
"Tidak mungkin!" seru Keira dalam hatinya.
Kedua bola matanya berkaca-kaca setelah mendengar pengakuan yang keluar langsung dari mulut suaminya itu. Aerim dan Higarashi yang masih berada di dalam, kali ini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang serius.
"Baiklah. Aku akui bahwa aku mulai memperhatikannya ketika ia memberitahukan kepadaku bahwa Keira ada di dalam Bola Hellox milikmu. Ia berkata kepadaku bahwa ia adalah tawanan pribadimu dari salah satu planet yang kau hancurkan. Wajahnya tampak sendu walaupun ia tersenyum, dan aku merasa … hidupnya lebih keras daripada Keira," lanjut Higarashi.
Aerim tersenyum sinis semakin lebar, lalu tertawa sebentar.
"Astaga, yang benar saja! Ia sendiri yang datang kepadaku untuk meminta bantuan!" seru Raja dari Silverian itu dengan nada tinggi.
"Ia juga datang kepadaku, ketika aku dan Keira terpisah di taman hiburan itu. Ia juga adalah wanita yang memberitahukan rencana jahatmu kepada aku dan Xyon. Aku menemuinya setelah masa berkabung semesta untuk Keira, di pantai yang sama di Planet Bumi. Ia bahkan berkata kepadaku bahwa Keira masih hidup, bukan justru meyakinkanku bahwa Keira sudah tewas. Viora adalah wanita baik-baik, tidak seperti yang kalian bayangkan!" balas Higarashi.
Aerim langsung menggelengkan kepalanya sekali.
“Baik-baik, menurutmu?! Astaga, ia pernah bekerja sama dengan Chexy untuk meracuni Keira untuk memisahkan kalian, dan kau masih berkata bahwa ia adalah wanita baik-baik? Ia bukan Viora, Higarashi. Ia adalah Meteorix. Viora … ya, nama yang kuberikan kepadanya karena ia takut jika para Ruthenia itu mengetahui identitas aslinya!” ujar pria muda tersebut dengan wajah yang memerah karena menahan emosi.
“Aku …, aku tidak enak hati kepadanya, Aerim. Sebelum aku tahu bahwa Keira masih hidup, aku menawarkan kepadanya posisi permaisuri yang sedang kosong. Hatinya pasti sangat sakit,” ucap Raja dari Halida tersebut sambil menunjukkan wajah sendu.
Aerim langsung mencengkram kerah baju Higarashi dengan tangan kanannya dan mengangkatnya dengan kasar sambil melotot tajam, lalu ia berseru, "Kau benar-benar sudah gila!!"
Ia lantas mengepalkan tangan kirinya, hendak memukul Higarashi, namun tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dengan kasar. Mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu, melihat Keira yang sedang berdiri di sana sambil meneteskan air mata.
Aerim langsung menurunkan kedua tangannya dan bergumam sambil melotot, "Keira?"
__ADS_1
"Kau … sejak kapan berada di depan ruangan ini?" tanya Higarashi dengan mata yang memerah, wajahnya bahkan tampak panik.
Mereka bertiga terdiam sesaat, lalu setelah beberapa saat, Keira mulai tersenyum sinis. Senyumnya itu membuat Aerim dan Higarashi kebingungan.
"Ah, begitu. Sepuluh tahun penantian panjang, akhirnya akan kalah dengan seseorang yang datang dalam waktu yang singkat. Bukankah ini semua sangat lucu?" tanya Keira sambil meneteskan air mata.
"Keira!" seru Higarashi, namun Keira memotongnya dengan berseru, "Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa cinta itu dapat membuatmu bodoh, termasuk juga bisa menghancurkan dirimu sendiri! Energi cinta itu hanyalah perasaan mortal yang seharusnya tidak menjadi halangan untuk membunuh seseorang!”
Air mata Keira mengalir deras setelah ia berkata seperti itu, lalu dengan cepat, ia berlari, meninggalkan Aerim dan Higarashi yang masih berada di sana.
"Keira! Keira!" seru Higarashi, yang langsung mendorong tubuh Aerim kemudian berlari keluar, mengejar istrinya itu.
