
"Pertama, mohon maaf, Yang Mulia. Aku tidak ingin ada kegaduhan di dalam pesta itu nanti, jadi izinkan aku untuk mengundur pernikahan mereka hingga tahun depan, hanya satu tahun lagi. Aku akan mengajarkan Yang Mulia Putri Keira seluruh pengetahuan yang seharusnya ia tahu sebelum menginjakkan kakinya di dalam istana ini sebagai seorang istri dari pangeran mahkota. Tentu saja, Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi diperbolehkan untuk mengunjunginya sesering mungkin. Lalu … yang kedua, karena hanya kalian yang bisa menggunakan energi bintang, bisakah kalian menggandakan surat wasiat ini, untuk diselipkan bersama dengan surat undangan untuk pertunangan mereka nanti?" tanya Xyon sambil menyerahkan surat kosmik tadi kepada Klafina.
Klafina kemudian mengangkat tangan kanannya dan sebuah Star Baton berwarna emas kemudian muncul di dalam genggamannya. Ia lalu mengambil surat kosmik itu dan mengayunkan Star Batonnya.
Energi bintang yang keluar dari ujung benda tersebut, terlihat seperti butiran-butiran halus di udara, yang kemudian mengelilingi surat kosmik itu, dan menggandakannya menjadi dua buah. Star Baton miliknya lalu menghilang, dan Klafina menyerahkan salah satu surat kosmik tersebut kembali kepada Xyon.
"Mudah sekali. Baiklah, aku akan meminta para pelayan untuk menggandakan lagi surat kosmik ini sekaligus menyelipkannya di dalam undangan pertunangan mereka, nanti. Untuk pernikahan, baiklah, Perdana Menteri Xyon. Kami akan menunggu, hanya satu tahun lagi tentu akan cepat berlalu," ucap Klafina.
Xyon tersenyum, lalu ia mengambil surat kosmik itu dari tangan Klafina, kemudian menoleh ke arah Keira dan berkata, "Baiklah, kalau begitu, aku dan Yang Mulia Putri Keira akan kembali menuju ke Planet Palladina terlebih dahulu. Terima kasih, Yang Mulia.”
Xyon hendak berjalan mendekati Keira, namun tiba-tiba, Klafina menghalangi langkahnya dengan berdiri di hadapan sang Perdana Menteri dari Palladina itu dan tersenyum kepadanya.
"Maafkan aku, Perdana Menteri Xyon. Demi kelancaran pesta pertunangan nanti, Yang Mulia Putri Keira harus berada di sini untuk bersiap-siap, karena waktunya hanya tiga hari. Kau bisa membawanya setelah pesta pertunangan itu selesai, Tuan," ujar Klafina.
Xyon terdiam sesaat sambil menatap Klafina, namun setelah beberapa saat, ia lalu menghela nafas pendek dan berkata, "Ah, baiklahlah kalau begitu. Aku akan menitipkannya kepada Anda, jika begitu, dan kembali terlebih dahulu, Yang Mulia.”
Kemudian ia membungkukkan badannya sebentar, lalu kembali berdiri tegak dan berjalan keluar dari ruang utama itu, meninggalkan mereka berempat.
Setelah Xyon meninggalkan mereka, Keira lalu menatap Klafina dengan wajah yang terheran-heran.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Tapi bukankah tiga hari itu terlalu cepat?" tanyanya dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Tentu, sayang," jawab Klafina, "namun, jika terlalu lama, para Silverian itu akan mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kalian bisa menikah. Aku hanya ingin mengikatmu saja dengan anakku sebelum mereka melakukan aksinya.”
"Nak, kami ingin sekali bisa membantumu. Palladina adalah sekutu kami, jadi, tidak mungkin kami menolak tawaran berharga ini, apalagi Planet Palladina adalah penjaga galaksi. Kami akan membantumu untuk menghadapi Silverian itu, demi kedamaian bagi semuanya," ucap Neriya dengan senyum di wajahnya.
Keira lalu mengangguk dan bertanya lagi, "Yang Mulia, jika aku tidak bisa kembali ke Planet Palladina sekarang …,” namun, Klafina memotong ucapannya, "Kau akan tidur di dalam sebuah kamar yang akan kami siapkan, sampai waktunya tiba. Nah, kita bisa saling mendekatkan diri satu sama lain untuk beberapa hari ini, bukan?"
