Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Keputusasaan


__ADS_3

“Energi panas yang tersimpan di bawah tanah desa itu amat sangat kuat, dan aku membutuhkannya, Dovrix. Kita bahkan belum mengeluarkan Bola Hellox dari Silvir, dan mereka sudah menemukan kita. Sialan!” seru Flerix.


“Lantas, Yang Mulia, apa yang akan anda lakukan sekarang?” tanya Dovrix lagi.


Flerix menghela nafas panjang, lalu menoleh ke arah Dovrix dan berkata, “Tidak ada waktu lagi. Kita membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk Planet Silverian, walaupun energi gelap menguasai tujuh puluh persen alam semesta, namun, tanpa sumber daya untuk hidup, kita mau tidak mau harus melakukan ini sekarang.”


Dovrix menundukkan kepalanya, lalu berkata, “Aku akan ke sana dan memeriksa apakah para Palladina itu sudah pergi, karena mereka pasti masih mencari keberadaan kita di dalam hutan ini, Yang Mulia.”


Flerix mengangguk, setelah itu membalas, “Ini semua demi anak itu. Energi gelap dan ambisi yang ada di dalam dirinya amatlah kuat, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia bisa menjadi mesin pembunuh yang terhebat di alam semesta, agar planet kita bisa mengambil posisi sebagai penguasa galaksi, Dovrix.”


“Tentu saja, Yang Mulia. Aku akan membawa beberapa pasukan bersama denganku untuk membunuh manusia-manusia itu,” ucap Dovrix.


Ia hendak berjalan ke bagian belakang Silvir, namun, mendadak, Flerix berseru, “Tidak bisa. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Cepat bawa beberapa pasukan, lalu kita akan ke sana sekarang.”


“Baiklah, Yang Mulia,” balas Dovrix, dan dengan cepat, ia berlari ke bagian belakang Silvir untuk memerintahkan beberapa pasukan untuk segera ikut bersama dengan mereka.


Hari semakin gelap, dan matahari perlahan menghilang dari langit. Flerix, Dovrix, dan pasukan-pasukan dari Silverian yang ikut bersama dengan mereka berdua, terlihat sedang berlari dengan cepat menembus hutan lebat itu, untuk sampai di desa tadi.


Namun begitu mereka hampir mendekati desa tersebut, seseorang dari atas pepohonan tiba-tiba melemparkan sebuah belati kecil yang langsung menancap menembus tanah, tepat di depan Flerix hingga ia terkejut dan berhenti berlari. Dovrix dan pasukan-pasukannya pun juga ikut menghentikan langkahnya karena kejadian itu.


Mata-mata mereka melotot tajam, melihat ke arah belati kecil tersebut.


Flerix kemudian menoleh ke atas pepohonan sambil bergumam, “Sialan, apa lagi ini?!”


Seorang perempuan kemudian melesat ke arah Flerix dan mengarahkan ujung pedang kosmik yang tajam dan berwarna biru muda di bawah leher sang raja dari Silverian itu. Seketika itu juga, Flerix, Dovrix, dan pasukan-pasukannya dikelilingi oleh para prajurit Palladina dengan seorang pria yang kemudian muncul dari balik salah satu barisan prajurit Palladina tersebut.

__ADS_1


Mereka semua terdiam. Suasana menjadi sangat tegang setelah Flerix menoleh ke samping dan tersenyum sinis begitu ia melihat sosok perempuan yang sedang mengancam jiwanya.


“Ah, ratu bodoh dari Palladina,” gumamnya pelan.


“Pergilah dari sini, Flerix. Planet ini bukanlah milikmu. Manusia yang hidup di sini juga bukanlah tandinganmu. Mereka hanyalah makhluk mortal yang bisa tewas hanya dengan satu sayatan dari pedang kosmik milikmu,” ucap Anexta dengan wajah yang serius dan tatapan tajamnya ke arah Flerix.


Raja dari Silverian itu tertawa sebentar, lalu membalas, “Hei, Ratu. Bukankah kita juga adalah manusia, pada awalnya? Manusia yang sudah diseleksi dengan ketat oleh alam, dan berani meninggalkan planet biru yang sudah rusak ini. Manusia-manusia yang masih berada di dalam Planet Bumi adalah manusia yang sudah gagal lolos ketika alam melakukan seleksi! Lantas, mengapa kau harus membela mereka yang jelas-jelas adalah makhluk-makhluk yang cacat?”


