
"Aku benar-benar akan baik-baik saja, Hyerin. Aku juga sudah lebih tenang," ucap Xyon.
"Ini semua karena diriku. Maafkan aku, Xyon. Aku akan berada di sini untuk merawatmu, mungkin tiga hari? Ya, karena aku tidak mungkin membiarkanmu tewas di sini, astaga," balas Hyerin sambil memutar bola matanya sekali.
Xyon tiba-tiba menatap gadis tersebut dengan wajah yang serius.
"Hyerin, aku tidak akan tewas hanya dengan luka kecil seperti ini," balasnya dengan wajah yang datar.
Hyerin mulai menjadi kesal melihat wajah itu.
"Wajahmu menyebalkan sekali. Baiklah, aku akan mengganti handuk kecil yang menutupi lukamu dengan yang baru," ujar Hyerin sambil mengernyitkan dahinya.
Ia hendak berdiri tegak, namun, tangannya tidak sengaja menyentuh gelas yang berisi air yang berada di atas lantai, di samping ranjang Xyon hingga tumpah dan membuatnya terkejut hingga terpleset dengan kepalanya mendarat di atas dada Xyon yang sedang berbaring, tanpa disengaja.
"Ah!" seru Hyerin.
Mereka terdiam dan bertahan pada posisinya masing-masing, dengan wajah yang memerah.
"Jantungmu, mengapa berdetak secepat itu?" tanya Hyerin yang rupanya tidak sengaja mendengarkan organ tersebut dari balik dada pria muda itu.
"Itu … karena kau berada di sini," jawab Xyon dengan sangat jujur.
Hyerin langsung mengangkat tubuhnya, lalu kembali duduk tegak sambil memalingkan wajah dari pria tersebut dan berkata, "Aku sudah membawakanmu makanan jadi sebaiknya kau makan terlebih dahulu.”
Ia kemudian mengambil kantong kecil tadi dari atas meja, sementara Xyon berusaha untuk duduk. Hyerin lalu mengambil sebuah kotak makan dari sana dan membukanya, dan langsung terkejut begitu ia melihat isinya.
“Ada apa, Hyerin?” tanya Xyon, kemudian ia menatap kotak makan itu dan menghela nafas panjang, lalu melanjutkan, "Terlalu banyak. Aku akan menghabiskan setengahnya besok pagi.”
Namun tiba-tiba saja perut Hyerin berbunyi kencang, dan hal itu membuatnya tersipu malu hingga wajahnya menjadi merah padam.
__ADS_1
"Ah, rupanya makanan ini untuk dua orang. Lagi pula aku juga tidak bisa menghabiskannya sendirian. Makanlah bersamaku. Ada dua sendok di dalam kotak makan itu. Mungkin majikanmu memang sengaja meletakkannya," ujar Xyon lagi sambil tersenyum kecil.
Karena Hyerin masih sangat malu hingga ia tidak bisa berkata apa-apa, pria muda itu lantas mendorong meja kecil tadi ke hadapannya dan meletakkan kotak makan tersebut di atas meja. Xyon kemudian mengambil salah satu sendok yang ada di sana, lalu menatap Hyerin dengan wajah yang memerah.
"Maukah kau menemaniku untuk … makan malam?" tanya pria muda itu dengan sopan, kali ini.
Hyerin lalu menoleh ke arahnya sambil menjawab pelan, "Uh, baiklah."
Ia lalu mengambil sendok yang lain. Mereka makan malam bersama dengan sangat sederhana di dalam kamar kecil itu. Setelah beberapa saat, gadis berambut hitam itu tiba-tiba memperhatikan Xyon dengan wajah yang sendu, hingga pria muda tersebut menatap balik Hyerin dengan wajah yang datar.
"Ada apa, Hyerin?" tanya Xyon setelah selesai menelan makanannya.
"Sebenarnya siapa dirimu? Kau terus menerus berkata bahwa kau tidak mungkin akan tewas. Kau tidak juga takut dengan luka robek yang menyeramkan itu. Lalu pedang tadi …," ucap Hyerin pelan, namun tiba-tiba, Xyon memotong ucapannya dengan berkata, "Aku sudah mengatakannya kepadamu. Aku bukan makhluk dari planet ini. Aku adalah makhluk immortal.”
Hyerin tertawa kecil setelah mendengarkannya, kemudian membalas, "Apakah kau sedang membuat lelucon agar aku bisa tersenyum?"
