Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XV


__ADS_3

"Ah, pantas saja. Baiklah kalau begitu, Xyon, kami akan segera kembali besok lusa, jadi bersiaplah untuk pulang," balas Arnea dengan senyum di wajahnya.


"Kembali pulang?!" gumam Hyerin pelan dari dalam kamar mandi.


Mereka langsung menoleh ke arah suara tersebut. Klara kemudian menghentikan Healing Renovatio tadi dan menurunkan kedua tangannya.


“Apakah kau sedang bersama dengan seseorang, Xyon?" tanya Arnea dengan wajah yang penuh kecurigaan sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Yang Mulia, Anda bisa mendengar suara dari kamar sebelah karena kamar ini hanya dipisahkan oleh sebuah dinding yang tipis," jawab Xyon dengan wajah yang serius.


"Kukira kau akan bermalam dengan seorang gadis mortal, Xyon. Namun wajahmu yang dingin itu mungkin akan membuat mereka ketakutan,” ujar Klara sambil tersenyum kecil.


Pria muda itu hanya menundukkan kepalanya.


"Ah, Xyon adalah seorang prajurit, Klara. Ia mungkin akan lebih memilih untuk berperang daripada membangun sebuah keluarga. Lagi pula yang ada di dalam pikirannya hanya bertarung, bukankah begitu?” ucap Arnea dengan senyum terpaksa kepada istrinya.


Xyon lantas kembali menatap keduanya, lalu bertanya, "Yang Mulia, lalu mengapa Anda berdua kemari?”


“Kami hanya ingin memberitahukan kepadamu tentang kepulangan kami, itu saja. Namun aku juga penasaran apa yang sedang kau lakukan selama beberapa hari ini,” jawab Arnea sambil tersenyum sinis.


"Nah, kami akan kembali berjalan-jalan sampai ke kota besar di sebelah. Nikmatilah dua hari terakhir ini, dan jangan katakan tentang lukamu kepada siapa pun," bisik Klara.


Xyon kemudian membungkukkan badannya sambil berkata, "Baiklah, Yang Mulia.”


Arnea dan Klara lalu berjalan keluar dari kamar tersebut dan Putri Mahkota itu menutup kembali pintunya rapat-rapat. Setelah beberapa saat, pria muda tersebut lantas melangkah menuju ke kamar mandi.


Ia membuka pintunya dengan cepat sambil menghela nafas panjang, menatap istrinya yang tampak sedang mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Yang Mulia?" tanya Hyerin dengan wajah yang penuh rasa penasaran.


Xyon memutar bola matanya sekali dan menjawab, "Kau tidak akan memercayaiku, bukan?"


Hyerin kemudian keluar dari kamar mandi dan menggandeng suaminya, mengajaknya kembali ke ranjang. Mereka lalu duduk saling berhadapan, namun, pria muda itu justru tidak menatap istrinya sama sekali, dan bahkan memalingkan wajahnya.


Gadis berambut hitam tersebut tanpa sengaja melihat punggung Xyon dari samping, dan terkejut begitu ia memperhatikan bahwa tidak ada luka robek bekas sayatan pisau seperti sebelumnya.


"Ah, rupanya kau benar-benar tidak berbohong kepadaku tentang dirimu …," ucap Hyerin dengan wajah yang terlihat kecewa.


"Apakah kau sangat kecewa setelah mengetahui bahwa aku bukanlah makhluk mortal seperti dirimu?" tanya Xyon sambil masih memalingkan wajahnya.


"Apakah kau adalah seorang pengawal kerajaan, Xyon?" tanya Hyerin balik kepada suaminya itu.


"Aku adalah pengawal pribadi dari Yang Mulia Pangeran Mahkota, dari kerajaan Palladina," jawab pria muda itu dengan tegas.


Hyerin menghela nafas pendek, lalu bertanya lagi, "Lantas apakah kau akan menjadi seorang prajurit?"


"Kau benar. Maafkan aku, mungkin bisa saja aku akan meninggalkan dirimu dalam waktu yang sangat lama. Aku ingin membawamu bersamaku, namun kau adalah seorang manusia mortal …," balas Xyon dengan wajah yang kesal.


Hyerin kemudian memeluknya dari samping dan berbisik, "Aku akan selalu menunggumu, sayang."


Mendengar ucapan dari istrinya itu, Xyon langsung memeluknya dengan erat sambil mulai meneteskan air mata. Mereka sepertinya tidak akan keluar dari dalam kamar untuk hari itu, bahkan sampai siang berganti sore, lalu berganti lagi menjadi malam.


