
Xyon menghela nafas panjang.
“Lalu, apa lagi yang sudah kau lihat di sana?” tanyanya.
“Aku melihat … aku … Xyon, aku melihat Yang Mulia dan pria manusia itu masuk ke dalam hutan. Aku berusaha untuk mengejarnya, namun, aku kehilangan jejak mereka …,” jawab Sey, kali ini dengan wajah yang terlihat sendu.
Ia lalu duduk di atas sebuah sofa yang terletak di samping kiri pintu masuk, dan menghela nafas panjang sambil menatap ke depan. Setelah itu, ia menoleh ke samping dan menatap Xyon, dengan wajah yang terlihat penuh rasa penasaran.
“Hei, Xyon, apa jangan-jangan, Yang Mulia juga menyukai pria manusia itu? Aku melihat mereka berdua, berlari bersama-sama, bergandengan tangan!” serunya.
“Jenderal Sey!” seru Xyon dengan nada tinggi setelah mendengar ucapan tersebut.
Sey langsung melotot kepada Xyon karena terkejut dengan sikap dari sang Jenderal Senior itu. Xyon berusaha menenangkan dirinya sendiri, sambil menghela nafas panjang, dan kembali menunjukkan wajah datarnya kepada Sey.
“Sey, Yang Mulia Ratu sudah memberi perintah kepadaku untuk menutup seluruh sisi istana. Jika ada penyusup atau orang lain yang tidak berkepentingan, atas perintah Yang Mulia, kalian boleh mengusir mereka,” ucap Xyon.
“Baiklah, Xyon,” balas Sey dengan wajah yang terlihat masih terkejut.
Xyon kemudian kembali kepada kertas kosmik yang sudah ia ambil sebelumnya. Ia hendak berbicara agar kertas kosmik itu bisa merekamnya, namun, mendadak Sey kembali bersikap aneh di depan matanya, hingga mengganggu konsentrasinya. Ia lalu meletakkan kertas kosmik itu di atas meja, sambil menatap Sey dengan wajah yang terlihat kesal.
“Ada apa lagi?” tanyanya.
Sambil tersenyum kecil, Sey bertanya, “Xyon, apa yang sedang terjadi di sini, sehingga Yang Mulia memerintahkan untuk menutup seluruh istana dan membatasi akses masuknya?”
“Ada sesuatu yang … yang sebaiknya kau tidak perlu ketahui untuk saat ini,” jawab Xyon.
Sey mengangguk pelan, dan karena ia tidak mengerti maksudnya, ia lantas kembali bertanya, “Apakah Yang Mulia … memiliki luka dalam, sehingga tidak ingin kondisinya diketahui oleh semua orang?”
__ADS_1
Xyon menghela nafas panjang, kali ini, ia benar-benar mulai merasa kesal dengan banyaknya pertanyaan dari kawannya itu.
“Begini saja. Aku akan menjelaskan semuanya ketika saatnya tepat. Kembalilah berpatroli dengan ketiga jenderal lainnya. Aku harus membuat surat resmi dari perintah Yang Mulia Ratu barusan,” ucap Xyon.
“Ah, baiklah kalau begitu. Aku akan kembali,” balas Sey.
Ia kemudian berdiri, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Setelah Sey menutup kembalil pintunya rapat-rapat, Xyon langsung merasa sangat lega.
“Astaga, banyak sekali pertanyaannya!” gumam sang Jenderal Senior itu sambil menggelengkan kepalanya sebanyak dua kali.
Ia kemudian kembali meraih kertas kosmik yang masih berada di hadapannya, dan mulai mengucapkan beberapa kalimat. Setelah selesai, ia lalu melipatnya dengan sangat rapi hingga membentuk sebuah amplop.
“Tampaknya … Galaksi Metal akan memiliki cerita yang menarik,” ujar Xyon pelan.
Hari-hari mulai terlewati seperti biasanya, namun yang menjadi berbeda adalah, kali ini, tidak semua orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam istana. Beberapa orang tentu melakukan protes atas kebijakan baru ini, dan membuat Xyon sedikit kewalahan. Pejabat-pejabat tinggi juga mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam istana.