Kali ini Xyon berhenti memakan makanannya, lalu menatap Hyerin dengan wajah yang serius dan menjawab, "Aku benar-benar adalah seorang alien dari planet lain. Aku adalah seorang prajurit, dan datang kemari untuk sebuah … tugas khusus."
Xyon lantas membuka telapak tangan kanan dan sebuah pedang kosmik berwarna putih mendadak muncul di dalam genggamannya.
"Apakah maksudmu … pedang kosmik milikku ini?" tanyanya.
Hyerin terkejut, kedua matanya langsung melotot begitu ia melihat benda tajam tersebut.
"Astaga, kau …. Kau …!!" serunya dengan wajah yang tampak terkejut sambil menunjuk-nunjuk ke arah Xyon.
Pedang kosmik itu kemudian menghilang, dan pria muda tersebut kembali menatap Hyerin dengan wajah yang serius.
"Kau sudah melihat semuanya dari kemarin, maka dari itu aku tidak perlu menutupinya lagi. Namun, berjanjilah kepadaku untuk merahasiakan hal ini dari siapapun, karena jika manusia lain mengetahui tentang diriku yang sebenarnya, maka aku akan benar-benar tewas kali ini," bisik Xyon.
__ADS_1
"Lalu untuk apa kau memperlihatkannya kepadaku?! Kau …. Kau bukan manusia!!" seru Hyerin sambil melotot.
Xyon langsung mendekatkan dirinya kepada Hyerin, lalu menutup mulut gadis itu dengan telapak tangan kanannya dan berujar, "Kecilkan suaramu! Rahasia ini hanya kita berdua yang tahu. Aku tidak akan tewas, karena luka ini akan segera sembuh begitu aku kembali ke planet asalku."
Hyerin langsung menatap pria muda itu dengan wajah yang masih tampak terkejut dan bertanya, "Apakah kau adalah alien?"
"Mungkin begitu, tapi aku juga bisa merasakan rasa lapar, haus, dan perasaan lainnya seperti sakit," jawab Xyon pelan.
Hyerin kemudian menjauhkan telapak tangan Xyon dari wajahnya perlahan.
"Lalu mengapa kau memberitahukan kepadaku siapa dirimu? Apakah kau tidak takut aku akan memberitahukan kepada semua orang tentang dirimu?!" tanya gadis tersebut sambil mengernyitkan dahinya.
"Kau tidak akan pernah melakukannya. Karena itu, aku memercayaimu," jawab Xyon, dan ia mulai memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.
Hyerin menghela nafas panjang, kemudian berucap, “Kau dan aku rupanya sama-sama memiliki sebuah rahasia yang tidak bisa diketahui orang lain.”
Mereka berdua kembali terdiam sambil melanjutkan makan malam. Begitu mereka selesai menghabiskan seluruh makanannya, Hyerin lantas memasukkan kotak dan alat makan tersebut ke dalam kantong tadi.
"Aku akan kembali ke kamarku. Beristirahatlah," ujar Hyerin, kemudian ia berdiri, hendak berjalan keluar.
Namun begitu ia hendak membuka pintu kamar tersebut, Xyon tiba-tiba berkata, "Aku akan menemanimu besok, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi, sampai aku harus kembali pulang ke planet asalku."
Tanpa menoleh ke belakang, Hyerin tiba-tiba bertanya dengan wajah sendu, "Haruskah kau … kembali?"
"Karena aku adalah seorang prajurit, jadi aku harus kembali, tentu saja," jawab Xyon.
Hyerin langsung membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut, lalu menutup pintunya kembali dengan kasar. Xyon yang polos, sepertinya tidak mengerti, bahwa jawaban tadi sudah membuat hati gadis itu sedikit terasa sakit. Hyerin lantas masuk ke dalam kamarnya sendiri, kemudian berbaring di atas ranjang setelah meletakkan kantong kecil tersebut di samping meja kecil.
"Jika tempatmu memang bukan di sini, mengapa harus aku peduli?! Huh!" gumamnya kesal.
__ADS_1
Ia berkali-kali memejamkan matanya sambil berkata, "Lupakan, lupakan pria itu!"
Namun sepertinya ia terus menerus merasa gusar, hingga pada akhirnya, ia kembali berujar dengan wajah sendu, "Xyon, haruskan kau kembali? Tidak bisakah kau berada di sini saja untuk menemaniku?"