
Ia terus berlari hingga pada akhirnya ia tiba di depan sebuah pintu ruangan yang kosong. Raja dari Silverian itu kemudian berhenti berlari dan tersenyum sinis sambil menatap ke depan.
"Di sini kau rupanya, Higarashi," ucapnya dengan wajah yang kesal.
Seorang pria yang sedang berdiri di tengah-tengah lorong itu lantas menoleh ke arah Aerim dan menatapnya dengan wajah yang serius. Ia adalah Higarashi, yang sudah kembali ke wujud asalnya, bukan lagi sebagai Victory Higarashi.
“Ah, kau pasti sedang kebingungan. Istana ini seperti labirin, dan lebih parahnya lagi, energi bintang tidak bisa digunakan di sini, karena energi gelap yang terlalu dominan, bukan?” tanya Aerim, masih dengan senyum sinis.
"Di mana Keira, Aerim?!" seru Higarashi, namun dengan nada tinggi.
Aerim kemudian tertawa sebentar, lalu berkata, "Ternyata Televatia itu tidak bertahan lama. Jika begitu, cari saja istrimu sendiri, bukankah kau masih bisa mengubah dirimu menjadi Victory Higarashi?!"
"Sialan! Kau lihat saja, Aerim! Energi cinta yang kami miliki akan segera membuatmu menyesal sudah membawanya kemari!" balas Higarashi.
"Cinta?! Energi cinta itu hanya ilusi! Tidak ada yang namanya cinta! Itu semua hanya perasaan yang dibuat-buat oleh manusia mortal! Cinta itu bisa membuatmu bodoh dan buktinya, planetmu saja hampir hancur karena cinta, bukan?! Hahaha!" ujar Aerim sambil tertawa.
"Tidak, Aerim, kau salah! Hanya cinta yang bisa menghentikan perang di antara kita! Kau harus belajar mencintai, Aerim!" ucap Higarashi.
"Aku mencintai Keira, Higarashi. Jadi, agar galaksi ini kembali damai, bagaimana jika kau menceraikan Keira dan menyerahkannya kepadaku?" tanya Aerim dengan senyum sinis yang lebar.
Higarashi menggeram dan mulai mengepalkan tangan kanannya sambil menahan seluruh emosi.
“Ah, buang-buang waktu saja berbicara denganmu!” seru Aerim, lalu, kabut-kabut hitam menyelimuti seluruh tubuhnya dan ia langsung menghilang begitu saja.
"Sialan! Aerim!!" seru Higarashi dengan wajah yang tampak panik.
__ADS_1
Ia kemudian berlari ke segala arah, tanpa tujuan.
“Benar-benar istana labirin, sekali masuk ke dalamnya, susah sekali untuk keluar! Sialan!” serunya sambil memperhatikan segala sudut istana itu.
Higarashi mulai kelelahan, karena energi cahaya yang dimilikinya sudah mulai menipis. Ia kini memperlambat langkahnya, hingga pada suatu lorong, ia memutuskan untuk berhenti melangkah. Nafasnya berat, bahkan sesekali, Higarashi mengambil nafas dalam-dalam.
"Sialan, ke mana ia sembunyikan Keira?! Aku hanya ingat Keira mengatakan bahwa ia sedang berada di dalam bola hitam raksasa, namun, di mana bola itu?" gumamnya kesal.
“Mengapa kau tidak memperhatikan bagian belakang istana ini ketika kau mendarat tadi, sayang?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakangnya.
Higarashi terkejut dengan suara wanita itu, kemudian ia menoleh ke belakang. Seorang wanita berambut hitam dengan kedua bola matanya yang juga berwarna hitam, entah sejak kapan sudah berada di sana. Higarashi kemudian lalu berdiri tegak sambil menatap wanita itu dengan wajah yang serius.
“Aku … sama sekali tidak melihat bagian belakang istana ini karena terlalu panik,” balas Higarashi.
Wanita itu tertawa kecil sebentar, kemudian berkata, “Tidak heran mengapa Aerim menyebut dirimu sebagai Raja yang bodoh. Aerim hendak menghisap seluruh energi perempuan itu dengan bola hitam raksasa yang bernama Bola Hellox.”
