
"Oh, aku rasa hanya Raja Flerix dari Silverian yang mengerti tentang diriku! Kau hanya menganggap diriku ini adalah seorang putri yang lemah dan bodoh, bukan begitu, Kakak? Ia tidak menganggapku seperti dirimu yang selalu menganggapku lemah! Bahkan ayah dan ibu, mereka sama sekali tidak mengizinkanku untuk memakai gelar putri mahkota ketika kau naik tahta. Mereka juga tidak pernah memberikanku tugas kerajaan sama sekali. Mereka hanya mengajari dirimu dan memperhatikan dirimu, dan hanya fokus kepadamu, hanya agar kau bisa menjadi ratu di kemudian hari! Sementara aku? Hah!" balas Ryena dengan nada suara yang tinggi.
Mendengar hal itu, Anexta langsung mencengkram kedua bahu adiknya, dan menatapnya dengan sangat tajam.
"Kau … kau dan Flerix … ada apa dengan kalian? Mengapa kau membicarakan Flerix tiba-tiba saja? Katakan, apakah Flerix sudah mencuci otakmu sedemikian rupa sehingga kau berani melawan kakakmu ini dan mempermalukan dirimu sendiri di hadapan seluruh orang yang sedang berada di sini, Ryena?" tanya Anexta.
Ryena langsung melepaskan cengkraman tangan kakaknya dari bahunya dengan kasar, sambil berteriak, "Baiklah! Aku menyukai Flerix! Aku bertemu dengannya memang baru dua kali, namun ia sangat mengerti diriku, tidak seperti dirimu, kakak! Ia bukanlah orang yang jahat, seluruh pasukan Silverian itu juga tidak memiliki niat jahat, selain untuk bertahan hidup!”
Anexta, seolah tersambar petir, langsung tercengang atas pengakuan adiknya barusan, bahkan beberapa pasukan yang mendengar ucapan tersebut, termasuk Xyon, Weim, Sey, Nordian dan Arex yang langsung melotot dengan wajah yang terkejut.
Anexta kemudian menggelengkan kepalanya, lalu bertanya pelan, "Flerix … sudah sebesar apa ia mempengaruhimu? Kau sadarlah, Ryena, Flerix hanya berniat buruk kepadamu! Ini semua adalah perangkapnya, dan kau adalah umpannya!"
Ryena menggelengkan kepalanya lagi, lalu membalas, "Tidak, kakak. Aku menyukai Flerix, dan dia tidak mempengaruhi pikiranku sama sekali! Aku sangat sadar akan apa yang sudah kukatakan semuanya, sejak awal! Aku sedang dalam keadaan sadar, kakak!"
Anexta yang mendengar pengakuan dari adiknya itu, langsung mengajak Ryena untuk kembali terlebih dahulu menuju ke perkemahan mereka, namun Ryena justru tidak mau mengikuti langkah kakaknya itu. Mereka berdua kembali menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam.
“Cepat kembali, Putri Ryena!” seru Anexta.
"Tidak, aku hanya ingin bersama Flerix, kakak!" balas Ryena.
Ia hendak berjalan cepat menuju ke arah Flerix setelah mengucapkan hal itu kepada kakaknya barusan.
Namun, Anexta kembali menarik lengan adiknya, dan mendekatkan bibirnya di depan telinga Ryena, sambil berbisik, "Aku akan memberikanmu waktu satu hari di dalam tendamu sendiri, untuk merenungkan perbuatanmu, dan jangan berani keluar ke mana pun tanpa izinku! Aku akan meminta semua pelayan dan prajurit yang tersisa, untuk menjagamu! Kita akan membicarakan hal ini nanti. Renungkanlah kesalahanmu dan statusmu sendiri, Yang Mulia Putri Ryena!"
Anexta kemudian meminta beberapa pasukannya untuk mengantarkan Ryena kembali menuju ke perkemahan mereka, dan menugaskan Sey untuk membawa perintah bagi semua pelayan milik Ryena untuk menjaganya selama dua puluh empat jam penuh.
__ADS_1
“Silakan, Yang Mulia Putri Ryena,” ucap Sey sambil berjalan ke depan untuk memandu Ryena kembali ke perkemahan mereka.
Dengan wajah yang masih terlihat sangat kesal, Ryena kemudian mengikuti langkah Sey, dan berjalan meninggalkan arena pertarungan di antara Palladina dan Silverian tersebut.
