
"Ah, para bintang sepertinya sudah memilih untuk memberikan energi mereka kepadamu, sekali lagi," jawab Higarashi dengan senyum di wajahnya, “namun, aku belum pernah melihat Starlet yang seperti itu. Tampaknya benda itu akan terus berada di dalam tubuhmu.”
"Mereka memberikanku Starlet yang baru? Aku sangat berterima kasih karena mereka sudah memercayaiku untuk mengendalikan energi kosmik ini," balas Keira.
" Keira, maafkan aku, namun, sebaiknya kita kembali terlebih dahulu, untuk mengisi ulang energi cahaya milikmu," ucap Xyon yang tiba-tiba memotong pembicaraan suami istri itu.
Higarashi kemudian membantu Keira untuk berdiri, sambil menggandeng tangan istrinya itu. Xyon dan ketiga bawahannya juga ikut berdiri, lalu menatap Keira dengan wajah yang terlihat lega.
"Terima kasih sudah memberika Azure Shield untuk planet ini, namun, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu …," ucap Higarashi pelan.
Keira menggelengkan kepalanya sekali, kemudian berkata, "Tidak, Azure Shield memang seharusnya sejak awal kuberikan untuk Planet Halida, agar para Silverian itu tidak bisa lagi masuk ke sini. Maafkan aku, kedua orang tuamu justru menjadi korban atas kekacauan yang kubuat ….”
Ia menghela nafas panjang, dan wajahnya kembali menjadi sendu.
“Kutukan sang Crossbreed. Ya, aku seharusnya tidak mengetahui semua tentang diriku sendiri. Alam semesta tidak memihakku,” gumamnya, lalu ia menatap Xyon dan berujar, “Paman, apakah energi cinta itu nyata? Bukankah aku kembali hidup karena energi cinta yang kalian berikan kepadaku?”
“Tidak ada yang namanya energi cinta, Keira. Cinta itu adalah perasaan mortal. Kami tidak bisa menerimanya sebagai sebuah kekuatan,” jawab Xyon.
Higarashi kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Keira, lalu ia berkata, "Pergilah bersama dengan paman-pamanmu terlebih dahulu. Aku harus membereskan banyak hal di sini karena ada kekosongan pemerintahan. Aku akan memanggilmu jika semua masalah kerajaan sudah selesai. Beristirahatlah, Keira.”
Keira lantas tersenyum kepada suaminya itu, kemudian ia berjalan mendekati Xyon dan berdiri di sebelahnya, lalu berkata, "Paman. Aku akan ikut denganmu. Aku tidak pernah memakai senjata kosmik milikku, dan baru kali ini aku memakainya, maka dari itu … aku rasa energi cahaya ini mulai melemah.”
“Baiklah, Yang Mulia, aku akan kembali terlebih dahulu. Aku turut berduka atas meninggalnya kedua orang tuamu. Maafkan aku yang terlambat tiba di sini. Untuk prajurit-prajuritku yang masih berada di sekeliling istanamu, akan kuperintahkan mereka untuk kembali nanti setelah keadaan benar-benar sudah aman,” ucap Xyon, lalu ia dan ketiga bawahannya menundukkan kepalanya sebentar di hadapan Higarashi dan kembali menatap lurus Pangeran Mahkota dari Halida itu.
__ADS_1
“Terima kasih, Perdana Menteri Xyon,” balas Higarashi.
Xyon, Weim, Arex, Nordian, dan Keira kemudian berubah menjadi lima buah bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa, sementara Higarashi masih terdiam di tempatnya, sambil mengepalkan telapak tangan kanannya.
"Silverian sialan! Sialan! Kalian … harus mati!" serunya dalam hati sambil menoleh ke atas, melihat langit biru Planet Halida yang semakin indah karena adanya perlindungan dari Azure Shield.
Setelah menembus atmosfer Planet Palladina dan mendarat di halaman depan istana, Xyon, Weim, Arex, Nordian, dan Keira kemudian mengubah fisik masing-masing kembali seperti semula. Mereka lalu berjalan masuk ke dalam istana dengan wajah-wajah yang terlihat serius.
“Arex, kau harus mempersiapkan kereta antar planet untuk membawa prajurit-prajurit kita kembali ke sini,” perintah Xyon.
“Baiklah, Xyon,” balas Arex.
Ia kemudian berlari ke arah yang berbeda untuk menjalankan perintah tersebut.
“Kami akan kembali berpatroli, Xyon,” balas Arex.
