Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kemarahan Anexta


__ADS_3

“Kembalilah kepada kakak, dan katakan kepadanya bahwa aku sudah bahagia bersama dengan Flerix. Jangan mencariku lagi. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah Flerix, dan para Silverian yang seharusnya kalian lindungi sejak awal!” seru Ryena dengan kedua mata yang melotot tajam ke arah Xyon.


Ryena lalu menggandeng Flerix, dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam Silvir,  meninggalkan Xyon yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


“Yang Mulia Putri Ryena,” gumamnya pelan sambil masih mengepalkan tangan kanannya.


Xyon masih menatap ke arah Ryena dan Flerix yang sedang berjalan masuk ke dalam Silvir dengan wajah yang penuh kekecewaan.


“Yang Mulia Ratu akan sangat terpukul dengan hal ini, namun, aku tidak berhak untuk memaksakan keinginan dan keputusan Yang Mulia Putri, yang ingin ikut bersama dengan raja dari Silverian itu. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali ada perintah dari Yang Mulia Ratu…,” ujar Xyon di dalam hatinya.


Ia lalu memutuskan untuk berjalan kembali menuju ke perkemahannya dengan perasaan kecewa yang mendalam. Di sepanjang perjalanan, ia hanya bisa melihat ke depan dengan tatapan yang kosong.


Sesampainya ia di perkemahan para Palladina, ia langsung berjalan masuk ke dalam sebuah tenda yang memang dipakai untuk menyusun rencana perang, melalui bagian belakang, hingga tidak ada yang menyadari kedatangannya.


Ia kemudian duduk di atas sebuah kursi yang berada di bagian tengah tenda itu. Tatapan kedua bola matanya masih kosong. Xyon bahkan tidak menyadari bahwa di dalam tenda tersebut, Anexta terlihat sedang membelakanginya, sambil mencari-cari sesuatu di atas sebuah meja kecil yang terletak di dekat pintu masuk tenda itu.


“Di mana kuletakkan barang itu?” tanya Anexta kepada dirinya sendiri.


Karena tidak menemukan benda yang dicarinya sejak tadi, ia kemudian kembali berdiri tegak, lalu tanpa sengaja, ia menoleh ke belakang dan melihat Xyon yang sedang duduk di atas sebuah kursi dengan tatapan matanya kosong dan raut wajahnya yang sedih.


Anexta langsung terkejut dengan kehadiran sang jenderal senior yang tidak ia ketahui sejak kapan sudah berada di sana.


“Jenderal Senior Xyon?” tanyanya sambil mengernyitkan dahinya.


Xyon masih belum menyadari akan panggilan dari ratunya itu. Ia masih menatap ke depan dengan pikirannya yang melayang-layang entah ke mana.


Karena Xyon tidak menjawab, Anexta kemudian memutuskan untuk berjalan mendekati sang jenderal senior itu, lalu menatapnya dengan sorot mata yang tajam, sambil memperhatikan raut wajahnya yang terlihat sendu.

__ADS_1


“Jenderal Senior! Xyon!” serunya dengan nada yang agak tinggi hingga Xyon terkejut dan langsung menoleh kepadanya.


“Yang Mulia Ratu!” balas Xyon yang wajahnya terlihat amat terkejut.


Ia lalu berdiri dari duduknya, kemudian berlutut untuk memberi hormat kepada sang ratu sambil menundukkan kepalanya.


“Maafkan aku, Yang Mulia! Aku benar-benar tidak menyadari kehadiran anda!” seru Xyon dengan jantung yang berdebar cepat.


"Jenderal Senior Xyon, ada apa? Apa ada yang telah terjadi? Tidak biasanya wajahmu terlihat sedih seperti itu. Berdirilah, dan ceritakan kepadaku," ucap Anexta.


“Yang Mulia…,” jawab Xyon, namun, bibirnya seolah terkunci.


Ia hanya bisa menatap ke bawah dengan wajah yang terlihat kebingungan. Anexta mulai menjadi semakin penasaran karena sikap Xyon yang tidak biasanya itu.


“Jenderal Senior Xyon! Cepat katakan kepadaku, ada apa ini?!” tanya Anexta dengan nada tinggi.


Wajahnya mulai terlihat panik.


