemudian membuka mata sambil menatap lurus lampu yang ada di atas dinding kamar tersebut.


“Aku mulai menyukaimu, Viora!! Sialan! Perasaan ini!” serunya.


Tiba-tiba, pintu kamar tersebut dibuka dengan kasar oleh seorang pria berambut abu-abu yang pakaiannya terlihat penuh dengan noda darah. Higarashi langsung terkejut, lalu berusaha untuk berdiri sambil menatap pria itu dengan wajah yang kesal.


“Kurang ajar kau! Berani-beraninya masuk ke dalam kamar ini tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu!!” seru Higarashi sambil mengernyitkan dahinya dalam-dalam.


Dengan wajah yang penuh amarah, Aerim berjalan cepat mendekati Higarashi, lalu mencengkram kerah baju Raja dari Halida tersebut dengan kedua tangan dan mendekatkan wajahnya sambil menatap pria muda itu dengan wajah yang serius dan suasana tegang.


"Viora?! Apa kau sudah gila? Kau memikirkan wanita lain di saat istrimu sedang berjuang dengan seluruh nyawanya untuk melahirkan anak-anakmu?! Bagaimana jika kau ceraikan saja Keira, lalu serahkan dia kepadaku?! Aku akan dengan senang hati akan menerima dan menjaga anak-anaknya, daripada ia harus bersama dengan laki-laki bodoh sepertimu!!" teriak Aerim dengan mata yang melotot tajam dan memerah.


“Viora adalah tawananku? Kau itu benar-benar sudah gila, Higarashi! Bisa-bisanya memercayai wanita tua itu! Keira berkata kepadaku bahwa kau baru saja memarahinya sehingga ia harus keluar dari kamar dan berjalan sendirian di lorong yang sepi! Apakah kau tidak melihat pakaianku ini, bodoh?!” seru Aerim dengan nada yang lebih tinggi, sambil mencengkram kerah baju Raja dari Halida tersebut semakin erat hingga telapak tangannya menjadi merah.


Higarashi melotot tajam, lalu terdiam sebentar dan memperhatikan bagian depan kemeja abu-abu yang dipakai Aerim, penuh dengan noda darah hingga ke bawah, celana panjang hitam Raja dari Silverian itu.


"Astaga, Keira! Di mana ia sekarang?!" tanya Higarashi sambil kembali menatap Aerim dan mencengkram kedua lengan Raja dari Silverian tersebut dengan wajah yang tampak panik.

__ADS_1


Aerim lantas tersenyum sinis, kemudian berbisik, “Tinggalkan Keira sekarang. Kau benar-benar tidak berguna untuknya, Higarashi. Kau bahkan tidak bisa bertarung dengan baik tanpa Televatia yang ia lakukan kepadamu!”


“Sialan!” balas Higarashi, lalu dengan kasar, ia mendorong tubuh Aerim hingga pria tersebut melepaskan cengkramannya, dan berlari keluar dari kamar sekencang mungkin.


"Keira! Astaga! Apa yang sudah kulakukan kepadanya?!" ucap Raja dari Halida itu lagi sambil menyusuri salah satu lorong istana untuk mencari keberadaan Keira.


Aerim kini sendirian di dalam kamar tersebut. Ia hanya bisa menatap ke arah pintu kamar yang sedang terbuka, dengan wajah yang penuh amarah.


Ia mengepalkan kedua tangannya sambil bergumam, "Viora? Meteorix sialan! Apa yang sebenarnya sudah kau katakan kepada Higarashi?! Benar-benar seharusnya kubunuh saja wanita itu!”


Sementara itu di dalam sebuah planet gas yang ukurannya kecil dan berwarna hitam pekat yang mengorbit sebuah lubang hitam raksasa, seorang pria berambut ungu tua dengan bola mata ungu muda, terlihat sedang berdiri di sebelah seorang wanita yang duduk di atas sebuah kursi tinggi.


Keduanya melihat keluar jendela dari dalam istana yang seluruhnya berwarna hitam. Tanah abu gelap di bawah istana tersebut tampak terdiam melayang-layang, karena planet gas itu tidak memiliki permukaan. Langitnya pun memiliki warna yang sama, dengan garis-garis emas yang dipantulkan dari horizon peristiwa lubang hitam raksasa dengan jarak tidak terlalu dekat.


“Bukankah sungguh adalah sebuah kehormatan, kau bisa menjadi seorang Blackerian, Meteorix? Hanya kita yang bisa mengendalikan materi gelap, dan jauh dari planet-planet lainnya yang ada di dalam Galaksi Metal ini,” bisik pria itu pelan sambil membelai lembut rambut wanita tersebut, yang rupanya adalah Meteorix.


Meteorix tampak kesal dengan aksi pria tersebut, kemudian ia membalas, "Aku hanya setuju menjadi seorang Blackerian karena ingin membalaskan seluruh dendamku kepada Xyon. Tidak lebih dari itu, dan hanya itu saja alasannya, Hyerixon. Kau tidak perlu mengulang-ulangi lagi perkataan yang sama hanya untuk membuatku melupakan kejadian tersebut! Sungguh merepotkan sekali jika aku kehabisan materi gelap, karena tarikan dari lubang hitam itu bisa saja menghisapku ke dalamnya!”


Pria tersebut, Hyerixon, lalu menghela nafas panjang, tersenyum sinis, dan berucap, “Untuk apa memikirkan hal itu? Bukankah kau sudah terbiasa tinggal di dalam planet yang penduduknya sedikit ini? Kau bahkan tidak perlu khawatir tentang kebutuhan hidupmu, bukan? Lupakan saja pria tua bodoh itu.”

__ADS_1



Meteorix tiba-tiba menoleh dan menatap Hyerixon dengan tatapan yang tajam, kemudian berseru, “Apakah kau lebih baik daripada Xyon? Hei, setiap kali ada sebuah planet yang terhisap ke dalam lubang hitam itu, kau tidak pernah menolongnya. Kau justru dengan sengaja memerintahkan pasukan-pasukanmu untuk menculik penduduknya dan memaksa mereka untuk menelan pil Vanta Hitam yang berisi materi gelap tidak murni! Lalu, kalian akan mencuci otak serta menjadikan mereka sebagai budak, pelayan, dan pasukanmu!”


__ADS_2