Ia dan Nordian lalu berjalan ke arah yang lain, sementara Xyon dan Keira bergegas menuju ke Light Chamber milik anggota kerajaan. Begitu mereka tiba di depan ruangan itu, Xyon lantas membuka pintunya dengan tergesa-gesa dan masuk ke dalam bersama dengan Keira.
“Berbaringlah di sana,” ucap Xyon dengan wajah datarnya.
Keira kemudian berjalan menuju ke sebuah ranjang, lalu berbaring di atasnya. Sang Perdana Menteri dari Palladina itu lantas berjalan mendekati dirinya dan berdiri di samping ranjang tersebut.
“Aku akan memanggil seorang perawat ke sini. Tidurlah sebentar sambil mengisi ulang energi cahaya milikmu,” bisik Xyon.
__ADS_1
Keira tersenyum, lalu tiba-tiba, ranjang tersebut bersinar. Ia kemudian berusaha untuk tertidur dan membiarkan ranjang tersebut mengisi ulang energi cahaya miliknya. Setelah memastikan Keira sudah nyaman, Xyon lantas keluar dari ruangan itu untuk memanggil seorang perawat.
Sementara sang istri mengisi ulang energi cahaya miliknya di dalam Planet Palladina, Higarashi sendiri dengan wajah yang serius, meminta Leino untuk mengumpulkan seluruh prajurit, pengawal, dan pelayan yang selamat dari peristiwa menakutkan tersebut, ke dalam ruang utama.
Setelah semua pekerja itu berkumpul di sana bersama dengan Leino, Higarashi kemudian berdiri di atas altar, dan menatap mereka dengan sorot mata yang tajam serta wajah yang terlihat tegas.
"Pertama-tama, aku berima kasih kepada kalian semua yang sudah bertahan, dan maafkan aku yang tidak bisa melindungi kalian ketika kejadian mengerikan itu datang. Maka dari itu, empat puluh hari ke depan akan kujadikan sebagai hari berkabung semesta bagi Planet Halida. Sebagai tanda penghormatanku untuk mengenang mereka semua yang telah tiada, aku akan menaikkan status mereka dan merawat keluarganya. Leino akan melakukan semuanya atas perintahku,” seru Higarashi.
Ia kemudian berdehem sebentar, lalu melanjutkan, “Lalu, setelah lewat empat puluh hari itu, aku akan membuka surat wasiat yang sudah disiapkan sebelumnya oleh ayahku, di hadapan kalian semua. Kalian tidak perlu khawatir, karena Yang Mulia Putri Mahkota Keira sudah membuat Azure Shield bagi planet ini, dan untuk ke depannya, tidak akan lagi ada Silverian yang bisa menyusup masuk ke dalam Planet Halida!”
Mereka semua langsung menangis terharu setelah mendengarkan pidato dari sang Pangeran Mahkota tersebut, bahkan beberapa di antaranya saling memeluk satu sama lain.
“Namun, sekali lagi, maafkan aku yang tidak bisa melindungi planet ini …," ucap Higarashi dengan wajah yang sendu sambil membungkukkan badannya untuk menghormati mereka, lalu setelah beberapa saat, ia kembali berdiri tegak.
“Hidup Yang Mulia Pangeran Mahkota, terima kasih sudah memperhatikan kami,” seru beberapa pelayan sambil menangis, dan diikuti oleh seluruh pekerja istana lainnya sambil membungkukkan badan mereka di hadapan Higarashi.
Higarashi kemudian turun dari altar, lalu menatap ke arah Leino. Sekertaris Kerajaan itu lantar berjalan mendekatinya dan berdiri di sebelah sang Pangeran Mahkota tersebut. Mereka lalu berjalan bersama keluar dari ruangan itu.
“Bawakan kepadaku surat wasiat itu setelah empat puluh hari sudah terlewat,” ucap Higarashi.
“Baik, Yang Mulia,” balas Leino.
Mereka lalu menjalani kehidupan masing-masing dengan kembali pada pekerjaannya di dalam istana, termasuk Higarashi. Namun tidak lupa, karena masa berkabung semesta sudah dimulai, para pelayan perempuan mulai membagikan pita hitam untuk semua orang yang berada di dalam istana pada hari yang sama. Mereka semua mengenakan pita hitam itu di lengan kanan, sebagai tanda duka. Pemerintahan Planet Halida tentu saja kosong, untuk empat puluh hari ke depan.
__ADS_1