“Ah, begitu. Terima kasih, Yang Mulia,” balas Keira.
“Pelayan! Apakah ada yang sedang berada di luar?” seru Klafina, dan seorang pelayan wanita kemudian masuk ke dalam ruang utama dan berjalan dengan tergesa-gesa, lalu menundukkan kepalanya di hadapan sang permaisuri.
“Antarkan Putri Keira ke kamarnya dan siapkanlah gaun untuknya. Istana akan segera mengadakan pesta pertunangan bagi Pangeran Mahkota dalam tiga hari,” ucap Klafina.
“Baik, Yang Mulia,” balas pelayan wanita itu.
Klafina tersenyum lebar.
“Silakan, Yang Mulia,” ucap pelayan wanita itu, kemudian ia berdiri tegak dan berjalan keluar dari ruang utama bersama dengan Keira.
Gadis itu berjalan mengikuti pelayan wanita tersebut menuju ke sebuah kamar yang letaknya ada di ujung salah satu lorong istana, sambil memperhatikan sekelilingnya.
Kamar itu tidak begitu jauh dari kamar Higarashi, hanya berbeda lorong saja. Begitu ia tiba di sana dan masuk ke dalam kamar tersebut, seorang pelayan wanita lain ternyata sudah menunggunya di dalam kamar. Pelayan wanita tersebut memberikan sebuah baju tidur untuk menggantikan pakaiannya yang sekarang.
__ADS_1
"Yang Mulia, gaun untuk esok hari sudah disiapkan di dalam lemari pakaian. Apakah Anda memiliki permintaan lain, Yang Mulia?" tanya pelayan wanita itu dengan kepala yang tertunduk.
"Ah tidak, sudah cukup. Aku akan melakukannya sendiri. Terima kasih. Kalian boleh pergi," balas Keira.
“Baiklah, Yang mulia,” balas pelayan wanita tersebut.
Ia kemudian keluar dan membiarkan Keira sendirian. Setelah pintu ditutup rapat, gadis itu langsung memperhatikan sekelilingnya dengan wajah yang kebingungan.
“Astaga, kamar yang besar! Sebaiknya aku segera mandi dan berganti pakaian, lalu tidur!! Besok akan menjadi hari yang melelahkan!” serunya.
Ia langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju yang baru saja diberikan oleh pelayan wanita tadi. Setelah selesai mengurus diri sendiri, Keira lalu duduk di atas ranjang sambil menatap ke arah jendela besar di sampingnya, yang hanya dihalangi oleh sebuah kain gorden berwarna putih. Ia bahkan bisa melihat bintang-bintang yang sangat banyak, menghiasi langit malam ini.
"Aku … tidak bisa lagi takut seperti kemarin," gumamnya pelan, “namun, apakah keputusanku ini sudah benar? Apakah para Silverian itu akan mengincar planet ini? Apakah kutukan alam semesta akan ikut menghampiri semua orang yang ada di sini?!”
Ia kemudian berbaring, namun, hatinya terasa gundah. Berkali-kali ia berusaha untuk tertidur, namun tidak bisa.
“Sebaiknya aku berjalan-jalan sebentar untuk mencari udara dan mengosongkan pikiran,” gumamnya lagi.
Ia lantas berjalan keluar dari kamar, lalu berkeliling di sepanjang lorong istana yang kosong tanpa ada satu orang pun di sana. Namun, semakin jauh ia berjalan, keraguan besar yang ada di dalam hatinya justru semakin dalam.
Akhirnya ia berhenti melangkah di tengah-tengah lorong istana itu, sambil menatap lantai dengan wajah yang sendu. Keira mengernyitkan dahinya, dan mulai merasa bahwa jantungnya berdetak dengan kencang. Mendadak, ia dipenuhi oleh keraguan yang amat besar ketika ia mengingat-ingat lagi kejadian ketika ia hendak menyerang Xyon dengan senjata kosmiknya di dalam rumah pada waktu itu.
__ADS_1
“Siapakah aku yang sebenarnya?” gumam Keira pelan dengan mata yang melotot.
Ia lalu mengingat lagi kejadian masa kecilnya, ketika ia hampir saja menyerang seorang anak laki-laki yang hendak mengancamnya di dalam perkebunan bunga krisan. Keira langsung memegang kepala dengan kedua tangannya, lalu berlutut dengan wajah yang terlihat ketakutan.