
“Kau tenang saja. Aku akan meminta Leino untuk pergi menuju ke Planet Bumi dan mendarat di sebuah kota besar, untuk mencari tempat tinggal sementara dan sekolah bagimu di sana,” balas Klafina.
Higarashi mengangguk. Klafina lalu berdiri, kemudian ia berjalan keluar dari kamar milik anak laki-lakinya tersebut. Ia kemudian mencari Leino, seorang pria yang bekerja sebagai sekertaris kerajaan, berusia hampir empat puluh tahun serta memiliki rambut pendek berwarna emas dengan bola mata hitam yang memakai baju lengan pendek berwarna emas dengan celana panjang coklatnya.
Leino ditugaskan untuk melakukan pendaftaran langsung di sekolah tersebut, agar Higarashi bisa langsung masuk tanpa perlu menunggu tahun ajaran berikutnya, serta mempersiapkan penginapan dan hal-hal lainnya di Planet Bumi, bagi sang pangeran mahkota.
Lima hari telah berlalu dan pada malam berikutnya, Leino terlihat sedang berlari menuju ke ruang kerja pribadi sang raja. Ia tampak tergesa-gesa membuka pintu ruangan itu, lalu masuk ke dalam hingga tiga orang yang berada di sana terkejut, dan pintu tersebut menutup dengan sendirinya.
Ia kemudian membungkukkan badannya sebentar, lalu kembali berdiri tegak dan menatap sang raja yang sedang duduk di atas kursi dari balik meja kerjanya.
“Astaga, Leino!” seru Neriya dengan kedua mata yang melotot tajam kepadanya.
“Yang Mulia, maafkan aku, tapi, Yang Mulia Pangeran Mahkota harus segera pergi ke Planet Bumi malam ini juga, karena semuanya sudah siap, dan besok pagi, ia bisa langsung masuk ke sekolah,” balas Leino dengan wajah yang tertunduk.
“Ah,” desah Higarashi yang sedang duduk di atas sofa yang terletak di bagian kiri ruangan itu, bersama dengan ibunya.
Klafina kemudian menoleh ke arah Neriya dan berkata, “Bagaimana, Yang Mulia Raja?”
Neriya menghela nafas panjang sebentar, lalu mengusap wajahnya satu kali dan menatap Higarashi dengan wajah yang terlihat … sedikit kesal.
“Astaga, astaga! Baiklah! Pergilah malam ini juga, dan ingat, seratus hari! Jika dalam seratus hari kau gagal, maka kau tidak berhak untuk menolak perjodohan dengan Putri dari Diamona itu!” serunya.
Higarashi kemudian berdiri dengan senyum di wajahnya dan berseru, “Baiklah, Ayah! Aku akan membuktikan kepadamu bahwa semua ucapanku adalah benar, dan aku akan membawanya ke sini!”
Dengan cepat, ia berlari keluar dari ruangan itu hingga membuat ibunya berdiri dengan wajah yang terkejut.
__ADS_1
“Higarashi!” seru Klafina.
“Biarkan saja anak itu melakukan apa yang diinginkannya, ratuku!” balas Neriya.
Klafina hanya bisa menghela nafas panjang. Higarashi terus berlari hingga ia tiba di halaman belakang istana. Ia kemudian berdiri di tengah-tengah, lalu mengangkat kepala dan melihat ke atas langit malam yang penuh dengan bintang.
“Bintang-bintang yang indah, aku tahu energi yang kalian miliki adalah salah satu energi yang terkuat, sehingga kami para Halida harus menggunakan Starlet sebagai penanda bahwa kami adalah pengendalinya, dan Star Baton sebagai tempat untuk menyimpan energi yang sudah kalian berikan, bukannya menggunakan tubuh kami sebagai wadahnya. Malam ini, aku ingin meminta bantuan kalian. Aku … yakin bahwa gadis itu adalah seorang immortal, dan aku ingin menjadikan gadis itu sebagai istriku, jika ia berkenan,” ucap Higarashi dengan senyum di wajahnya.
Bintang-bintang di atas langit mendadak berputar. Titik-titik cahaya dari bintang-bintang itu kemudian turun ke bawah, dan Higarashi langsung mengangkat kedua tangannya ke depan, lalu membuka telapak tangan lebar-lebar.