“Di mana anak itu, Flerix?” tanya Anexta.


Flerix tertawa sebentar, lalu menjawab, “Anak itu? Mengapa kau sangat memerdulikannya, padahal itu bukanlah urusanmu, ratu bodoh!”


“Flerix!!” teriak Anexta.


Ia langsung mengayunkan pedang kosmiknya, hendak melukai sang raja dari Silverian itu, namun, Flerix berhasil menahan serangan Anexta dengan pedang kosmik miliknya. Suasana menjadi sangat tegang, karena akibat dari serangan mendadak tersebut, semua orang yang ada di sana, langsung mengangkat senjata-senjata kosmik mereka untuk melindungi diri.


“Pergilah dari planet ini, Flerix. Manusia tidak bisa menemukan kita. Aku yakin kau sudah paham sekali mengenai hal ini. Kau memiliki energi gelap, namun, mengapa kau sendiri masih sangat ragu akan kekuatan kosmik milikmu sendiri?” tanya Anexta dengan senyum sinis di wajahnya.


“Rupanya kau masih meremehkan kekuatan kosmik yang berasal dari energi gelap, bukankah begitu, Ratu? Baiklah, aku akan membuktikannya kepada kalian, suatu saat nanti,” jawab Flerix.


Mendadak, ia menurunkan pedang kosmiknya, lalu menoleh ke belakang dan berseru kepada pasukan-pasukannya, “Kita akan kembali!”


Flerix lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan Anexta, dengan langkah tegas dan wajah yang terlihat sangat kesal. Pasukan-pasukannya kemudian mengikutinya dari belakang, berjalan ke arah di mana Silvir sedang terparkir tidak jauh dari sana.


Anexta menghela nafas panjang, lalu menurunkan tangannya dan pedang kosmik miliknya mendadak menghilang. Xyon kemudian mendekatinya dan menatap sang ratu dari Palladina itu dengan wajah yang terlihat serius.

__ADS_1


“Yang Mulia, apakah anda yakin bahwa Flerix tidak akan kembali lagi ke sini?” tanyanya.


“Ryena seharusnya tidak melakukan hal ini. Flerix bisa memiliki seorang anak hanya dengan bantuan Wombrye. Mengapa Ryena harus jatuh ke dalam permainan emosi, seperti manusia-manusia mortal ini?” tanya Anexta dengan wajah yang terlihat kesal.


Para Silverian itu sudah tidak terlihat lagi. Anexta lalu memutuskan untuk kembali ke desa tadi, diikuti oleh Xyon dan prajurit-prajuritnya. Namun, sang Jenderal Senior itu tampak gundah.


“Yang Mulia, anda bisa kembali ke Planet Palladina sekarang, serahkan semua urusan yang ada di dalam desa itu, kepadaku,” ucapnya sambil berjalan di belakang sang ratu.


Anexta menggelengkan kepala.


“Aku tidak bisa lagi berlama-lama, Xyon. Crossbreed adalah ide yang bagus,” balasnya.


Kedua bola mata Xyon langsung terbuka lebar. Nafasnya menjadi tersengal-sengal begitu ia mendengar kata … Crossbreed.


“Yang Mulia, apa yang hendak anda lakukan? Bukankah … bukankah seperti yang sudah anda katakan sebelumnya, anda bisa menggunakan Wombrye jika memang anda ingin memiliki seorang anak?” tanya Xyon lagi.


“Tidak, Xyon. Seorang Crossbreed tidak bisa dilahirkan menggunakan Wombrye …,” jawab Anexta.



Ia mendadak menghentikan langkahnya, sambil menatap ke depan dengan wajah yang terlihat … panik. Xyon juga berhenti berjalan, begitu juga prajurit-prajurit yang mengikutinya dari belakang sejak tadi. Jenderal Senior itu kemudian menatap Anexta dengan wajah yang gundah.


“Yang Mulia, anda … anda tidak berpikir untuk melahirkan seorang Crossbreed, bukan?” tanya Xyon pelan.


Anexta berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia kemudian tersenyum sinis kepada Xyon, sambil menatap sang Jenderal Senior itu dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


“Jika seorang Crossbreed mampu membunuh para Silverian itu, aku akan dengan senang hati menghadirkannya,” jawab Anexta.


__ADS_2