Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Pesta yang Meriah


__ADS_3

Kali ini, Keira tersenyum dan mencium bibir suaminya itu. Karena terbawa suasana, mereka berdua akhirnya saling berbagi cinta dan rindu, sesuatu yang seharusnya mereka lakukan nanti malam, setelah pesta resepsi selesai, seolah mencurahkan perasaan yang terpendam selama dua belas tahun lamanya.


Empat jam kemudian, beberapa orang pelayan perempuan datang bersama dengan Leino, menuju ke kamar pasangan pengantin tersebut.


"Ehm, Yang Mulia Pangeran Mahkota, maafkan aku, tapi para pelayan perempuan sudah berada di sini untuk mengganti gaun dan merias kembali Yang Mulia Putri Mahkota untuk pesta resepsi nanti," seru Leino dari balik pintu.


Pasangan yang baru saja menikah itu kemudian menoleh ke arah pintu.


Higarashi kemudian terbangun dari ranjang, lalu berseru, "Ah iya, Leino! Tunggulah di sana!"


Mereka kemudian membersihkan diri masing-masing di dalam kamar mandi, lalu kembali berpakaian seperti semula dan duduk di atas ranjang, seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.


"Masuk saja, Leino!" seru Higarashi setelah itu.


"Baiklah, Yang Mulia," balas Leino, kemudian ia membuka pintu, dan memerintahkan para pelayan perempuan yang bersama dengannya untuk masuk ke dalam.


Melihat Keira dan Higarashi, Leino lantas mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Apakah selama empat jam ini, Anda hanya mengobrol, Yang Mulia?"


Higarashi hanya tersenyum lebar dengan wajah yang memerah, sementara Keira tersipu malu dengan pertanyaan polos itu.


"Maafkan aku, Yang Mulia Pangeran Mahkota, tapi anda harus keluar dahulu, ikutlah bersamaku menuju ke ruangan lainnya, sementara para pelayan akan segera merias dan mengganti pakaian Yang Mulia Putri Mahkota, Anda juga harus mempersiapkan diri untuk pesta resepsi nanti," ucap Leino.


“Baiklah!” seru Higarashi dengan wajah yang ceria.


Ia kemudian berdiri dan mengikuti Leino keluar dari kamar setelah berkedip sebelah mata kepada istrinya. Wajah Keira langsung memerah, karena hanya mereka yang mengetahui apa yang sudah mereka lakukan selama empat jam di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Setelah Higarashi pergi, para pelayan perempuan langsung merias Keira dan mengganti gaunnya untuk acara resepsi nanti. Higarashi yang sekarang berada di sebuah ruangan yang agak jauh dari kamar pengantinnya, terlihat sedang berdiri sementara dua orang pelayan pria merapikan pakaiannya.


Neriya dan Klafina kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengejutkan dirinya. Ia langsung menatap ke arah kedua orang tuanya itu dengan wajah yang sedikit panik.


“Ayah, Ibunda,” gumam Higarashi pelan.


"Ke mana saja dirimu dengan istrimu selama empat jam, hei, Nak? Mengapa kalian langsung pergi begitu saja setelah resmi menikah?! Bukankah seharusnya kalian turun dari altar dan melayani para tamu yang hadir?" tanya Neriya yang berdiri di sebelah putra satu-satunya itu dengan wajah yang kesal.


Klafina hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, lalu membalas, "Ah, suamiku. Kita juga pernah muda seperti mereka. Biarkan saja, bukankah lebih cepat mendapatkan cucu akan lebih baik untuk kerajaan ini? Kita bisa segera membuat janji kepada para dokter untuk menggunakan Wormbye.”


“Keira adalah makhluk mortal,” ucap Higarashi.


Neriya dan Klafina langsung terdiam.


Ia kemudian menggandeng Neriya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


“Keira … adalah makhluk mortal,” gumam Higarashi lagi di dalam hatinya kali ini.


Setelah para pelayan pria itu selesai merapikan pakaian Higarashi, sang Pangeran Mahkota dari Halida tersebut kemudian berjalan keluar, menuju ke kamar pengantinnya. Begitu ia tiba di sana, tiba-tiba pintu kamar terbuka dari dalam, dan ia langsung bisa melihat jelas istrinya yang kini sudah memakai sebuah gaun malam berwarna biru tua.


