Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Sesuatu yang Disembunyikan


__ADS_3

Namun, tiba-tiba saja, ia teringat akan sosok Aerim. Pria itu pernah mencium bibirnya beberapa kali, bahkan pernah juga menyelamatkan dirinya saat ia hampir tewas.


“Sialan, perasaan apa ini?!” gumam Keira lagi, dan kali ini, dadanya terasa sedikit sesak, walaupun ia tetap berusaha untuk tidak menunjukkan kepanikannya di hadapan Higarashi.


"Bagaimana jika kita pergi sekarang?" tanya Higarashi, yang memecah kepanikan Keira.


Permaisuri dari Halida itu langsung menatapnya dengan wajah yang sendu, lalu berkata, “Uh, maafkan aku, Higarashi, aku … aku ….”


“Ah, aku tahu kau sedang kelelahan. Aku juga sudah mengisi ulang energi bintang milikku jadi, kali ini aku akan menggunakan terowongan ajaib itu ketika kita tiba di sana,” ucap Higarashi yang memotong perkataan Keira barusan.


Keira mengangguk, lalu tersenyum lebar kepadanya. Higarashi kemudian menggandeng tangan istrinya itu dan mengajaknya berjalan menuju ke halaman belakang istana. Mereka lantas berubah menjadi dua buah bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa.


Hari sudah malam di dalam Planet Bumi, sehingga tidak lagi ada orang yang berada di sekitar rumah Keira, dan begitu tiba di depan pintunya, mereka langsung mengubah fisiknya kembali seperti semula, lalu masuk ke dalam, membiarkan pintu tersebut tertutup dengan sendirinya.


Keira dengan cepat melangkah, naik ke lantai dua, dengan wajah yang tampak kelelahan, sementara Higarashi mengunci pintu masuk, lalu mengikuti jejak istrinya. Begitu mereka masuk ke dalam kamar, Keira langsung berlari menuju ke ranjang dan berbating di atasnya. Higarashi lantas duduk di sebelahnya, sambil menatap Keira dengan wajah yang memerah.


“Apakah kau benar-benar sangat merasa lelah, sayang?” tanya Higarashi, dan ia sama sekali tidak mencurigainya.


Keira lalu menoleh ke arah jendela yang gordennya terbuka sedikit, dan menatap keluar. Wajahnya tampak sendu, seolah sedang meragukan sesuatu.


"Higarashi, aku … aku …," bisik Keira pelan, namun, entah mengapa bibirnya tidak bisa berkata-kata lebih lanjut.


Higarashi kemudian berbaring, lalu membalas, "Ya, sayang? Ada apa?”


"Hmm … tidurlah yang nyenyak, sayang. Aku sangat mencintaimu, dan mungkin nanti, kau akan menjadi orang yang paling bahagia di seluruh semesta ini," balas Keira lagi.


“Aku sudah bahagia, hanya dengan bisa bersamamu di dalam rumah ini, tanpa bisa memikirkan hal lain yang bisa membuat kepalaku pecah,” ucap Higarashi.

__ADS_1


Keira tertawa kecil, lalu dengan wajah yang memerah, ia berkata, “Aku lelah sekali, Higarashi. Maafkan aku.”


Higarashi tiba-tiba memeluknya dari samping, kemudian mencium dahinya, lalu berbisik, “Tidurlah, sayang.”


Keira kemudian memejamkan matanya, namun, setelah beberapa saat ketika Higarashi sudah tertidur, sang Permaisuri dari Halida itu tampak gelisah.


“Aku benar-benar harus mengakhiri kutukan ini,” gumamnya dalam hati.


Ia berusaha untuk tertidur, dan sesudah satu jam berlalu, Keira akhirnya bisa masuk ke dalam alam mimpi. Empat jam kini terlewat dan hari sudah subuh, dan tiba-tiba, Keira mulai kembali merasa gelisah.


"Aerim… Aerim!!!" seru Keira, dalam tidurnya.


Ia terus menerus mengguncangkan tubuhnya, hingga Higarashi terbangun karena sikapnya. Raja dari Halida itu lalu terduduk dan menatap istrinya dengan wajah yang tampak panik.


"Tidak! Aerim!" seru Keira lagi, namun, ia tidak juga membuka matanya.


Keringat dingin mulai mengalir hingga membasahi dahi Keira.


