
Nordian yang berada di dalam istana, berkeliling dan mengumpulkan beberapa orang perawat untuk dibawanya menuju ke Planet Silverian. Tiba-tiba seorang perawat perempuan berlari dengan tergesa-gesa lalu berhenti di depannya dengan wajah yang panik. Ia lantas menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Jenderal Senior itu. Kedua tangannya gemetaran hingga Nordian menjadi curiga akan kehadirannya.
"Astaga, apa yang sudah terjadi?! Mengapa kau ketakutan seperti itu?!" tanya Nordian sambil membantu perawat perempuan tersebut untuk berdiri dengan tegak.
"Tuan …. Tuan …!" seru perawat perempuan itu dengan tubuh yang masih gemetaran hingga bibirnya pun menjadi susah untuk mengucapkan masalahnya.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, tarik nafas panjang, lalu katakan padaku ada apa, Perawat," balas Nordian sambil mengernyitkan dahinya.
Perawat perempuan itu kemudian menghela nafas panjang dan berusaha untuk tenang. Setelah beberapa saat, ia kemudian memberanikan diri untuk melaporkan sesuatu.
"Tuan … sesungguhnya…. Aku mengintip dari balik pintu setelah perempuan itu keluar dari ruang bersalin, tepat setelah ia menggunting tali pusar bayinya. Aku … lalu …," ucap perawat perempuan tersebut masih dengan bibir yang gemetar.
"Tenangkan dulu dirimu, lalu katakan, ada apa?" tanya Nordian lagi.
"Aku mengikutinya dari belakang secara diam-diam, dan melihat seorang pria Silverian membunuh perempuan itu, Tuan …. Ia memakai baju pelayan Palladina, namun maaf, aku tidak mendengar dengan jelas apa yang sudah mereka bicarakan. Aku hanya mengetahui bahwa pria Silverian itu menyamar menjadi seorang pelayan Palladina, dan menurut perempuan itu, ia sudah menunggunya sejak lama di depan pintu ruang bersalin," jawab perawat perempuan itu dengan wajah gusar.
"Lalu, di mana perempuan itu dan bayinya sekarang? Apa yang sudah pria Silverian itu lakukan kepadamu?!" tanya Nordian dengan wajah serius.
Perawat perempuan itu tiba-tiba menundukkan kepalanya dan memejamkan mata, kemudian berkata, “Aku langsung berlari menuju ke ruang rahasia di mana temanku dan bayi dari perempuan itu sedang berada, Tuan!”
Nordian melotot tajam, kemudian menggelengkan kepalanya sekali.
__ADS_1
"Terima kasih, Perawat. Aku akan segera memberitahukan hal ini kepada Perdana Menteri," balas Nordian, kemudian, ia dengan cepat berlari keluar dari istana menuju ke halaman depan.
Namun, begitu tiba di sana, ia langsung terkejut melihat Arex yang rupanya sudah kembali dan terlihat sedang berbicara serius dengan Xyon, Weim, dan Higarashi. Nordian kemudian berlari kecil mendekati Xyon, lalu berdiri di sampingnya sambil mengernyitkan dahi.
"Xyon," ucap Nordian, namun, Xyon tiba-tiba berkata, "Nordian, aku tidak ada waktu lagi. Keira sudah mengorbankan dirinya sendiri dengan memberikan energi kosmiknya kepada Planet Silverian. Aku dan Higarashi akan segera pergi ke sana, kau dan yang lainnya tetaplah di sini."
"Xyon, ada sesuatu yang harus kukatakan," balas Nordian, sayangnya, Xyon langsung memotongnya lagi dengan berseru, "Tidak ada yang lebih penting daripada Keira saat ini!"
Perdana Menteri dari Palladina itu dan Higarashi kemudian melangkah ke depan dan berubah menjadi dua buah bintang kecil, lalu melesat ke luar angkasa.
Melihat wajah Xyon dan Higarashi yang dipenuhi kepanikan dan ketakutan serta kekhawatiran yang luar biasa, Nordian kemudian mendekati Arex dan berbisik di sebelahnya, "Apa yang sudah terjadi, Arex? Sepertinya sesuatu yang gawat sekali."
"Keira …. Keira …," ucap Arex dengan bibir yang gemetar.