Setelah memastikan bahwa Sey sudah pergi bersama dengan Ryena untuk kembali ke perkemahan mereka, Anexta lalu menoleh ke arah Flerix dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Aku rasa pertarungan hari ini harus kuakhiri, Raja Flerix. Kita akan bertemu lagi nanti. Aku harap kau tidak membuat kekacauan lebih lanjut disini!" serunya.
Flerix hanya tersenyum sinis. Anexta tentu sudah tahu maksud dari senyuman lawannya itu, yang hanya ingin mencemoohnya saja. Pertarungan hari itu akhirnya selesai, untuk sementara. Flerix kemudian berdiri tegak, sambil tertawa kecil kepada sang ratu dari Palladina itu.
Anexta langsung memutar badannya dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Flerix, diikuti oleh seluruh jenderal-jenderal dan prajuritnya.
“Kita akan kembali ke perkemahan,” seru Anexta dengan wajah yang terlihat kesal.
Setelah Anexta dan pengikut-pengikutnya sudah berjalan menjauhi mereka, Flerix langsung tertawa kecil untuk beberapa saat.
“Dasar ratu bodoh,” gumamnya pelan setelah itu.
“Cukup sudah pertarungan bodoh hari ini, kita akan kembali ke Silver terlebih dahulu,” serunya lagi.
“Baik, Yang Mulia,” balas seluruh pasukan dari Silverian tersebut.
Flerix lalu memimpin seluruh pasukannya untuk kembali menuju di mana Silvir berada.
Hari itu, kedua pemimpin planet tersebut memutuskan melakukan gencatan senjata sementara dan kembali menuju ke tempatnya masing-masing. Anexta bahkan meminta seluruh prajurit dan kelima jenderalnya untuk kembali ke tenda mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah berada di dalam tenda miliknya sendiri, Anexta terlihat duduk di atas ranjangnya sambil memikirkan Ryena. Ia sangat menyesali apa yang sudah terjadi antara dirinya dan adik satu-satunya tersebut.
Entah mengapa, malam itu, para pelayan dan prajurit, sepertinya mengantuk karena kelelahan setelah seharian melakukan tugas-tugasnya. Bahkan ada beberapa prajurit yang terluka dan beberapa pelayan perempuan terlihat sedang sibuk memberikan Healing Renovatio kepada mereka yang terluka.
Ryena mengintip semua kesibukan mereka dari balik tendanya, lalu berjalan menuju ke bagian belakang tenda dan berusaha untuk mengendap-endap keluar. Ia melangkah dengan sangat pelan, dan karena semua orang sedang sibuk, tidak ada yang menyadari bahwa Ryena hendak melarikan diri.
Setelah berhasil keluar dari dalam tendanya secara diam-diam, ia langsung berlari menuju sungai di tengah hutan yang lebat. Sesampainya ia di pinggir sungai, kedua matanya langsung melihat sekeliling sambil mencari-cari Flerix.
Entah kebetulan atau tidak, Flerix rupanya sedang berada di seberang sungai sambil duduk di atas sebuah pohon yang melintang di pinggirannya, dengan raut wajah yang sedih.
Ryena langsung menatap Flerix dengan senyum di wajahnya, dan berjalan mendekatinya, lalu berdiri di samping pria tersebut dan berseru, "Flerix! Maafkan aku, aku tidak bisa membuat kakakku luluh…."
Flerix terkejut, lalu menoleh ke arah Ryena dan berucap, “Tuan Putri!”
Ia lalu berdiri dan menatap Ryena dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca.
"Tuan Putri Ryena, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kakakmu akan mencari dirimu, dan jika ia tahu bahwa kau sedang bersamaku, mungkin kali ini ia akan benar-benar membunuhku," ucap Flerix pelan.
Ryena mengacuhkan ucapan itu.
Ia justru langsung bertanya, "Apakah aku benar-benar tidak mampu, menurutmu? Seperti apa yang dikatakan kakakku?"
"Yang Mulia Putri…," gumam Flerix.
Ia lalu menggelengkan kepala, dan melanjutkan, "Kau adalah seorang putri yang periang dan baik hati, dan wajahmu yang cantik itu, seharusnya kau pantas untuk mendapatkan seorang pangeran yang tampan. Ah, maafkan aku, Yang Mulia Putri, jika aku tahu kau adalah seorang putri dari Planet Palladina, aku tidak akan berani mendekatimu. Maafkan aku. Kau mungkin sedang berada dalam bahaya sekarang.”
__ADS_1