
Keesokan paginya, Keira yang baru saja selesai memasak sarapan, langsung membangunkan kedua anaknya. Begitu mereka sudah bangun, termasuk Higarashi, keempatnya lantas memakan sarapan bersama-sama. Setelah selesai, Keira lalu mencuci seluruh piring dan alat-alat makan terlebih dahulu sementara Higarashi terlihat sedang bermain dengan anak-anaknya di ruang tamu.
Sambil berlutut, ia berkata kepada kedua anaknya, “Kita akan segera kembali ke istana, apakah kalian sudah siap? Kalian belum pernah ke sana, bukan?”
“Ayah, apakah kami masih bisa bermain di sana?” tanya Xavion.
“Tentu saja! Dan bukankah ini sudah waktunya bagi kalian untuk bersekolah?! Kalian akan bertemu dengan seorang guru yang sudah kutunjuk. Ia akan mengajari kalian banyak hal!” balas Higarashi sambil tersenyum.
“Lalu apakah Ayah dan Ibu akan bermain bersama kami?” tanya Xevion.
Keira dan Higarashi langsung terdiam begitu mereka mendengarkan pertanyaan tersebut, namun setelah beberapa saat, perempuan berambut biru tua itu menoleh ke arah mereka dan tersenyum kecil.
“Tentu saja, kalian berdua harus belajar, sementara Ayah dan Ibu akan bekerja. Kalian sudah menikmati banyak waktu bermain di sini, bukan?” ucapnya.
“Baiklah, Ibu!” seru Xavion dan Xevion bersamaan, dengan senyum yang lebar di wajah-wajah mereka.
Higarashi dan Keira hanya bisa tersenyum karena terpaksa di depan anak-anaknya.
“Waktuku tinggal sedikit. Maafkan Ibu, sayang,” gumam Keira di dalam pikirannya.
Mereka akhirnya siap untuk berangkat. Kereta antar planet sudah menunggu di taman yang berada di samping dan untung saja, kali ini pagar yang mengelilingi rumah itu sudah lebih tinggi sehingga orang lain tidak bisa melihat ke dalam.
Mereka lantas keluar dari rumah dan berjalan mendekati kereta antar planet yang hanya membawa satu gerbong kecil itu. Higarashi yang sedang menggenggam sebuah tas besar, meminta kedua anaknya untuk masuk terlebih dahulu, namun, ketika Keira hendak mengikuti mereka, ia justru mencengkram lengan istrinya tersebut hingga Keira menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya dengan wajah yang datar.
“Berjanjilah kepada anak-anakmu, untuk tidak menceraikanku. Kumohon,” bisik Higarashi pelan.
Keira hanya tersenyum sinis, kemudian membalas, “Jika alam semesta mengizinkanku untuk itu.”
Ia lalu berjalan masuk ke dalam kereta antar planet tersebut, diikuti oleh Higarashi. Begitu mereka sudah berada di dalam, alat transportasi itu langsung berubah menjadi sebuah bintang kecil yang melesat ke atas langit dengan sangat cepat, hingga ke luar angkasa.
__ADS_1
Begitu kereta antar planet tersebut masuk ke dalam atmosfer Planet Halida dan mendarat di halaman depan istana, seluruh pelayan dan pengawal lantas keluar, berdiri di samping alat transportasi itu untuk menyambut kepulangan mereka, termasuk Leino.
Higarashi keluar terlebih dahulu, lalu Keira, kemudian Xavion dan Xevion.
Seluruh pengawal dan para pelayan langsung membungkukkan badan mereka sambil berteriak, “Selamat datang kembali, Yang Mulia.”
Setelah para pengawal dan pelayan kembali berdiri tegak, Leino kemudian berjalan mendekati Higarashi dan berdiri tepat di samping rajanya itu dengan beberapa orang pelayan di belakang.
“Pelayan, cepat!” seru Leino, dan para pelayan tersebut langsung masuk ke dalam kereta antar planet untuk mengeluarkan barang-barang dari dalamnya.
“Yang Mulia, silakan masuk terlebih dahulu,” ucap Leino lagi, kemudian Higarashi dan Keira serta kedua pangeran kecil berjalan masuk ke dalam istana terlebih dahulu.
