Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Dovrix yang Mengejutkan


__ADS_3

“Ah, bahkan kau tidak bisa menjawabnya. Baiklah, kalau begitu. Karena ia sudah melihat semua kejadian ini, ada baiknya pria manusia itu kubunuh juga, sekarang!” teriak Flerix.


Ia langsung mengayunkan pedang kosmiknya ke arah Keiri, dan Anexta hanya bisa memejamkan kedua matanya, tanpa bisa melawan sama sekali. Mendadak, sebuah pedang kosmik lainnya menahan ayunan benda tajam tersebut, hingga Flerix terkejut dan menoleh ke samping, dan melihat seorang pria yang sudah sangat ia kenal, dengan wajah yang serius.


Flerix kemudian tertawa kecil dan menurunkan pedang kosmik miliknya sambil menatap pria tersebut. Sementara Anexta perlahan-lahan membuka kedua matanya kembali, para pasukan Silverian justru mengarahkan senjata-senjata kosmik mereka ke arah pria yang sudha menghalangi rajanya barusan.


“Hah! Jenderal Senior! Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu!” seru Flerix dengan senyum sinis di wajahnya.


Pria yang baru saja menahan serangan Flerix kepada Keiri, ternyata adalah Xyon, yang datang secara tiba-tiba, tanpa memberitahukannya kepada siapa pun.


“Ah, begini. Pria manusia itu adalah makhluk mortal, bukan? Karena ia sudah melihat seluruh kekacauan yang kita lakukan bersama di sini, bukankah seharusnya ia … dibunuh untuk membungkam mulutnya, Xyon?” tanya Flerix, masih dengan senyum sinisnya.


“Pergilah!” teriak Xyon sambil mengarahkan ujung pedang kosmik miliknya di depan batang hidung Flerix.


Raja dari Silverian itu sama sekali tidak takut. Ia justru tertawa kecil setelah melihat sikap Xyon.


“Seharusnya kau tidak berada di sini, Jenderal Senior,” ucapnya pelan.


Anexta tiba-tiba melotot tajam menatap Xyon setelah mendengarkan ucapan itu dan berteriak, “Jenderal Senior Xyon! Desa itu!”


“Apa?!” teriak Xyon yang langsung mengetahui bahwa ini semua adalah jebakan yang dibuat oleh Flerix.


Tentu saja, Flerix tidak akan membiarkan Xyon pergi menuju desa itu. Ia langsung mengarahkan ujung pedang kosmiknya tepat di bawah leher pria tua itu.


“Sudah kubilang sebaiknya kalian pergi dari sini. Lihatlah, berapa banyak korban manusia yang jatuh akibat ulah kalian?” tanya Raja dari Silverian itu dengan sedikit tawa.

__ADS_1


“Kau, pria sialan!” teriak Xyon dengan wajah yang dipenuhi amarah.


Ia lalu mengayunkan pedang kosmiknya dan menyerang Flerix secara brutal. Flerix memang menghindar beberapa kali, walaupun ia sebenarnya terlihat sedikit kewalahan karena serangan-serangan Xyon yang sangat cepat.


Melihat kesempatan ini, Anexta kemudian menoleh ke arah Keiri yang masih tersungkur. Ia langsung memperhatikan luka sayatan yang didapat pria manusia itu, dengan wajah yang terlihat panik.


“Aku akan membantumu untuk berdiri. Cepat, kita harus segera pergi dari sini,” bisik Anexta.


Ia kemudian menahan tubuh Keiri yang sedang berusaha untuk bangkit, namun, begitu mereka sudah berdiri tegak, seorang pria Silverian lainnya langsung mengarahkan ujung pedang kosmiknya tepat di depan Keiri. Mereka berdua langsung terdiam dan terkejut.


Anexta menatap pria dari Silverian itu dengan sorot mata yang tajam, lalu berseru, “Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku membunuhmu!”


Sebuah pedang kosmik yang berwarna biru muda tiba-tiba muncul di dalam genggaman tangan Anexta. Ia terpaksa menggunakannya, hingga Keiri terkejut dengan aksinya itu. Pria manusia tersebut bahkan melotot tajam ke arah pedang kosmiknya.


“Kau … siapa sebenarnya kau ini? Siapa sebenarnya kalian?” tanya Keiri pelan.


