
Viora …, ah, bukan. Wanita itu adalah Meteorix.
Ia tersenyum sinis, kemudian ia menatap Dovrix dengan wajah yang kesal, lalu berkata, “Ah … kau benar. Aku harus bertindak cepat karena Aerim dan Planet Silverian kini sudah kembali berada di jalan yang seharusnya. Namun, aku masih tidak bisa memaafkan Xyon dan Planet Palladina yang sudah membunuh ibuku! Karena itu, aku harus terus menjadi Viora, dan Keira tidak boleh tewas terlebih dahulu, Dovrix!”
“Yang Mulia! Anda juga memiliki dendam yang sama denganku. Jika begitu, izinkan aku untuk kembali melayanimu dan Planet Blackerian!” seru Dovrix.
Meteorix lantas tertawa kecil, lalu ia mengangkat tangan kanan ke depan sambil membuka telapak tangannya, dan tiba-tiba muncul sebuah pil berwarna hitam yang sangat pekat.
"Kau tahu konsekuensinya setelah kau menelan pil Vanta Hitam ini,” bisiknya sambil menyerahkan pil tersebut kepada Dovrix.
Dovrix kemudian mengangkat kepala, dan begitu ia melihat pil Vanta Hitam tersebut, ia lantas mengambil dan menelannya. Tiba-tiba saja, ia merasakan sakit yang amat sangat dari dalam tubuhnya beberapa saat kemudian.
“Argh!” serunya sambil berguling di atas lantai yang keras, memegang perut dengan kedua tangannya.
Meteorix hanya tertawa, kemudian ia menatap Dovrix yang sedang menahan sakit, dengan wajah yang serius.
"Ingatlah kau, Dovrix!! Jika kau berkhianat padaku, maka kau bisa saja kulempar ke dalam lubang hitam, lalu tubuhmu akan terkoyak-koyak tanpa sisa!! Seperti yang pernah kami lakukan kepada Darkerio!! Berani-beraninya kau mengkhianati Aerim, padahal aku yang memilih Flerix sebagai kambing hitamku!! Tuan dari Blackerian juga tidak akan pernah memaafkanmu jika ia mengetahui hal ini! Ia tidak pernah menyukai dirimu!” teriaknya.
Dovrix yang masih menahan sakit, hanya bisa menutup kedua matanya, sambil menekuk dan memeluk kedua lututnya. Meteorix lantas melotot dan menatap pria yang sedang tersiksa itu, dengan sorot mata yang tajam dan senyum sinis.
“Selamat tinggal, wahai Pelayan!” serunya.
__ADS_1
Kabut-kabut gelap kemudian menyelimuti seluruh tubuh Meteorix, dan ia langsung menghilang dari restoran itu tanpa jejak, meninggalkan Dovrix yang masih tersungkur di atas lantai sambil menahan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya setelah menelan pil hitam tadi.
Sementara itu di dalam Planet Halida, Higarashi terlihat sedang berjalan bolak-balik dengan wajah yang penuh keraguan sambil menyilangkan kedua lengannya di dada, di dalam ruang kerja pribadinya.
"Haruskah aku pergi ke Planet Palladina? Atau, haruskah aku pergi ke rumah Keira yang ada di Planet Bumi? Astaga, aku sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun dari mereka selama empat puluh hari ini. Apakah Keira masih hidup, atau … apakah mereka masih berduka? Astaga, bagaimana ini, bagaimana …," gumamnya pelan dengan wajah yang sangat gusar.
Higarashi terus berjalan mengelilingin ruangan tersebut, namun setelah beberap saat, ia tiba-tiba berhenti di satu titik, dan kembali bergumam, “Tidak! Aku harus mencarinya! Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini!”
Ia lantas berjalan keluar, menuju ke halaman belakang istana, dengan melewati beberapa lorong istana yang sepi. Hanya terlihat satu atau dua pengawal yang terlihat sedang berjaga. Ketika ia melewati salah satu lorong lainnya, tanpa sengaja, dari jarak yang agak jauh, ia melihat dua orang perawat perempuan sedang berjalan pelan di depannya.
