
Mereka kembali terdiam untuk beberapa menit, kemudian Xyon memecah keheningan dengan berucap, “Aku akan kembali ke kamarku.”
“Merepotkan sekali. Jika penghuni kamar lain melihatmu, mereka tidak akan ragu untuk memberitahukan hal ini kepada Nyonya. Astaga, Buka saja bajumu!" seru sambil menoleh ke samping dengan wajah yang benar-benar memerah.
Xyon hanya menatap Hyerin dengan wajah yang datar, tanpa ekspresi dan dingin hingga membuat Hyerin menjadi semakin kesal setelah menoleh lagi ke arah pria muda itu.
"Astaga, hari ini seharusnya aku bekerja sampai malam hari. Namun ternyata aku harus merawat seseorang yang sudah menyelamatkan nyawaku. Aku hendak membalas kebaikannya karena sudah menolongku dari preman-preman itu, namun sepertinya orang itu tidak mau menerima kebaikanku," ucap Hyerin dengan wajah sedih kali ini.
"Ah, baiklah, baiklah," balas Xyon sambil memutar bola mata, dan setelah itu, ia membuka bajunya namun dengan perlahan.
Begitu pria muda tersebut sudah membuka bajunya dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka, Hyerin langsung menoleh ke samping sambil tersipu malu. Tentu saja, sebagai seorang yang selalu menggunakan pedang dan sering melakukan latihan fisik yang terus menerus, tubuh Xyon bisa dibilang sangat … atletis dengan otot-otot tangan serta dada yang terlihat menarik.
Setelah memutar bola matanya sekali, Hyerin kemudian berucap pelan, "Bisakah kau memberikan punggungmu kepadaku?"
Xyon menghela nafas panjang, lalu ia memutar badan, membiarkan punggungnya yang kini berada di hadapan Hyerin. Gadis itu kemudian mulai memeras kain bersih yang basah di dalam ember berisi air tadi. Ia lantas menatap punggung tersebut dan mengusapnya, perlahan-lahan.
"Kau seperti belum pernah melihat tubuh pria saja," ujar Xyon.
Wajah Hyerin tiba-tiba menjadi sendu. Ia terdiam sesaat, sambil masih membersihkan darah di punggung Xyon dengan kain tadi.
"Aku sebenarnya tidak memiliki orang tua. Sejak bayi, aku sudah dititipkan di sebuah panti asuhan. Tidak ada yang mau mengangkatku sebagai anak hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah dari kota besar di sebelah, ke kota kecil yang indah ini," balas Hyerin dengan bola mata berkaca-kaca.
Xyon mendengarkannya sambil menunjukkan wajah yang serius.
"Wanita pemilik penginapan ini berbaik hati memberikanku sebuah kamar untuk tinggal, namun aku diharuskan bekerja untuk kakak perempuan dan suaminya di restoran itu. Mereka sangat baik kepadaku. Seperti perkataanmu, aku belum pernah dekat dengan pria lain selain dirimu di dalam hidupku yang selalu kesepian ini," ucap Hyerin lagi.
__ADS_1
Ia kemudian berdiri, lalu membawa ember yang sudah penuh dengan darah tersebut ke dalam kamar mandi, dan membuang isinya. Setelah itu, ia mengisi ulang ember itu dengan air bersih, lalu berjalan mendekati Xyon dan duduk di belakangnya.
Hyerin mulai kembali membersihkan darah yang masih berada di tubuh Xyon sedikit demi sedikit.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih," bisik Xyon pelan.
Hyerin menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkata, "Aku senang ada seseorang yang mau mendengarkan ceritaku."
Gadis itu tiba-tiba berdiri, berjalan menuju lemari pakaian yang berada di samping ranjang, lalu membukanya, dan mengambil sebuah kain yang panjang dan sebuah handuk kecil. Setelah itu, ia kembali duduk di belakang Xyon.
Ia meletakkan handuk kecil itu untuk menutup luka di punggung Xyon, lalu menekannya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain mulai melingkarkan kain panjang itu di tubuh Xyon, untuk menghentikan pendarahan pada luka di punggung pria itu.
"Aku tidak membuang pedang itu, Hyerin," ucap pria muda itu pelan.