Pria dari Silverian yang kini berada di depannya dan siap untuk menyerang sang Ratu dari Palladina itu adalah Dovrix. Flerix dan dirinya memang sengaja menjebak Anexta di dalam hutan, agar pasukan-pasukan Silverian lainnya bisa pergi ke desa tersebut dan membunuh semua orang yang ada di dalamnya. Mereka juga sudah diperintahkan untuk mengambil energi serta sumber daya di sana dengan tindakan yang cepat.


“Kau! Benar-benar sialan!” teriak Anexta.


Ia dengan cepat maju ke depan dan menyerang Dovrix. Pria Silverian itu rupanya sangat cepat membaca semua serangan Anexta, dan menghindarinya tanpa terluka. Karena sudah dipenuhi oleh amarah, Anexta yang terus menerus menyerang Dovrix rupanya tidak sadar bahwa ia sudah terlalu jauh melangkah dari Keiri, sementara Xyon dan Flerix sedang bertarung di sisi lainnya.


Beberapa pasukan Silverian dengan cepat melihat kesempatan ini. Mereka langsung mengepung Keiri yang terlihat semakin lemah dan hampir terjatuh, dengan berdiri mengelilinginya dan mengarahkan senjata-senjata kosmik mereka di hadapannya.


Keiri hanya bisa menghela nafas panjang. Ia menekan luka sayatan yang ada di bagian perut kiri bawahnya dengan sebelah tangan, agar darah tidak mengalir semakin deras. Ia menatap satu per satu pasukan-pasukan Silverian dengan wajah yang terlihat semakin pucat.

__ADS_1


“Kalian semua ini sebenarnya, siapa?” tanyanya pelan.


Ia kini merasa semakin lemah. Pandangannya mulai kabur. Ia bahkan tidak bisa lagi melihat Anexta dari kejauhan.


Dovrix mulai terpojok karena serangan-serangan Anexta yang cepat dan brutal, mulai membuatnya kewalahan. Anexta berhasil membuat tubuhnya tersudut di salah satu pohon besar. Mereka berdua terlihat sedang menahan senjata kosmik masing-masing agar tidak melukai diri sendiri.


“Pergilah bersama dengan rajamu. Planet ini bukanlah tempat bagi kalian. Energi yang ada di dalamnya serta seluruh sumber dayanya, adalah milik para makhluk mortal. Enyahlah kalian, sebelum aku membunuhmu atau Xyon yang mungkin akan terlebih dahulu membungkam rajamu,” bisik Anexta.


Dovrix tersenyum sinis, lalu membalas, “Kau kira akan semudah itu?”


“Apa maksudmu?” tanya Anexta sambil mengernyitkan dahinya.


Dovrix masih menahan pedang kosmik milik Anexta dengan pedang kosmik miliknya hanya dengan satu tangan. Ia kemudian mengangkat salah satu tangannya yang lain, dan sebuah belati kecil tiba-tiba muncul di dalam genggamannya. Ratu dari Palladina tersebut langsung melotot ke arah belati kecil itu, dan langsung mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Dovrix selanjutnya.


Pria Silverian tersebut mendadak dengan cepat melemparkan belati kecil itu ke arah Keiri, dan benda kecil yang tajam ini kini melesat menembus angin.


“Sialaaaaan!!!” teriak Anexta dengan anda tinggi hingga semua orang yang ada di sana bisa mendengarnya, termasuk Xyon dan Flerix yang mendadak berhenti untuk saling menyerang dan menoleh ke arahnya.


Anexta langsung berlari ke arah Keiri untuk menyelamatkannya hingga pedang kosmik miliknya mendadak hilang, berubah menjadi debu halus di udara. Namun, belati kecil itu rupanya lebih cepat. Benda tajam tersebut mendarat tepat sasaran dan menikam jantung Keiri.


“Ahhh!” desah Keiri, sambil mulai merasakan dan menahan sakit ketika belati itu menancap dan merobek jantungnya.


Ia kini terjatuh di atas tanah, dengan darah yang mengalir deras dari dalam luka tusuknya.


“Tidak! Tidak! Keiri! Keiri!” teriak Anexta.

__ADS_1


Ia lalu berhenti berlari dan langsung berlutut di hadapan Keiri yang sudah tersungkur, kemudian, ia merangkul pria manusia itu dan mulai menangis perlahan, sambil menatap Keiri dengan wajah yang sendu.


Anexta mengelus wajah Keiri perlahan. Ia juga memperhatikan belati yang masih menancap di dalam dada pria manusia itu, namun, ia tidak mungkin mencabutnya.


__ADS_2