Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Starlet yang Menawan


__ADS_3

"Higarashi," ucap Keira pelan, lalu ia meraih lengan pria itu, kemudian melanjutkan, "Aku tidak ingin pulang. Aku sangat takut … baru kali ini aku menghadapi Silverian itu secara langsung … aku bahkan berpura-pura tidak takut di depannya!”


"Keira, aku berada di sini bersamamu, tenang saja, aku akan selalu melindungimu!" balas Higarashi, kemudian ia memeluk erat gadis itu yang wajahnya terlihat penuh dengan ketakutan.


Ia lalu melepaskan pelukannya setelah beberapa saat, kemudian menggandeng Keira dan berjalan bersama, hingga tiba di sebuah halte. Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dan mereka langsung naik ke atasnya. Mereka duduk berdampingan, dan Higarashi masih terus memegang tangan Keira.


Mendadak, gadis itu berbisik pelan kepada Higarashi, "Aku … tidak ingin sendirian …."


Genggaman gadis itu semakin erat hingga membuat Higarashi bisa merasakan ketakutan yang sedang dirasakannya.


"Aku takut membunuh seseorang dengan senjataku," bisik Keira lagi.


Higarashi langsung tersadar setelah mendengarkan ucapan itu. Ia sekarang tahu bahwa gadis tersebut belum terbiasa dengan kekuatan yang dimilikinya, maka itu Keira terlihat sangat ketakutan. Setelah melalui perjalanan yang panjang, bus tersebut akhirnya berhenti di sebuah halte yang dekat dengan rumah Higarashi.


Ia kemudian menggandeng Keira turun dari bus, lalu berjalan bersama hingga mereka berdua tiba di depan rumah sementara miliknya. Higarashi kemudian membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Keira untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


"Silakan duduk, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu," ucapnya.


Keira lalu duduk di atas kursi dekat meja makan, kemudian Higarashi pergi menuju ke dapur lalu membuat secangkir susu coklat hangat, dan memberikannya kepada gadis itu. Mereka berdua lalu duduk berdampingan, namun wajah Keira masih terlihat ketakutan. Tangannya pun gemetaran, dan Higarashi tentu memperhatikan hal itu.


Setelah Keira menghabiskan minuman tersebut dengan tergesa-gesa, ia kemudian berkata, "Aku benar-benar takut akan membunuh dengan Lightning Double Cross …."


Higarashi menghela nafas panjang.


"Aku sendiri baru dua kali memegang Divine Sword milikku sendiri, dan aku sangat mengerti ketakutanmu itu," balasnya.


Keira langsung menoleh ke arahnya karena kebingungan dengan ucapan tersebut.


"Namun kau adalah seorang Halida, mengapa bisa memiliki senjata? Paman Xyon menjelaskan kepadaku, bahwa hanya Palladina dan Silverian yang bisa membuat senjata kosmik," tanyanya.

__ADS_1


"Senjata kosmik milikku, berasal dari pil putih yang diberikan oleh Perdana Menteri Xyon pada waktu itu …," jawab Higarashi, namun, Keira terlihat mengantuk.


Pria itu kemudian menghela nafas pendek, lalu berkata, "Keira, tidurlah di atas ranjang. Aku akan tidur di atas sofa di ruang tamu."


Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kamar satu-satunya di sana yang terletak dekat dengan ruang tamu, membuka pintu, lalu membereskan ranjangnya. Keira melihatnya, dan ketika Higarashi sudah selesai, ia kembali menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum.


“Tidurlah di sini jika kau memang merasa ketakutan. Aku akan berada di luar,” serunya.


Keira lantas berjalan menuju ke ranjang itu dan berbaring di atasnya.


“Maafkan aku sudah merepotkanmu,” bisiknya.


Higarashi menggelengkan kepala, lalu membalas, “Tidak masalah. Sudah terlalu malam untuk kembali. Tidurlah di sini terlebih dahulu.”


Keira menghela nafas panjang, kemudian mengambil selimut dan menyelimuti dirinya sendiri.


“Jangan terlalu rapat menutup pintunya,” ujar gadis itu.


"Perdana Menteri Xyon akan memarahiku besok karena hal ini," ucapnya pelan, kemudian ia memejamkan mata, dan berusaha untuk tidur.