"Kau benar, Xyon. Pemerintah akan memberikan denda kepadamu karena mereka berpikir bahwa kami sudah mengotori kota. Namun mereka sama sekali tidak berbuat apapun kepada preman-preman itu. Kau mungkin menyelamatkanku hari ini, namun entah bagaimana nasib gadis lain," balas Hyerin.
"Nah, sudah selesai. Apakah kau bisa kembali menuju ke kamarmu sendiri? Aku harus segera kembali ke restoran itu. Walaupun langit mulai gelap, mereka pasti sedang menungguku untuk kembali," ujar Hyerin dengan senyum di wajahnya.
"Terima kasih, Hyerin. Aku akan kembali ke kamarku," balas Xyon.
Ia kemudian berusaha untuk berdiri, namun rupanya sakit yang ia rasakan pada luka robek di punggungnya itu masih sangat menyiksa, hingga ia berteriak, "Argh!!!"
Hyerin langsung menjadi panik, bahkan ia melotot tajam ke arah pria muda tersebut.
"Astaga, sebaiknya kau di sini saja terlebih dahulu! Berbaringlah, agar pendarahan pada lukamu itu cepat berhenti!" serunya.
__ADS_1
Ia langsung membantu Xyon untuk kembali berbaring di atas ranjang. Setelah pria muda tersebut sudah merasa nyaman.
“Baiklah, aku pergi terlebih dahulu,” bisik Hyerin.
Ia lalu kembali berdiri tegak, namun tiba-tiba Xyon menarik lengannya hingga ia tersungkur di atas tubuh pria muda itu. Mereka kini saling menatap satu sama lain, namun dengan wajah yang memerah.
"Jika aku berkata bahwa aku bukan berasal dari Planet Bumi, masihkah dirimu akan memperlakukanku sebaik ini?" tanya Xyon pelan.
"Apa maksudmu? Bukankah kau juga adalah seorang manusia sepertiku?" tanya Hyerin balik kepada pria muda itu.
Xyon tersenyum kecil, lalu bertanya lagi, "Jika aku mengatakan kepadamu bahwa aku adalah seorang prajurit, maukah kau tetap menjadi temanku?"
Hyerin menatapnya dalam-dalam, kemudian menjawab, "Xyon, aku tidak melihatmu sebagai orang yang jahat. Kau bahkan merelakan hidupmu demi menyelamatkanku. Lalu mengapa aku harus takut kepadamu?"
Xyon kembali tersenyum, lalu berbisik pelan, "Karena sepertinya aku menyukaimu."
Jantung Hyerin berdetak dengan sangat cepat hingga ia terdiam setelah mendengarkan pengakuan tersebut. Ia tiba-tiba menjauhkan dirinya dari Xyon dan duduk di sampingnya, dengan wajah yang sendu.
"Maafkan aku, Xyon. Aku akan segera kembali dan membawakanmu makan malam jika aku sudah selesai bekerja," bisik Hyerin, lalu ia berdiri dan langsung berjalan mendekati pintu.
Namun, Xyon berusaha untuk berdiri, dan berkata, "Maafkan aku, Hyerin. Aku … tidak akan berlama-lama di sini, di dalam planet ini. Aku akan segera kembali menuju ke planet asalku, jadi kau bisa melupakan apa yang baru saja kukatakan kepadamu. Aku … hanya tidak bisa berbohong saja.”
Hyerin menghentikan langkahnya, lalu membalas, “Bukankah kau masih sakit? Beristirahatlah.”
Ia kemudian melanjutkan kembali langkah dan keluar dari kamarnya. Sebelum ia menutup pintu, Xyon rupanya berjalan mengikutinya. Hyerin lantas menoleh ke arah pria muda tersebut dengan wajah yang datar.
__ADS_1
"Aku akan beristirahat di dalam kamarku, maaf sudah merepotkanmu. Terima kasih, Hyerin," ucap Xyon pelan, lalu ia berjalan menuju ke kamarnya sendiri.
Pria muda itu kemudian merogoh saku celananya dan mengambil kunci, kemudian membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, ia menutup pintu tanpa mengucapkan apapun. Hyerin hanya bisa menatap ke arah pintu tersebut, dengan wajah yang sendu, lalu berjalan untuk kembali ke restoran tempatnya bekerja, sambil menghela nafas panjang.