Titik-titik cahaya itu lalu berkumpul di atas telapak tangannya, dan tiba-tiba, muncul sebuah kalung berbentuk bintang yang berwarna putih mengkilap. Setelah itu, titik-titik cahaya tadi kemudian menghilang. Higarashi langsung menoleh ke arah kalung tersebut dan langsung tersenyum lebar.
Ia lalu berseru, "Terima kasih, bintang-bintang!"
Dengan tergesa-gesa, ia lantas menyimpan kalung berwarna putih tersebut ke dalam saku celananya, lalu berlari menuju ke halaman depan istana. Sesampainya ia di sana, Neriya dan Klafina ternyata sudah berada di samping kereta antar planet yang sudah lama menunggunya.
"Jagalah dirimu baik-baik, Nak," ucap Klafina dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Kami pastikan ketika kau kembali, kami akan menjodohkanmu dengan Putri dari Diamona. Jadi, cepatlah kembali," ucap Neriya.
Higarashi langsung terlihat kesal.
"Tidak, aku tidak akan menyerah. Baiklah, ayah, ibunda, aku akan pergi, dan mungkin tidak cepat kembali!" serunya.
“Yang Mulia,” ujar Leino yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Ia memberikannya sebuah kunci dan beberapa dokumen penting kepada sang pangeran mahkota.
“Ini adalah peta menuju ke sana,” bisik Leino.
“Terima kasih, Leino,” balas Higarashi, lalu ia menerima semua benda-benda itu dan memasukkannya ke dalam saku celana.
Klafina mendadak menatap anak laki-lakinya itu dengan wajah yang serius, kemudian bertanya, “Di mana Starlet milikmu, Nak? Ah, iya. Aku sudah memasukkan uang Bumi ke dalam tasmu, dan kami akan mengirimkannya setiap bulan kepadamu melalui Leino.”
“Ah, Ibunda,” ucap Higarashi, “aku memang tidak pernah terlihat memakai Starlet sebagai kalung yang melingkar di leherku, namun, aku selalu membawa benda penting itu di dalam saku celanaku, Ibunda. Tenang saja. Terima kasih, Ibunda.”
Klafina tersenyum setelah mendengarkan jawaban tersebut. Higarashi kemudian masuk ke dalam kereta antar planet tersebut sambil tertawa kecil. Tidak ada pelayan yang mengikutinya, hanya barang-barang pribadi saja yang sudah dipersiapkan oleh sang ibunda sebelumnya, yang ikut bersama dengannya.
Sambil menunggu, Klafina lalu berbisik kepada Neriya yang sedang berdiri di sampingnya, “Apakah kau tidak merasakan aura energi kosmik dari dalam diri gadis kecil itu, sayang?”
“Aneh sekali, mengapa kita hanya bisa merasakan aura energi kosmik miliknya daripada immortal lain? Gadis kecil itu mencurigakan sekali,” jawab Neriya.
Klafina hanya tersenyum tanpa membalas ucapan sang raja.
Setelah semua sudah siap, kereta antar planet tersebut lalu berubah menjadi sebuah bintang kecil yang melesat keluar dari Planet Halida menuju ke Planet Bumi … tanpa membawa penumpang lain selain sang pangeran mahkota. Beberapa jam terlewat, akhirnya alat transportasi itu mendarat di dalam hutan. Higarashi langsung berdiri dari sofa, kemudian mengangkat tangan kanannya ke depan. Sebuah tongkat panjang yang kira-kira delapan puluh sentimeter dan berwarna merah, yakni Star Baton miliknya, mendadak muncul di dalam genggaman tangannya.
“Sungguh barang bawaan yang banyak!” serunya.
Ia lalu mengayunkan tongkat tersebut, dan titik-titik cahaya kemudian keluar dari dalam Star Baton itu dengan cepat melayang-layang menuju ke arah barang-barang bawaan tersebut. Tiba-tiba, seluruh barang bawaan tadi menghilang.
“Nah!” gumamnya, lalu Star Baton itu menghilang ketika ia sudah selesai dengan semua hal tersebut.
__ADS_1
Dengan langkah yang cepat, ia kemudian keluar dari dalam kereta antar planet itu, lalu berjalan hingga ia menemukan kota kecil yang penuh dengan kenangan antara dirinya dengan Keira. Namun, kali ini tujuannya bukan kota kecil tersebut.