Sementara Keira hanya terdiam sambil menatap keluar jendela yang hanya dihalangi oleh gorden tipis sehingga cahaya bulan bisa menembusnya.


"Aku ingin mengubah semua ini," ucap Keira.


"Ada apa, Keira? Apakah kau susah untuk tertidur?" tanya Higarashi yang rupanya bisa mendengar jelas ucapan tersebut.


"Higarashi, aku ingin mengubah semua ini menjadi lebih baik. Aku tidak ingin membunuh siapa pun …," jawab Keira pelan.


Pria itu menghela nafas pendek, lalu bertanya, "Apa yang akan kau lakukan kepada para Silverian itu?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengembalikan cahaya yang seharusnya mereka dapatkan, agar Galaksi Metal bisa kembali damai tanpa harus berperang seperti ini," jawab Keira.


Higarashi tiba-tiba berdiri, lalu berjalan masuk ke dalam kamar, menuju ke lemari pakaian miliknya yang terletak di sudut. Ia membuka lemari tersebut, kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya. Setelah mendapatkan benda itu, ia lalu berjalan menuju ke ranjang di mana Keira sedang berbaring di atasnya, dan duduk di sampingnya.


Higarashi kemudian memperlihatkan benda tersebut kepada Keira. Gadis itu lalu terbangun dan duduk di atas ranjang, sambil menatapnya dengan wajah yang kebingungan.


"Apa ini, Higarashi?" tanya Keira.


"Starlet. Ini adalah kalung yang menandakan bahwa bintang-bintang di atas langit, merestui pemakainya untuk menggunakan energi kosmik mereka, sebagai seorang Halida," jawab Higarashi.


Keira menatap Starlet berwarna putih tersebut dengan terkagum-kagum, lalu bertanya lagi, "Apakah ini milikmu?"


"Ah, tidak. Punyaku berwarna merah. Keira, aku ingin kau menjadi pemilik dari Starlet ini," ucap Higarashi pelan.


Wajah Keira memerah setelah mendengar hal itu, lalu ia bertanya, "Apa maksudmu?"


Higarashi kemudian tersenyum kepada Keira, kemudian memberikan Starlet itu kepadanya, lalu menjawab, "Aku akan menemuimu setelah upacara kelulusan, pada siang hari. Semua keputusan ada di dalam dirimu, Keira. Menikahlah denganku. Jika kau bersedia, pakailah Starlet ini ketika aku menemuimu nanti, namun, jika kau tidak memakainya, aku akan pergi dari sini, karena waktuku sudah tidak lama lagi, dan aku harus secepatnya kembali ke Planet Halida …."


Keira kemudian menerima kalung itu dan menatapnya sebentar, lalu menggenggamnya dan berkata, "Memegang kalung kecil ini saja, terasa sangat berat, Higarashi. Aku akan memikirkannya baik-baik. Terima kasih ….”


Higarashi kemudian berbisik, "Aku tidak berniat menikahi wanita lain. Jika kau menolaknya, kita bisa menjadi teman baik. Aku akan selalu ada untukmu."


Keira hanya terdiam, namun, wajahnya benar-benar penuh dengan keraguan besar. Malam itu benar-benar menjadi malam yang penuh dengan tanda tanya besar bagi gadis itu, sementara Higarashi sendiri malah berpikir bahwa Xyon akan memarahinya habis-habisan setelah ini, karena membiarkan Keira tidur di rumahnya, padahal mereka tidak melakukan apapun di situ.


Keesokan paginya, Higarashi kemudian mengantarkan Keira kembali ke rumahnya, namun, mereka berdua sama sekali tidak berbicara di sepanjang perjalanan, bahkan tidak juga bergandengan tangan. Entah mengapa, setelah malam itu, mereka menjadi sangat canggung. Keira bahkan tidak menatap lagi wajah Higarashi, walaupun pria itu sedikit mencuri pandangan ke arah dirinya.


Begitu mereka tiba di depan rumah Keira dan berdiri di depan pagar, mereka berdua justru saling menatap satu sama lain, masih dengan canggung.


"Ehm, kalau begitu, aku akan menemuimu siang hari setelah hari kelulusan," ucap Higarashi.

__ADS_1


Keira hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu kemudian berjalan meninggalkannya untuk kembali pulang.


__ADS_2