Nordian langsung melotot kepada Weim, dan dengan wajah yang tampak terkejut, ia berseru, "Tidak mungkin! Keira sangat kuat! Ia adalah Crossbreed terkuat yang ada di alam semesta ini, Weim! Apa maksudmu dengan berkata bahwa ia sudah tewas?!"
"Nordian!! Aku melihat sendiri ledakan energi kosmik yang begitu hebat hingga mampu membuat Planet Silverian kembali berotasi pada porosnya, dan warna planet itu sudah menjadi seperti semula, serta posisinya sekarang berada di urutan ketiga setelah Planet Halida! Katakan kepadaku, Nordian, bahwa Planet Silverian kini sudah pulih dan mendapatkan cahaya dari Goldinian. Lantas, energi kosmik apa yang dimiliki oleh Keira, hingga bisa membuat keajaiban sebesar itu, tanpa mengorbankan nyawanya?!" seru Arex panjang lebar, dengan wajah yang kesal, namun juga sendu.
Mereka kemudian terdiam. Weim hanya bisa menghela nafas panjang sementara Arex dan Nordian kini saling membelakangi satu sama lain.
Sementara itu di dalam Planet Silverian, pemandangan kini sudah terlihat berbeda. Pepohonan dan bunga-bunga yang kembali tumbuh dan berwarna warni, langit yang cerah dengan pantulan sinar dari bintang induk Goldinian, dan juga … energi gelap yang tidak lagi terasa di dalam planet tersebut.
__ADS_1
Semua orang terlihat sedang berbaring di atas tanah dan tidak sadarkan diri, termasuk pasukan-pasukan Silverian. Mereka semua pingsan karena terkejut dengan ledakan energi kosmik yang sangat kuat tadi. Namun, ada seorang pria berambut abu-abu dan bola mata emas yang masih tersadar di halaman depan istana kerajaan planet tersebut sambil berlutut dan menangis.
Wajahnya tampak memerah. Ia berkali-kali memukul tanah yang kini sudah kembali berwarna coklat, dengan tangan kanannya hingga terluka. Kemeja dan celana hitam yang dipakainya bahkan terlihat robek di beberapa bagian.
"Benar-benar perempuan bodoh! Kau tewas begitu saja setelah kau mengembalikan planet ini seperti semula? Lalu bagaimana caranya aku berterima kasih kepada dirimu, bodoh!! Kau adalah seorang Crossbreed, Keira! Kau tidak mungkin lemah seperti itu setelah melakukan semua hal besar ini!! Keira, kembalilah!!!" teriaknya dengan air mata yang mengalir deras.
Ia terus menerus menangis dengan keras, tidak peduli dengan luka di tangannya yang semakin melebar.
"Keira!! Keira!! Mengapa kau harus tewas sekarang?! Perang ini belum usai! Kau harus kembali, Keira! Kau adalah seorang Crossbreed, bukan?! Kau sendiri yang berkata bahwa energi kosmik yang kau miliki adalah yang terkuat di seluruh alam semesta! Keira! Kembalilah! Kau masih harus melawanku!" teriak pria Silverian itu, Aerim, dengan wajah yang sendu.
Ia terus memukul-mukul tanah, lalu tanpa sengaja, tangan kanannya menghantam sebuah benda keras yang berada di dalam tanah.
“Ahhhh!” teriaknya, lalu ia menoleh ke arah benda itu.
Dengan wajah yang penuh rasa penasaran, Aerim lantas menggali tanah tersebut, dan setelah beberapa saat, ia menemukan sebuah Starlet berwarna biru muda. Raja dari Silverian itu kemudian mengambil dan meletakkannya di atas telapak tangan.
“Keira,” gumamnya pelan, sambil menatap Starlet tersebut dengan wajah yang sendu.
"Starlet itu keluar dari dalam tubuhnya,” ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakangnya.
Aerim langsung menoleh ke belakang, lalu bangkit, kemudian berdiri di hadapan pria itu.
__ADS_1
“Kukembalikan saja benda ini kepadamu, Higarashi,” balas Aerim sambil menatapnya dengan air mata yang masih mengalir, lalu menyerahkan Starlet itu kepada pria tersebut, yang rupanya adalah Higarashi.