Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XIV


__ADS_3

"Jika kau memang harus kembali, aku akan menunggumu datang lagi kepadaku di sini, jadi, tenang saja," jawab Hyerin.


"Berjanjilah kepadaku, bahwa kau tidak akan jatuh ke dalam pelukan pria lain. Kau adalah milikku sekarang, dan aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuhmu!" seru Xyon sambil semakin memeluk gadis itu semakin erat.


"Bukankah aku memang sudah menjadi milikmu begitu aku menyerahkan diriku kepadamu tadi malam?" bisik Hyerin dengan wajah yang sendu.


Pria muda tersebut tiba-tiba melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan itu, lalu ia berusaha untuk duduk di atas ranjang sambil memperhatikan sekelilingnya. Hyerin juga ikut terbangun, sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Ada apa, Xyon?" tanya Hyerin sambil menunjukkan rasa penasaran.


Xyon kemudian mengangkat tangan kirinya ke depan, sambil memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia lalu menurunkan tangan dan menoleh ke arah Hyerin, menatap gadis itu dengan wajah yang serius.


"Aku tidak ingin menjadikanmu sebagai kekasihku," ucap Xyon.


"Xyon, apa maksudmu?!" tanya Hyerin sambil terkejut.


"Jadilah istriku. Aku akan segera menikahimu sekarang juga," balas pria muda itu dengan nada tegas.


Wajah Hyerin memerah. Ia tersipu malu setelah mendengar ucapan itu.


"Xyon, ini semua terlalu cepat," balasnya pelan.


"Aku akan kembali ke planet asalku, Planet Palladina, dan aku tidak ingin ada pria lain yang memperhatikan dirimu seperti aku. Kau hanya milikku seorang dan aku akan mengikatmu sekarang, di sini," ujar Xyon.


Ia kemudian meraih kedua tangan Hyerin dan menggenggamnya erat-erat, sambil menatap gadis yang dicintainya itu dengan wajah yang serius dan memerah.


"Hyerin, maukah kau menjadi istriku, dan menerima diriku apa adanya, dalam suka dan duka, seumur hidupmu?" tanya Xyon dengan sangat serius.


Hyerin masih tidak memercayai bahwa pria itu benar-benar serius akan menikahinya sekarang juga, hingga ia langsung menjawab dengan senyum lebar dan wajah yang juga memerah, "Xyon, aku …. Aku bersedia menjadi istrimu dan mencintaimu seumur hidupku …."


"Kalau begitu, aku, Xyon, akan menjadi suamimu dalam suka dan duka, dan menerima dirimu apa adanya, Hyerin, sebagai istriku," balas pria dari Palladina tersebut.

__ADS_1


Ia kemudian melepaskan cincin pemberian kedua orang tuanya itu dari jari manis tangan kirinya, lalu dengan cepat, ia mengambil tangan kiri Hyerin dan menyematkan cincin tadi di jari manis tangan kanan gadis tersebut.


"Xyon, ini …," ucap Hyerin sambil memperhatikan ukiran nama XYON di bagian atas cincin berwarna putih tersebut.


"Cincin itu terbuat dari logam palladium planet asalku, Planet Palladina. Kedua orang tuaku yang memberikannya sebagai tanda kedewasaanku. Namun, aku akan memperlihatkan kepada dunia bahwa kau adalah istriku, dengan cincin itu. Lagi pula benda itu sangat pas di jari manismu. Mungkin kita memang adalah jodoh," jawab Xyon, kali ini ia tersenyum kecil.


Hyerin tiba-tiba menangis, hingga pria muda itu panik begitu melihat istrinya tersebut mendadak meneteskan air mata.


"Hyerin! Mengapa kau menangis?! Apa kau tidak menyukai pernikahan kecil ini?!" tanya Xyon.


Perempuan berambut hitam itu menggelengkan kepala, lalu menatap Xyon dengan senyum di wajahnya dan berkata, "Ini adalah tangisan bahagia, bodoh.”


Hyerin kemudian melingkarkan kedua lengannya di tubuh Xyon dan mencium bibir pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Xyon membalas kehangatan ciuman dari istrinya tersebut dengan pelukan erat. Mereka lalu kembali berbaring di atas ranjang, dan untuk pertama kalinya sebagai suami dan istri, keduanya berbagi cinta pada pagi itu, lebih hangat dibandingkan tadi malam.