Leino lantas mengikuti mereka dari belakang, sambil bertanya, “Yang Mulia, aku sudah mempersiapkan seorang guru untuk para pangeran, dan pelayan pribadi bagi mereka. Apakah ada hal lainnya setelah ini?”
“Tidak ada lagi, Leino. Antarkan saja kedua pangeran ke kamar mereka terlebih dahulu,” balas Higarashi.
Keira tiba-tiba berhenti melangkah hingga mereka ikut berhenti berjalan dan menatap ke arahnya. Ia lalu berlutut di hadapan Xavion dan Xevion dengan wajah yang sendu.
Xavion dan Xevion langsung mengangguk dan berseru, “Baiklah, Ibu!”
Keira kemudian berdiri dan menatap Leino dengan sorot mata yang tajam, kemudian berkata, “Jagalah kedua pangeran dengan sebaik-baiknya.”
“Baik, Yang Mulia!” seru Leino, lalu ia melanjutkan ucapannya, “Pangeran, silakan.”
Leino kemudian mengantarkan kedua pangeran tersebut menuju ke kamar mereka sendiri, meninggalkan Higarashi dan Keira yang masih berdiri di sana.
Setelah Leino dan kedua anak mereka pergi, Keira lalu berkata, "Sebentar lagi pasti akan ada tamu yang datang."
Higarashi langsung menatap istrinya itu dengan wajah yang gusar dan bertanya, “Apa yang hendak kau lakukan kepadanya?”
__ADS_1
“Tidak ada. Aku hanya akan memperhatikan kemesraan kalian saja,” jawab Keira.
Ia kemudian berjalan menuju ke kamarnya, sementara Higarashi hanya bisa melihat punggung istrinya itu sambil mengepalkan tangan kanannya.
Sementara itu di dalam Planet Palladina, Xyon terlihat sedang berada di halaman belakang istana sambil duduk di atas bangku panjang dan menatap sebuah buku kecil yang ia dapatkan lima tahun lalu dari tangan Higarashi.
"Hyerixon masih hidup? Anak Crossbreed itu …. Tidak. Siapa yang mengetahui bahwa aku pernah memiliki seorang anak? Buku ini adalah buku yang berasal dari Planet Bumi,” gumam Xyon, sambil mencengkram buku kecil tersebut kuat-kuat.
Seorang pelayan terlihat berlari ke arahnya, lalu berdiri di sampingnya dan membungkukkan badan sebentar, kemudian ia kembali berdiri tegak dan berseru, "Perdana Menteri, Yang Mulia Permaisuri dari Halida ingin bertemu dengan Anda di ruang kerja pribadi Anda!"
“Keira?” bisik Xyon.
Ia langsung memasukkan buku kecil itu ke dalam saku bajunya, lalu berdiri dan berlari menuju ke ruang kerja pribadinya dengan tergesa-gesa. Begitu ia tiba di sana, ia membuka pintu dan langsung masuk ke dalam, hingga Keira yang sudah berada di dalam sejak lama, terkejut dengan aksi cepat pamannya tersebut.
"Paman Xyon?!" seru Keira dengan kedua mata yang melotot.
"Keira! Kau sama sekali tidak memberitahukan kepadaku bahwa kau akan kembali hari ini!" balas Xyon dengan nafas yang terengah-engah.
Ia lalu menutup pintu dan menatap Keira dengan wajah yang serius.
Perempuan berambut biru tua itu tersenyum, lalu ia berkata, "Paman sudah tua, rupanya. Usiamu sudah ratusan tahun, bukan? Ah, aku ke sini karena hanya ingin memberikan tahukan kepadamu tentang sesuatu."
“Apa itu, Keira?” tanya Xyon.
"Paman, wanita bernama Viora itu sudah kembali muncul," jawab Keira.
Xyon langsung mencengkram kedua bahu Keira dengan erat, lalu berseru, "Tidak, Keira! Kau jangan melakukan hal-hal bodoh lagi!”
“Tidak bisa, Paman! Aku …, aku melakukan Televatia kepadamu, dan baru menyadari sesuatu, bahwa masa lalu milikmu itu yang kini membuat kita semua tersiksa!” seru Keira dengan nada tinggi.
__ADS_1
Xyon langsung terkejut setelah mendengar hal itu. Ia lalu berjalan pelan menuju ke sebuah sofa yang terletak di samping kiri ruangan tersebut, kemudian duduk di atasnya.
"Duduklah," ucap Xyon.