
Ia kemudian berlari ke arah Neriya, dan ikut menyerang pasukan-pasukan Silverian itu bersama dengan ayah mertuanya. Namun tanpa mereka sadari, seorang pria bertopeng yang berada di atas atap istana, rupanya sedang membidik sang Raja dari Halida itu dengan menggunakan busur dan anak panah yang berwarna hitam.
Begitu pria tersebut sudah yakin akan targetnya, ia kemudian melepaskan anak panah pertama, dan anak panah itu langsung menusuk dada Neriya tepat di jantungnya.
“Argh!” seru Neriya.
Keira lalu menoleh ke arah ayah mertuanya itu sambil melotot tajam, sementara prajurit-prajurit Halida menghentikan serangan mereka untuk melihat apa yang baru saja terjadi kepada sang Raja.
“Ayah!” teriaknya.
“Yang Mulia!” seru prajurit-prajurit Halida yang menyaksikan hal mengerikan itu.
Semua orang yang berada di sana kemudian berhenti untuk saling menyerang, dan mata-mata mereka langsung menatap ke arah sang Raja dari Halida tersebut. Neriya yang sudah lemas, lalu terjatuh di atas tanah dengan darah yang mulai mengalir dari dalam luka tusuknya, dan melepaskan pedang yang digunakannya dari genggaman tangan kanannya.
Keira kemudian berlutut dan menggenggam tangan kanan Neriya dengan kedua tangannya.
“Ayah! Ayah! Bertahanlah! Aku akan menggunakan Healing Renovatio untukmu!” seru Keira, namun, sang Raja dari Halida itu menggelengkan kepalanya.
“Healing Renovatio tidak akan berguna ketika jantung ini sudah rusak, Nak,” bisiknya, “aku akan menitipkan Higarashi dan planet ini kepadamu. Terima kasih, dan selamat tinggal.”
Ia kemudian memejamkan kedua matanya dan seketika itu juga, tubuhnya berubah menjadi debu halus yang langsung menghilang di udara.
“Tidak! Ayah! Tidak!!” teriak Keira sambil menangis kencang.
Kedua matanya melotot tajam namun badannya justru terasa kaku. Ia tidak menyangka bahwa ia telah gagal melindungi seseorang, padahal ia berada di dekat Neriya sejak tadi.
“Apakah ini yang disebut dengan kutukan sang Crossbreed?” gumam Keira di dalam hatinya.
__ADS_1
Ia mulai merasa ketakutan, namun setelah beberapa saat, ia kemudian menoleh ke arah pasukan-pasukan Silverian itu dan berdiri tegak sambil mengarahkan kedua pedang kosmiknya ke depan.
“Serang mereka semua!!!” teriaknya dengan penuh amarah.
“Seraaaaangg!” teriak para prajurit Halida.
Mereka mulai menyerang pasukan-pasukan Silverian itu dengan brutal, apalagi Keira, yang semua serangannya kini menjadi sangat mematikan, tanpa ada ampun lagi, ia melukai semua lawannya bahkan membunuh para Silverian itu satu per satu. Sementara pria misterius yang mengejarnya tadi, ternyata sudah berada di atas atap istana dan berdiri di sebelah pria lainnya yang sudah membunuh Neriya barusan dengan anak panahnya.
“Gadis itu sedang dalam status Crossbreed, sebaiknya kau jangan menyerangnya, Yang Mulia,” ucap pria pembunuh Neriya itu.
“Kau benar, Dovrix. Aku akan melihat situasinya terlebih dahulu. Semoga saja Demira bisa menahan Higarashi lebih lama di sana,” balas pria misterius yang mengejar Keira tersebut.
Pria yang membunuh Neriya itu ternyata adalah Dovrix, namun, ia sama sekali tidak memperlihatkan wajahnya di depan umum. Tiba-tiba ia dan pria misterius tersebut menoleh ke atas dan melihat sekumpulan bintang dari atas langit yang melesat ke bawah.
Bintang-bintang itu kemudian mendarat di halaman depan istana, dan langsung berubah menjadi kereta-kereta antar planet yang ternyata membawa prajurit-prajurit dari Planet Palladina. Empat buah bintang kecil lainnya berubah menjadi Xyon, Weim, Nordian, dan Arex.
Keira lantas menoleh ke arah Xyon dan berseru, “Paman!”
