Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Keputusan Sang Ratu


__ADS_3

Anexta kemudian menghentikan langkahnya begitu ia sudah tiba di tengah-tengah perkemahan. Xyon juga ikut berhenti berjalan begitu ia melihat sang ratu yang tampaknya akan segera memberikan perintah.


Seluruh prajurit dan pelayan serta pengawal yang berada di sana, mulai terlihat berlutut satu per satu di hadapan Anexta.


“Yang Mulia!” seru mereka secara bersama-sama.


Anexta tersenyum kecil, kemudian ia berseru, “Kita akan kembali ke istana. Kalian semua harus segera membereskan seluruh tenda-tenda serta peralatan-peralatan milik kita yang masih berserakan di sekitar sini. Jangan sampai manusia mengetahui bahwa kita, para immortal, pernah menginjakkan kaki di dalam hutan ini! Segera!”


“Baik, Yang Mulia!” balas para prajurit, pelayan, serta pengawal dari Palladina itu.


Mereka langsung berdiri dan bergegas membantu satu sama lain untuk menjalankan perintah dari sang ratu, sementara Anexta menoleh ke arah Xyon sambil menghela nafas panjang.


“Aku tidak ingin ada manusia yang mengetahui jejak kita di sini. Mereka mungkin hanya melihat kereta antar planet milik kita ataupun diri kita sendiri seperti halnya seperti bintang jatuh biasa yang selalu terjadi di atas langit Planet Bumi ini, maka dari itu, aku harap kau bisa memerintahkan keempat jenderal lainnya untuk membantu membereskan kekacauan yang kita buat di sini,” ucapnya dengan nada yang tegas.


“Baik, Yang Mulia,” balas Xyon sambil menundukkan kepalanya.


Ia lalu bergegas untuk menjalankan perintah dari sang ratu, dengan berjalan ke arah yang berlawanan untuk memanggil keempat jenderal lainnya yang mungkin masih berada di dalam tenda, yakni Weim, Sey, Arex, dan Nordian.


Anexta mulai memperhatikan sekelilingnya, dan melihat seluruh orang yang sedang bekerja keras atas perintahnya barusan. Wajahnya terlihat datar, namun di dalam hatinya, ia sebenarnya sedang merasa sedikit kesal.


“Para Silverian yang tidak tahu diri itu, benar-benar sudah membuatku pusing. Apakah sebenarnya Raja Flerix sedang mempermainkanku, dengan cara seperti ini? Kami tidak bisa menggunakan kekuatan kosmik seperti yang dimiliki oleh para Halida, Diamona, Ruthenia, ataupun Osmia,” gumamnya dalam hati.


Ia lalu memperhatikan lagi ke arah yang berbeda, tampak Xyon dan keempat jenderal bawahannya yang sedang membantu seorang pelayan untuk membereskan sebuah tenda.

__ADS_1


“Immortal, namun kami tidak bisa menggunakan seluruh energi yang ada di dalam alam semesta ini secara bersamaan, atas dasar keadilan. Jika semua orang yang berada di dalam Galaksi Metal bisa mengendalikan seluruh energi tanpa ada batasan, maka sama saja kami dengan manusia, yang rakus akan kekuatan. Jika hal itu terjadi, maka keinginan untuk menguasai sesuatu akan muncul, dan inilah jadinya, kekacauan,” gumam Anexta lagi di dalam hatinya.


Tiba-tiba, di atas langit Planet Bumi yang biru dan cerah, tampak sebuah bintang sedang melesat ke arah Anexta. Mendadak, bintang tersebut mendarat di hadapannya. Sinar yang amat terang dari bintang itu langsung mengubahnya menjadi sebuah kereta antar planet, yang akan mengantarkannya kembali menuju ke Planet Palladina bersama dengan semua orang yang ada di sana.


“Cepatlah bawa masuk semua barang itu ke dalam kereta antar planet ini!” seru Anexta kepada beberapa orang pelayan yang terlihat sedang membawa beberapa barang di tangan-tangan mereka.


“Baik, Yang Mulia!” seru para pelayan itu.


Satu per satu, mereka mulai memasukkan seluruh barang bawaan ke dalam kereta antar planet tersebut. Setelah semuanya sudah beres, Anexta kemudian berjalan masuk dan duduk dengan nyaman di samping sebuah jendela, diikuti oleh seluruh pelayan pribadinya.