Hanya Yeria dan beberapa orang pelayan wanita pribadi milik sang ratu-lah yang langsung melayani Anexta. Ia sama sekali tidak ingin dilayani oleh orang lain, hingga benar-benar menimbulkan kecurigaan di kalangan pelayan dan pengawal istana. Para pejabat ataupun bangsawan yang ingin bertemu dengannya, tidak ada yang berhasil membujuknya untuk keluar.
Perut sang ratu semakin hari semakin membesar. Ia bahkan harus menerima Healing Renovatio dari Yeria, sang Kepala Perawat, sebanyak dua kali dalam satu hari. Anexta benar-benar tidak menyangka bahwa mengandung dengan cara mortal seperti itu, sungguh melelahkan dan menyiksa. Ia juga tidak bisa lagi berjalan dengan cepat seperti yang biasa ia lakukan.
Delapan bulan mulai berlalu dan kali ini, sebuah kabar burung mulai beredar di kalangan pejabat istana, dan bahkan sudah terdengar hingga rakyat biasa:
“Yang Mulia Ratu tampaknya terluka parah ketika perang terakhirnya melawan para Silverian dan tidak lagi bisa memimpin kerajaan, karena harus terus menerus terbaring lemah.”
Sebuah kabar burung yang pada akhirnya mengganggu Anexta. Di dalam ruang kerja pribadinya, ia hanya bisa menggeram begitu mendengarkan hal tersebut langsung dari mulut Xyon.
Anexta yang sedang berdiri di depan meja kerjanya, mendadak merasa dadanya mulai menjadi panas. Ia kemudian menatap Xyon yang berdiri di hadapannya, dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
“Siapa yang sudah menyebarkan rumor sialan itu?!” tanya Anexta dengan nada tinggi.
“Aku masih belum bisa menemukan orang pertama yang sudah menyebarkan kabar burung itu, Yang Mulia. Namun, beberapa orang pejabat tinggi, mulai memikirkan tentang kudeta,” jawab Xyon.
Anexta semakin menjadi-jadi. Ia bahkan memukul meja kerja yang berada di depannya, dengan sangat kuat, hingga seluruh tubuhnya gemetar.
“Aku tidak akan memaafkan orang itu! Cepat … cari …!” ucapnya, namun tiba-tiba, ia merasakan sakit pada bagian perutnya.
Wajahnya mendadak terlihat menahan sakit yang luar biasa. Darah mulai mengalir hingga melewati kedua kakinya. Anexta kemudian jatuh berlutut perlahan-lahan, sambil masih memegang ujung meja kerjanya, hingga Xyon menjadi panik karena hal itu.
“Yang Mulia! Yang Mulia!” seru Xyon, berusaha untuk menahan tubuh Anexta agar tidak jatuh.
Ia lalu menoleh ke arah darah yang tercecer di atas lantai, yang mulai juga mengotori kaki sang ratu.
“Aku … aku mungkin akan segera melahirkan,” ucap Anexta pelan.
Ia kini menahan perutnya yang mulai berkontraksi, lalu berteriak, “Arghhh!! Xyon! Panggilkan Yeria!!”
“Baiklah, Yang Mulia!” seru Xyon.
Dengan cepat, ia berlari keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil Yeria, meninggalkan Anexta sendiri di dalamnya.
“Anak ini harus cepat keluar, agar aku bisa kembali menunjukkan diriku di hadapan para pejabat tinggi sialan itu!!” seru Anexta sambil masih berlutut dan menahan seluruh rasa sakit yang amat sangat.
Seorang wanita terlihat berlari bersama dengan seorang pria dan beberapa orang pelayan wanita di belakang mereka, dengan tergesa-gesa, menuju ke ruangan kerja pribadi sang ratu. Mereka bahkan mendobrak pintunya dan masuk ke dalam dengan terburu-buru.
“Cepat tutup pintunya rapat-rapat!!!” teriak Anexta begitu ia melihat Yeria, Xyon, dan beberapa pelayan wanita yang kini sudah berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1