Ia bahkan mulai memberontak, berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya tersebut sambil kembali berseru, "Aerim! Tidak!!"


"Keira! Ada apa?! Keira!" seru Higarashi sambil berusaha membangunkan istrinya tersebut.


Tiba-tiba, Keira membuka kedua matanya lebar-lebar. Ia langsung terbangun dann menoleh ke arah Higarashi, lalu memeluk suaminya itu, sambil mulai menangis. Higarashi tentu saja membalas pelukan itu, dengan wajah yang tampak panik.


"Higarashi!! Aku … aku sangat takut! Aku takut mereka akan mati!" ucap Keira dengan air mata yang kini membasahi wajahnya.


"Mati? Tidak mungkin, Keira! Kami semua akan melindungimu!" balas Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Namun, setelah itu, ia sendiri tiba-tiba merasa ketakutan. Rasa takut akan kehilangan sosok istrinya tersebut, suatu saat nanti, seperti yang apa yang Xyon katakan padanya kemarin. Seluruh tubuh Higarashi bergetar, hingga Keira bahkan bisa merasakannya. Detak jantung suaminya itu juga menjadi sangat cepat.


Keira kemudian berbisik pelan, "Maafkan aku, Higarashi. Tidak seharusnya kau bertemu dengan diriku!”


"Walaupun aku tidak sekuat dirimu, tidak juga lebih kuat daripada paman-pamanmu, namun, aku akan berusaha menjagamu, memastikan agar kau selalu berada di sampingku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Aerim? Aku tidak akan pernah memaafkannya!" seru Higarashi sambil memeluk istrinya itu dengan semakin erat.


Mereka lantas saling berpelukan untuk beberapa saat, lalu, Keira melepaskan pelukannya dan menatap Higarashi dengan wajah sendu.


"Maafkan aku, sayang. Aku masih terbawa mimpi. Bagaimana jika kita kembali tidur saja? Hari masih subuh, dan itu … hanya mimpi," ucap Keira dengan nada pelan, walaupun jantungnya berdetak cepat.


“Ah, baiklah,” balas Higarashi, “bagaimana jika besok kita berjalan-jalan di sekitar sini saja? Kau tampak lelah, Keira.”


Keira mengangguk. Ia kemudian kembali berbaring, begitu juga dengan Higarashi. Sisa waktu tidur yang pendek tersebut mereka habiskan dengan berpelukan hingga pagi menjelang. Begitu matahari mulai menyinari langit biru Planet Bumi, Keira yang terlebih dahulu bangun, langsung keluar dair kamar dan berjalan turun menuju ke dapur.


Ia mulai memasak sarapan untuk mereka, namun baru saja makanan pertama selesai dan sudah dihidangkan di atas meja makan, Keira justru mulai merasa ingin muntah.


“Bau dari satu makanan ini saja sudah membuatku kesal dan mual. Ah, sudahlah,” gumamnya sambil mengernyitkan dahi.


Higarashi terlihat sedang berjalan turun menuju ke lantai satu setelah ia terbangun karena menyadari Keira yang sudah tidak ada di sampingnya. Ia kemudian melangkah mendekati meja makan dan tersenyum lebar begitu melihat dua buah mangkuk yang berisi sup dan semangkuk nasi yang masih hangat, piring, sendok, serta gelas yang sudah tertata rapi, dengan istrinya yang sedang duduk di salah satu bangku.


“Wangi sup ini sampai ke atas,” ucap Higarashi dengan wajah yang tampak senang.


Raja dari Halida tersebut lantas duduk di sebelah istrinya itu, dan mulai mengambil nasi terlebih dahulu. Keira kemudian mengambil semangkuk sup dan meletakkannya di hadapan Higarashi. Mereka lalu mulai memakan sarapan tersebut, dengan wajah yang terlihat ceria.


Namun, setelah beberapa saat, Higarashi mulai mengernyitkan dahinya begitu ia melihat semangkuk sup milik Keira. Ia tiba-tiba berhenti memakan sarapannya dan menatap istrinya itu dengan wajah yang tampak gusar.


"Keira, apakah kau sedang sakit?" tanya Higarashi.

__ADS_1


Keira langsung menoleh ke arah Raja dari Halida tersebut, dengan wajah yang tampak tenang, walaupun ia sebenarnya sedang berusaha untuk menyembunyikan rasa mual akibat kehamilannya dan kepanikan karena pertanyaan itu.


__ADS_2