Mendadak, Nordian, Arex, Weim, dan Sey masuk ke dalam tenda sambil saling bercanda tawa kepada satu sama lain. Namun, begitu mereka melihat Anexta yang sedang berdiri dan Xyon yang sedang berlutut di hadapan sang ratu di dalam tenda tersebut, mereka langsung ikut berlutut untuk memberi hormat kepada Anexta.


Tanpa menyadari apapun, mereka kemudian berseru, "Yang Mulia Ratu!"


Namun, suasana di antara Anexta dan Xyon tiba-tiba menjadi sangat tegang, hingga keempat jenderal tersebut kebingungan dengan apa yang sedang terjadi di antara keduanya. Mereka melotot ke arah sang ratu dan jenderal senior tersebut dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran.


"Jenderal Senior Xyon, berdirilah terlebih dahulu, dan katakan dengan jelas apa yang sudah terjadi, mengapa kau seperti ini?" tanya Anexta sekali lagi.


Sebenarnya, Xyon tidak ingin mengatakan apa yang sudah terjadi, namun karena ia terus merasa bersalah, ia bahkan tidak berani menatap ratunya. Anexta mulai menghela nafas panjang, seolah ia baru saja menyadari apa yang ingin Xyon katakan kepadanya.

__ADS_1


“Apakah ini tentang Putri Ryena?” tanyanya dengan wajah sendu.


Keringat dingin Xyon mulai mengalir dan membasahi wajahnya begitu ia mendengar pertanyaan tersebut. Keempat jenderal bawahannya juga mulai menatap Xyon sambil mengernyitkan dahi mereka.


Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Xyon menghela nafas panjang dan memberanikan diri untuk berbicara tentang apa yang sebenarnya telah terjadi barusan.


"Yang Mulia Ratu … Yang Mulia Putri … ia sudah menelan pil hitam yang diberikan oleh Raja Flerix, dan ia juga berkata bahwa ia akan ikut bersama dengan Raja Flerix, kembali menuju ke Planet Silverian. Aku hendak menghalanginya, namun, Yang Mulia Putri sama sekali tidak memberikanku kesempatan,” jawab Xyon sambil mulai mengepalkan tangan kanannya.


Anexta hanya terdiam setelah mendengarkan jawaban itu.


Xyon menghela nafas panjang lagi, lalu melanjutkan, “Setelah menelan pil hitam itu, rambut Yang Mulia Putri mendadak berubah warna menjadi abu-abu, dan kedua bola matanya juga berubah warna menjadi hitam. Yang Mulia Ratu, ini semua salahku, aku yang tidak bisa melindunginya dari tangan dingin Raja Flerix….”


Ia mulai meneteskan air mata, diikuti dengan ekspresi yang sangat terkejut dari keempat jenderal lainnya setelah mendengar pengakuan darinya barusan.


“Tidak mungkin,” gumam Nordian pelan.


“Yang Mulia Putri? Xyon, apakah kau tidak salah dengan apa yang sudah kau lihat itu?” tanya Sey.


Xyon mengangguk pelan. Melihat sikap dari jenderal seniornya itu, air mata perlahan mulai membasahi wajah Anexta.


Ia sangat terkejut setelah mendengar apa yang sudah terjadi pada adik kesayangannya tersebut, hingga langsung berlutut lemas di atas tanah.


“Yang Mulia!!” seru Xyon dan keempat jenderal lainnya begitu mereka melihat sang ratu yang mendadak lemas.


Kedua mata Anexta melotot tajam ke bawah. Ia juga mulai mengepalkan kedua telapak tangan di atas lututnya. Sang ratu tampak benar-benar tidak bisa memercayai apa yang baru saja ia dengan dari jenderal seniornya barusan. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali sambil menahan seluruh emosi di dalam dadanya.


"Tidak mungkin. Putri Ryena tidak mungkin melakukan hal itu!” serunya.

__ADS_1


Kedua matanya mulai terlihat memerah, dan wajahnya mendadak dipenuhi oleh amarah yang sangat besar.


“Putri Ryena harus kembali kepada kita! Aku sendiri yang akan membawanya dan merebutnya kembali dari tangan Raja Flerix! Pria itu sudah memanipulasi Putri Ryena dan mencuci otaknya! Sialan!" teriaknya sambil menumpahkan seluruh kemarahan di wajahnya.


__ADS_2