Keduanya sama sekali tidak terganggu dengan suara-suara yang mereka dengar dari luar kamar. Mereka hanya berbaring, saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, di atas ranjang yang sama.


"Kau adalah seorang pengawal kerajaan, Xyon! Tidak mungkin para wanita akan membiarkan kesempatan untuk mendekatimu!" seru Hyerin sambil kemudian tertawa kecil.

__ADS_1


Xyon lantas mendekatkan wajahnya kepada Hyerin dan berbisik, "Selama aku hidup, yang kupelajari adalah bagaimana caranya mengayunkan pedang, bukan cara untuk mendekati seorang wanita. Hanya dirimu saja yang berani-beraninya mendekati pria sepertiku."


Ia kemudian mencium bibir istrinya itu dan sekali lagi, mereka membiarkan malam ini berlalu dengan kebahagiaan yang tampak dari wajah keduanya, sebagai sepasang suami istri yang tidak resmi.


Keesokan paginya, Hyerin terlihat sudah siap untuk pergi bekerja, dengan memakai pakaian yang sama seperti kemarin, yakni baju terusan selutut yang berwarna coklat. Karena Xyon masih tertidur pulas, ia kemudian membuka pintu, juga berjalan keluar secara perlahan agar tidak membangunkan suaminya. Ia bahkan langsung menutup pintu itu kembali dengan cepat.


"Nyonya pasti akan memarahiku. Astaga," gumamnya pelan.


Ia berlari untuk bekerja di restoran yang sama, seperti biasa. Setelah tiba di sana, ia masuk dan berjalan cepat masuk ke dapur. Wanita pemilik restoran itu ternyata sudah menunggunya di sana, entah sudah berapa lama. Hyerin terkejut begitu ia melihat sang Nyonya yang sedang berdiri di tengah-tengah dapur dengan wajah yang kesal.


"Apakah kau sudah lebih baik, Hyerin?" tanya wanita pemilik restoran itu.


"Nyonya! Maafkan aku, aku benar-benar tidak enak badan kemarin!" seru Hyerin sambil membungkukkan badannya.


Sang Nyonya kemudian berjalan mendekatinya, lalu memperhatikan sebuah cincin berwarna putih yang tersemat di jari manis tangan kiri gadis tersebut, dengan wajah yang curiga. Wanita pemilik restoran itu kemudian menoleh ke arah jendela yang terletak di sebelah pintu dapur, dan melihat seorang pria muda yang berambut ungu tua yang terlihat sedang berbicara dengan suaminya di salah satu meja.


Suami dari wanita pemilik restoran itu tiba-tiba berjalan masuk ke dapur, setelah berbicara beberapa kata dan sepertinya pria muda tersebut melihatnya dari balik jendela dapur, lalu tersenyum ke arahnya. Sang Nyonya kemudian membalas senyuman itu dari kejauhan.


"Ah, rupanya begitu. Jadi, apakah kau sudah bertunangan dengannya, Hyerin?" tanya wanita pemilik restoran tersebut dengan senyum kecil di wajahnya.


Hyerin langsung mengernyitkan dahinya, lalu kembali berdiri tegak dan menatap sang Nyonya pemilik restoran dengan wajah yang kebingungan, sambil bertanya, "Maksud Anda, Nyonya?"


"Pria yang ada di depan itu, bukankah ia adalah pria yang sudah menyelamatkanmu kemarin? Karena cincin yang ada di jari manismu terukir namanya, Xyon," jawab sang Nyonya.


Wajah gadis berambut hitam itu langsung memerah, ia kemudian menoleh ke luar jendela dan melihat Xyon yang sedang duduk di atas sebuah kursi dengan meja makan yang berada di hadapannya, di pojok restoran tersebut.


"Uh, Nyonya …. Aku…, aku bisa menjelaskannya," bisik Hyerin dengan wajah yang mulai terlihat panik.

__ADS_1


Wanita pemilik restoran itu tiba-tiba menggenggam kedua tangannya hingga ia menatap sang Nyonya dengan wajah yang tampak terkejut.


"Ia seperti seorang pria yang baik, dan cincin itu adalah miliknya, bukan? Katakan kepadaku, apakah kalian sudah menikah secara diam-diam?" tanya wanita pemilik restoran itu sambil mengernyitkan dahinya.


__ADS_2