Kedua perawat perempuan yang memakai baju terusan berwarna putih itu sedang berbicara satu sama lain sambil berjalan berdampingan, searah dengan Higarashi, namun membelakanginya. Karena hal tersebut, Higarashi terpaksa melambatkan langkah agar tidak mengganggu keduanya.
Mereka tampak tidak sadar bahwa sang Raja sedang berada di belakang mereka karena larut dalam pembicaraan yang sepertinya sangat menarik.
“Hmm …. Kemungkinan besar begitu, Hael. Bahkan Yang Mulia Raja belum mau menerima tamu dari luar planet ini, bukan?” tanya Iona, seorang perawat dengan rambut berwarna emas dan bola mata putih, yang berjalan bersama dengan Hael di sampingnya.
“Apa maksudmu dengan hal itu? Bukankah Yang Mulia Raja sudah kembali menerima tamu? Aku mendengarnya dari Leino,” balas Hael dengan wajah yang serius.
“Lalu, mengapa pengawal-pengawal yang sedang berjaga di depan istana, terus menerus menolak beberapa orang dari Palladina untuk masuk ke sini?” tanya Iona sambil mengernyitkan dahinya.
Hael menghela nafas pendek, lalu berkata, “Memangnya ada apa di sana sehingga orang-orang dari Palladina itu terus menerus memaksa untuk masuk ke istana ini?”
__ADS_1
“Hael, dengar. Kemarin, aku mendengar pertengkaran seseorang yang berasal dari Palladina, dengan beberapa pengawal yang berjaga di depan istana. Aku tidak mengenalnya, namun, ia memiliki rambut abu-abu dengan bola mata emas, masih tampak muda dan sungguh tampan. Sayang sekali, ia terlihat tidak bisa mengendalikan emosinya,” jawab Iona dengan senyum kecil di wajahnya.
Higarashi tentu mendengarkan pembicaraan mereka, namun … dengan wajah yang tampak serius. Ia bahkan dengan sengaja berjalan sangat pelan dari jarak yang tidak terlalu dekat, untuk mendapatkan informasi lain dari mulut keduanya.
“Ah, aneh sekali, apakah Yang Mulia Raja masih tidak memberikan izin kepada para Palladina untuk masuk ke sini? Memangnya, apa yang sedang terjadi di sana sehingga pria itu tampak emosi?” tanya Hael dengan wajah yang kebingungan.
Iona lantas mendekatkan dirinya dengan Hael, lalu menjawab, “Pria muda tampan itu berteriak bahwa Yang Mulia Raja harus mengetahui kabar besar dari Palladina.”
Sambil kembali mengernyitkan dahinya, Hael kemudian bertanya lagi, “Kabar besar dari Palladina?”
Iona mengangguk, lalu berbisik, “Ia terus menerus berteriak bahwa Yang Mulia Ratu Keira masih hidup dan sedang mengandung, sehingga ia harus bertemu dengan Yang Mulia Raja sekarang juga. Untung saja, para pengawal itu tidak memercayainya dan mengusirnya dari sana ….”
“Apa yang baru saja kau katakan?! Pria berambut abu-abu?” seru Higarashi sambil melotot dan menghentikan langkahnya, bahkan jantungnya mulai berdetak cepat karena terkejut mendengar hal itu.
Kedua perawat tersebut langsung menghentikan langkah mereka dan memutar badan ke belakang, lalu menatap sosok sang Raja yang kini membuat keduanya berlutut dengan mata yang melotot dan wajah yang tampak ketakutan.
"Yang Mulia!!” seru mereka dengan bibir yang gemetar dan kepala yang tertunduk.
“Katakan sekali lagi, apa saja yang kau dengar dari pria itu?!” tanya Higarashi dengan wajah yang benar-benar serius hingga kedua perawat perempuan tersebut mulai memejamkan mata.
“Yang Mulia, ampuni kami! Mulut ini memang tidak bisa dikendalikan! Maafkan kami!” seru Iona dengan wajah yang panik.
__ADS_1
Higarashi menghela nafas panjang, lalu berkata, “Aku tidak sedang ingin menghukum kalian. Katakan, apa yang kau dengar dari pria itu tentang … Yang Mulia Ratu?”