Para prajurit Palladina kemudian keluar dari dalam alat transportasi itu dan langsung berlari ke segala arah untuk menyerang pasukan-pasukan Silverian tersebut, bersama dengan Xyon, Arex, Weim, dan Nordian yang juga sudah menggenggam senjata kosmik milik mereka.
Keira hendak berjalan mendekati Xyon setelah pasukan-pasukan Silverian yang diserangnya sudah tersungkur di atas tanah, namun, langkahnya langsung terhenti begitu pria misterius yang mengejarnya tadi tiba-tiba muncul di depannya untuk menghalangi langkah kakinya. Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam.
"Minggir kau!" seru Keira sambil menggenggam erat kedua pedang kosmiknya.
"Menyerah saja, Putri Mahkota. Ceraikan Pangeran bodoh itu, lalu menikahlah denganku. Kita akan menguasai galaksi ini bersama-sama. Bukankah ini semua karena dirimu dan kutukan yang kau bawa kepada mereka?" balas pria misterius tersebut.
"Kau! Sialan!" teriak Keira, kemudian ia mulai menyerang pria misterius itu.
__ADS_1
Pria misterius tersebut berusaha untuk menghindar dari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Keira dengan menghalangi kedua pedang kosmik milik sang Putri Mahkota dari Halida itu, namun ia justru menjadi semakin kewalahan karena senjata kosmik yang ia miliki hanya satu.
“Sialan, sialan!” gumam pria misterius tersebut karena mulai terpojok.
Mendadak, seluruh badannya diselimuti oleh kabut-kabut hitam dan ia menghilang begitu saja. Keira tentu saja terkejut dan langsung menghentikan serangannya, kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari keberadaan pria itu.
"Televortare? Ke mana pria itu?!" gumamnya.
Ia lalu berlari masuk ke dalam istana, hingga ke ruang utama, namun, ia tetap tidak menemukan pria misterius itu. Keira kemudian berlari kembali menuju ke halaman belakang istana. Sayangnya, pria misterius itu sama sekali tidak muncul walaupun ia sudah berlari ke sana dan ke mari. Ia hanya bisa berdiri di tengah-tengah halaman belakang istana yang luas dan sepi, dengan wajah yang kesal.
"Dasar pengecut!" serunya.
Tiba-tiba seseorang melukai sedikit punggungnya dengan sebuah pedang kosmik.
“Arghhh!” seru Keira yang kesakitan
Ia kemudian terjatuh berlutut di atas rerumputan, dan pria misterius itu mendadak muncul di hadapannya. Keira langsung menatap tajam pria misterius tersebut sambil menahan rasa sakitnya, namun, ia masih menggenggam erat kedua pedang kosmiknya.
"Bagaimana? Sakit?" tanya pria itu, "Kau tahu, hatiku juga sekarang sangat sakit, lebih daripada luka sayatan itu. Ah, bukankah kau bisa melakukan Healing Renovatio? Aduh, aku lupa, kau tidak bisa melakukannya pada diri sendiri.”
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?! Mengapa kau harus membunuh kedua mertuaku? Apakah kau yang sudah membunuh kedua orang tua dan bibi angkatku? Atau jangan-jangan, kau juga adalah pembunuh ayah dan ibu kandungku?!" tanya Keira dengan penuh amarah.
Pria itu tertawa kecil, kemudian ia membalas, "Tentu saja aku membunuh semua orang yang menghalangiku untuk mendapatkan dirimu. Namun, aku tidak membunuh kedua orang tua kandungmu. Ayahku yang melakukannya, agar kau lebih mudah ditangkap. Nah, jika kau ingin galaksi ini damai, ceraikanlah Pangeran bodoh itu, yang telah meninggalkanmu sendirian hanya karena rasa penasarannya pada surat itu, dan menikahlah denganku!"
Keira langsung terkejut setelah mendengarkan hal tersebut.
"Surat itu, jadi kau yang mengirimnya?!" tanya Keira.
__ADS_1
"Ayolah, kau tidak bisa lebih bodoh daripada ini. Tentu saja iya, aku meminta bawahanku untuk menjebak Pangeran bodoh itu, karena memisahkan kalian berdua adalah sesuatu yang memang sudah kurencanakan. Nah, sekarang, jadilah istriku dan ikutlah bersama denganku, atau aku akan membunuhmu!" seru pria misterius tersebut.