Aerim hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap keduanya.
Keira berlari hingga ia tiba di depan kamarnya. Namun, begitu ia baru saja membuka pintu, Higarashi tiba-tiba mencengkram tangannya dari belakang, dan dengan cepat, Raja dari Halida tersebut menariknya masuk ke dalam, tidak lupa untuk menutup rapat pintunya.
Permaisuri dari Halida tersebut langsung melepaskan cengkraman Higarashi dari tangannya begitu mereka sudah berada di dalam. Ia lalu menatap suaminya itu dengan sorot mata yang tajam.
"Apalagi yang akan kau lakukan padaku setelah menyakiti hatiku?" tanya Keira dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
Keduanya tidak menyadari bahwa Aerim sudah berada di depan pintu kamar, sambil tentu, mendengarkan percakapan mereka.
"Keira, kau harus mendengarkan semuanya terlebih dahulu …,” balas Higarashi dengan wajah sendu, namun ucapannya terpotong begitu Lighting Double Cross milik Keira, muncul di dalam kedua genggaman tangan istrinya itu.
__ADS_1
Higarashi melotot tajam, kemudian bertanya, “Keira, apa yang akan kau lakukan?!”
Keira langsung mengarahkan salah satu pedang kosmiknya itu tepat di hadapan wajah suaminya. Higarashi sangat terkejut dengan aksinya, bahkan ia melihat kedua bola mata perempuan Crossbreed tersebut sudah berubah warna menjadi biru tua.
"Bunuh aku sekarang juga dengan senjata kosmik milikmu. Jika kau tidak bisa membunuhku, maka kau harus membiarkanku untuk pergi dari sini dan tinggal kembali di dalam Planet Bumi bersama anak-anakku!" seru Keira dengan nada tinggi.
Keringat dingin Higarashi mulai keluar membasahi wajahnya.
"Tidak mungkin aku melakukan hal itu!" balasnya sambil melotot.
Keira tersenyum sinis, "Tidak bisa? Kau menyakiti hatiku, lantas mengapa tidak bisa membunuhku? Senjata kosmikmu hanyalah sebuah pedang berwarna merah yang ukurannya sama kecil seperti yang digunakan oleh Paman Xyon. Aku melakukan Televatia kepadamu dari sejak awal kau menelan pil putih yang diberikannya, dan mengubah pedang lemah itu menjadi Divine Sword! Sekarang, bunuhlah aku dengan pedang kosmik tersebut!”
Suasana di dalam kamar menjadi sangat tegang. Dua orang yang tadinya saling mencintai, kini justru menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam, bahkan salah satunya mulai mengancam.
Perempuan berambut biru tua itu kemudian berkata lagi, "Aku sedang tidak ingin bertarung denganmu hanya karena anak-anak kita. Aku sudah menghabiskan banyak energi antimateri agar mereka bisa terlahir sebagai makhluk immortal. Lalu, apa yang sudah kau korbankan untukku, Higarashi? Bukankah kau masih menjadi seorang raja, bahkan setelah menikah dengan Crossbreed sepertiku? Lihat, tidak ada yang melawan keputusanmu, bukan?"
"Keira! Aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Viora! Sama sekali tidak!" seru Higarashi dengan wajah yang tampak panik.
"Hah?! Bukankah kau tadi berkata bahwa kau bahkan memintanya untuk menjadi Permaisuri dari Halida dan menggantikanku?! Kalau begitu, aku akan dengan senang hati, turun dari tahta ini. Ah, akhirnya aku bisa terbebas dari salah satu beban berat yang membuat kepalaku sakit!" seru Keira dengan nada tinggi.
Aerim yang masih berada di luar kamar langsung menjadi panik begitu ia mendengar Keira yang sepertinya sangat serius, lalu ia bergumam di dalam pikirannya, "Astaga. Perang antar planet bisa kembali terjadi karena hal ini!"
Ia lantas berlari menuju ke halaman belakang istana dan mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil yang kemudian melesat ke luar angkasa.
__ADS_1