Cincin milik Xyon yang kini melingkar di jari manis Hyerin, membuktikan bahwa pria muda itu benar-benar tidak sedang bermain dengan perasaannya, dan sebagai tanggung jawabnya kepada perempuan yang dicintainya tersebut. Walaupun ia masih belum mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya setelah ini, namun untuk sekarang, mereka memilih untuk tinggal bersama di dalam satu kamar.


Matahari semakin meninggi, dan kini pagi sudah berganti siang. Tiba-tiba saja pintu kamar Xyon diketuk oleh seseorang.


"Xyon! Bangunlah!" seru seorang perempuan yang berada di depan kamar.


"Xyon, seseorang mengetuk pintu!" bisiknya pelan, sambil mengguncang-guncang badan suaminya itu.


"Xyon?! Apakah kau masih berada di dalam?!" seru perempuan itu lagi dari luar kamar, sambil masih mengetuk pintu dengan keras.


"Xyon!" bisik Hyerin dengan nada yang agak tinggi dan kali ini ia berhasil membangunkan pria muda itu.


"Huh?" gumam suaminya tersebut, dengan wajah yang terlihat masih mengantuk.


Hyerin mengernyitkan dahinya, kemudian berkata, “Seorang perempuan mengetuk pintu dan berteriak memanggilmu!”


"Astaga!" gumam Xyon sambil melotot, lalu ia berseru, "Yang Mulia! Tolong tunggu sebentar!"

__ADS_1


Ia langsung berdiri dan dengan terburu-buru, ia membantu Hyerin untuk bangkit sambil berusaha untuk menutupi tubuh istrinya itu dengan selimut tebal.


"Astaga, Yang Mulia memanggilku! Cepat bersembunyi terlebih dahulu di dalam kamar mandi!" bisik Xyon dengan wajah yang tampak panik.


"Apa?! Yang Mulia?!" tanya Hyerin sambil menunjukkan rasa bingung.


"Astaga, cepat!!" bisik pria muda itu lagi.


Ia kemudian mendorong tubuh Hyerin dengan tergesa-gesa hingga istrinya tersebut akhirnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Jangan berisik, dan tetaplah diam, tutup pintunya rapat-rapat! Cepat!" ucap Xyon sambil berusaha untuk meraih celana panjang coklat yang ada di atas lantai dekat dengan kedua kaki pria muda tersebut dan memakainya dengan terburu-buru.


Hyerin menatap suaminya itu dengan penuh kecurigaan, namun ia langsung menutup pintu kamar mandi dari dalam, lalu mulai berusaha untuk mendengarkan.


Xyon dengan tergesa-gesa berjalan menuju ke arah pintu, lalu membukanya dan langsung membungkukkan badan tanpa melihat siapa tamunya terlebih dahulu.


"Yang Mulia! Maafkan aku yang sedang tertidur hingga tidak mendengar panggilan dari Anda!" serunya.


"Astaga, Xyon!! Apa yang sudah terjadi dengan punggungmu?!" seru perempuan itu, yang ternyata adalah Klara, dan ia datang bersama suaminya, Arnea.


Xyon kemudian berdiri tegak, hingga Klara langsung memalingkan wajah sementara Arnea tiba-tiba berjalan mendekatinya dan langsung melihat luka robek yang mulai mengering di punggung pria muda tersebut


"Apa yang telah terjadi, Xyon?" tanya sang Pangeran Mahkota sambil mengernyitkan dahinya.


"Maafkan aku, Yang Mulia," jawab Xyon sambil menundukkan kepalanya dan melanjutkan, "Aku diserang oleh beberapa preman ketika hendak kembali menuju ke penginapan ini, namun aku sudah baik-baik saja."


"Astaga, astaga. Dasar pria. Aku akan memberikan Healing Renovatio kepadamu," ucap Klara sambil mengernyitkan dahinya.


"Terima kasih, Yang Mulia!" balas Xyon.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Klara lalu mengangkat kedua tangannya ke depan, dan cahaya yang berwarna biru muda mulai menyelimuti seluruh tubuh Xyon.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan pada waktu itu? Mengapa para preman itu mengejarmu?!" tanya Arnea.


"Yang Mulia, mereka hanya mengincar koin-koin perak yang ada di dalam saku celanaku, " jawab Xyon, dan tentu saja itu adalah kebohongan.


__ADS_2