Wajah Higarashi memerah setelah melihat penampilan istrinya. Para pelayan perempuan kemudian membungkuk kepadanya sambil berjalan keluar dari kamar tersebut. Higarashi lalu mendekati Keira dan membelai rambut biru tua pendek milik istrinya itu, dengan senyum lebar di wajahnya.


"Kau memang tidak tampak seperti makhluk Bumi, Keira. Kau sangat cantik, dan energi kosmik yang ada di dalam dirimu begitu kuat kurasakan hingga tubuhku mulai menjadi takut karenanya. Jangan pernah hilang lagi dari hadapanku, Keira. Jangan juga mencintai orang lain selain diriku,” bisik Higarashi dengan wajah yang memerah.


Keira hanya tersenyum kecil, dan membalas, "Aku sudah tidak memiliki waktu untuk mencintai orang lain, ataupun waktu untuk diriku sendiri …."

__ADS_1


Higarashi kemudian menggandeng Keira dan mengajaknya berjalan bersama menuju ke ruang utama. Begitu mereka tiba di sana, pesta resepsi langsung dimulai dengan keduanya saling bersulang terlebih dahulu dengan gelas yang baru saja diberikan oleh Leino, dan langsung meminum isinya.  Setelah itu, para tamu undangan dengan cepat mendekati Keira hanya karena rasa penasaran yang besar, sambil menatap ke arahnya dengan wajah-wajah gusar.


"Apakah ia benar-benar seorang Crossbreed?" tanya salah satu pejabat.


"Benar-benar tidak diragukan lagi, wajahnya persis sekali dengan mendiang Yang Mulia Ratu Anexta dari Palladina!" ujar pejabat lainnya.


“Ah, Tuan-Tuan,” ucap Higarashi.


Karena merasa keberatan bahwa istrinya terlalu banyak mendapatkan pertanyaan, Higarashi langsung menggandeng Keira dan mengajaknya berdansa, diikuti oleh alunan musik-musik indah yang dimainkan para pemusik istana yang berada di pojok ruang utama itu.


Setelah selesai berdansa berdua, mereka kemudian berjalan mendekati Xyon dan ketiga jenderal seniornya yang sedang berdiri di bagian kanan ruangan tersebut.


"Perdana Menteri Xyon, aku rasa aku harus memintamu untuk memperpanjang masa jabatanmu," ujar Higarashi dengan senyum lebar.


"Ah, aku tentu berharap dengan menghilangnya kalian berdua selama empat jam tadi, Keira akan melahirkan seorang penerus untuk kerajaan Palladina, dan dengan demikian, aku bisa berhenti dari jabatan ini," balas Xyon dengan wajah datar.


Nordian, Weim, dan Arex tentu langsung tersenyum setelah mendengarkan ucapan itu, sementara wajah Higarashi dan Keira memerah. Tiba-tiba, Arex menatap Xyon dengan wajah yang serius.


"Bukankah karena hal ini, Yang Mulia Putri Keira sudah tidak bisa lagi menjadi penerus kerajaan Palladina, Xyon?" tanyanya.


"Kau sangat tidak sopan. Dia adalah Yang Mulia Putri Mahkota Keira dari Halida sekarang. Dengan gelar itu, apa menurutmu dia masih bisa menjadi seorang Ratu dari Palladina ke depannya, kecuali jika ia bercerai dari suaminya?" jawab Weim.


Arex hanya bisa mengangguk, dan pesta resepsi kemudian dilanjutkan hingga tengah malam, barulah para tamu satu per satu kembali pulang menuju ke planetnya masing-masing, dan pesta akhirnya selesai.


Xyon dan ketiga jenderal seniornya kemudian berpamitan dengan Neriya dan Klafina setelah pesta tersebut berakhir, Sementara Keira kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia terlihat sedang berendam di dalam sebuah bak mandi besar di dalam kamar mandi, sambil berusaha untuk menenangkan pikirannya. Jendela yang agak tinggi yang terletak di sampingnya, membuat cahaya bintang masuk menembus kamar mandi itu, dan semakin mendamaikan suasana. Air yang hangat juga membuat dirinya nyaman setelah pesta panjang dan kesibukan pada hari ini.

__ADS_1


__ADS_2