Para prajurit dan pengawal terlihat masuk ke dalam gerbong kereta antar planet yang berbeda dengan yang dinaiki oleh sang ratu. Ketika semua orang berada di dalam, sang masinis lalu membunyikan lokomotifnya.


Xyon, Weim, Sey, Arex, dan Nordian kemudian mengambil posisi di luar kereta antar planet tersebut untuk, lalu mengubah diri mereka menjadi bintang-bintang kecil yang akan menemani perjalanan sang ratu untuk kembali menuju Planet Palladina.


Sesampainya bintang-bintang itu di dalam Planet Palladina dengan menembus atmosfernya, mereka langsung mendarat di halaman depan istana, dan dengan cepat, fisik mereka berubah kembali seperti semula, yakni sebuah kereta antar planet dan lima orang jenderal.


Seorang pelayan membuka pintu kereta antar planet tersebut dari dalam, lalu Anexta terlihat berjalan keluar, diikuti oleh seluruh pelayan-pelayan, dan kelima jenderalnya. Dengan tergesa-gesa, ia masuk ke dalam istana.


Wajahnya yang terlihat serius, ia bahkan mengernyitkan dahinya.


“Para pelayan, aku perintahkan kepada kalian untuk memanggil semua orang, baik yang ada di dalam istana maupun di luar istana, untuk berkumpul di halaman depan. Aku akan segera memberikan pidato mengenai kondisi terkini tentang pertempuran di antara Planet Palladina dengan Planet Silverian!!” serunya dengan nada tinggi.


“Baik, Yang Mulia!” balas seluruh pelayan yang sedang berjalan mengikutinya.

__ADS_1


Mereka bergegas pergi ke arah yang berbeda untuk melaksanakan perintah dari sang ratu barusan, dengan langkah yang cepat.


“Kalian berlima, tetaplah berada di belakangku,” ucap Anexta kepada kelima jenderal yang rupanya tidak ikut berjalan bersama dengan para pelayan tadi.


“Baik, Yang Mulia,” balas kelimanya secara bersama-sama.


Anexta terlihat berjalan dengan sangat terburu-buru, menuju ke sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang istana. Sesampainya ia di depan ruangan tersebut, ia bahkan membuka pintunya dengan kasar, dan langsung mengambil sebuah kertas yang terlihat transparan.


Ia lalu menatap kertas tersebut sambil berkata sesuatu dengan nada rendah, sementara kelima jenderal tersebut menunggu di depan pintu ruangan itu, sambil berjaga-jaga di sana. Setelah selesai, ia kemudian memasukkan kertas transparan itu kembali ke sebuah laci yang terletak di samping meja.


Ia menutup laci itu dengan rapat, lalu berjalan keluar ruangan, dengan lima jenderal yang mengikutinya dari belakang.


Beberapa jam kemudian, halaman depan istana terlihat penuh dengan orang-orang yang baru saja diajak oleh para pelayan sang ratu untuk berkumpul di sana. Wajah-wajah mereka terlihat penasaran, bahkan suasana mulai terdengar riuh, hingga beberapa pelayan terlihat bersusah payah untuk mengatur barisan.


Pintu-pintu istana bahkan dibuka selebar mungkin, dan kini, terlihat banyak orang yang mulai memadati wilayah sekeliling istana kerajaan Palladina itu, mulai dari pejabat kelas bawah, pejabat kelas atas, bangsawan hingga orang biasa.


Anexta lalu dengan cepat, berjalan melalui sebuah lorong istana hingga ia tiba di depan halaman depan. Ditemani oleh Xyon dan keempat jenderal lain di belakangnya, ia kemudian berjalan keluar istana melalui pintu masuk utama, dan berhenti melangkah tepat di tengah-tengah halaman depan yang sudah dipadati oleh banyak orang.


Xyon dan keempat jenderal lainnya langsung memasang badan mereka untuk melindungi sang ratu dengan berdiri melingkarinya. Suasana mulai terasa tegang, hingga semua orang mendadak terdiam dan langsung berlutut di hadapan Anexta.


“Yang Mulia Ratu!” seru mereka.


“Berdirilah, rakyatku dan para pendatang dari luar planet ini, dan dengarkanlah titahku baik-baik,” balas Anexta.

__ADS_1


“Terima kasih, Yang Mulia!” seru orang-orang itu, lalu mereka kembali berdiri tegak sambil menatap ke arah sang ratu dengan wajah-wajah yang terlihat diliputi rasa penasaran.


__ADS_2