"Siapakah dirimu, Nona? Mengapa kau tahu apa yang akan dilakukan Aerim kepada Keira?" tanyanya dengan wajah yang penuh kecurigaan.
"Aku? Aku adalah seorang tawanan di sini. Aku mengenalmu, kau, dan perempuan. Kalian pernah makan di sebuah restoran satu-satunya yang berada di pantai itu, bukan?" jawab wanita tersebut.
Ia tersenyum kecil. Usianya mungkin sedikit lebih tua daripada Higarashi, namun, wajahnya masih terlihat muda. Senyuman di wajahnya pun membuat Raja dari Halida itu tidak merasakan kehadirannya sebagai ancaman.
Higarashi kemudian mengingat-ingat lagi, kejadian di pantai pada waktu itu, lalu ia mengangguk setelah tersadar akan sesuatu, dan menatap lagi wanita tersebut dengan wajah yang tampak tenang kali ini.
"Ah, kau adalah Viora. Aku ingat sekarang. Kau adalah pemilik restoran itu. Namun bag,aimana bisa kau menjadi tawanan di sini? Mengapa kau tahu tentang rencana Aerim kepada Keira?" tanya Higarashi.
__ADS_1
Wanita itu, Viora, menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lagi kepada Higarashi dan berkata, “Aku adalah seorang putri bangsawan dari Ruthenia. Namun, kedua orang tuaku sudah meninggal.”
“Ah, begitu. Lalu?” tanya Higarashi karena penasaran.
“Aku kebetulan saja sedang mengunjungi salah satu temanku di dalam sebuah planet yang letaknya jauh dari Tata Surya Goldinian. Sayangnya, Aerim datang bersama prajuritnya dan mengambil seluruh energi kosmik serta sumber daya yang ada di dalam planet itu, termasuk menjadikan seluruh penduduk sebagai tawanannya. Demi bertahan hidup, ia menawarkan kepadaku untuk menelan pil yang berisi energi gelap, dan mengharuskanku untuk patuh kepadanya dan tinggal di sini untuk selamanya,” jawab Viora dengan wajah yang sendu.
Higarashi tiba-tiba mengingat Keira dan berkata, “Ah, maafkan aku, aku harus segera mencari Keira. Kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu, Viora.”
Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Viora, namun, setelah beberapa saat, Higarashi justru menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah wanita itu, serta menatapnya dengan wajah yang terlihat serius.
Viora lalu tersenyum kepadanya dan bertanya, “Apakah ada lagi yang bisa kubantu untukmu?”
"Mengapa kau memberitahukanku di mana Keira dan rencana Aerim? Apakah ini semua adalah bagian dari jebakan yang kalian buat untukku dan istriku?" tanya Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
Wanita itu tertawa kecil, kemudian menjawab, "Kau adalah Yang Mulia Raja Higarashi dari Halida. Kau pikir aku tidak ingin bebas dari sini? Seluruh informasi ini tidak gratis. Aku hanya ingin meminta bantuanmu agar bisa bebas dari cengkraman Aerim.”
"Aku harus mempercayaimu terlebih dahulu," ucap Higarashi.
Viora tersenyum lagi, lalu membalas, "Aku akan menunjukkan kepadamu di mana Bola Hellox itu berada."
Ia kemudian berjalan terlebih dahulu menuju di mana Bola Hellox itu berada, dan Higarashi mengikutinya dari belakang, tentu saja dengan sangat waspada.
Sementara itu, kabut-kabut hitam mendadak muncul di atas Bola Hellox yang berada di halaman belakang istana. Aerim lalu muncul dari balik kabut-kabut hitam itu, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di atas bola hitam raksasa tersebut dengan wajah yang serius.
“Hisaplah energi perempuan itu sekarang juga, seluruhnya!!” seru Aerim.
__ADS_1
Kilatan energi gelap kemudian muncul dari dalam kedua telapak tangannya, lalu menyambar Bola Hellox tersebut secara perlahan, dari atas hingga ke bawah. Setelah itu, Aerim terbang melayang di atas bola hitam raksasa tersebut, sambil memperhatikan benda itu dengan wajah yang gembira dan senyum sinis.
Bola hitam raksasa itu kini bercahaya … namun warna sinarnya adalah hitam, bersiap untuk menghisap energi kosmik dari korbannya.