
“Keira, aku …,” bisik Higarashi.
Ia hendak memeluk istrinya namun setelah memperhatikan wajah Keira, ia langsung menghentikan niatnya.
"Seharusnya sejak awal, aku menolak perasaanmu. Seharusnya sejak awal, aku tidak mengingat-ingat dirimu lagi, tidak juga memberikanmu kesempatan untuk mencintaiku. Maafkan aku, Higarashi. Ini semua adalah salahku. Jika kita tidak bertemu, hidupmu mungkin akan jauh lebih bahagia daripada bersamaku sekarang," balas Keira pelan dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Sementara itu, di dalam sebuah kamar di istana Planet Blackerian, Meteorix terlihat sedang berbaring di atas ranjang sambil memiringkan badannya. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka hingga ia langsung memutar badannya dan menoleh ke arah pintu.
Ia kemudian terbangun dan duduk, sambil menatap seorang pria yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dengan sorot mata tajam.
“Bukankah sudah kukatakan kepadamu untuk tidak masuk ke dalam kamarku tanpa izin, Hyerixon?” tanya Meteorix kesal.
"Kau tidak mengunci pintunya, lalu aku adalah suamimu, jadi untuk apa meminta izin jika aku ingin masuk ke sini?" tanya Hyerixon, sambil berjalan mendekati istrinya itu.
Ia lalu duduk di samping Meteorix dan berusaha untuk meraih tangan wanita tersebut, namun Meteorix langsung menjauhkan tubuhnya dari Hyerixon.
"Pernikahan kita hanya sebatas untuk balas dendam kepada orang yang sama, bukan? Lagi pula, aku lebih tua dibandingkan dirimu. Sebaiknya kau pergi dari sini secepatnya. Aku ingin berada di dalam kamar sendirian," ucap Meteorix dengan nada yang agak tinggi.
Hyerixon tertawa kecil sebentar, lalu ia tersenyum sinis sambil berkata, "Aku melihat ada sebuah kereta antar planet yang keluar dari Planet Halida, dan di balik jendelanya, seorang perempuan berambut biru tua bersama dengan kedua anaknya. Lalu, mengapa kau masih berada di sini? Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk menjalankan rencanamu?"
Meteorix lantas menoleh dan menatap suaminya itu juga dengan senyum sinis dan membalas, “Kau sungguh perhatian sekali. Bukankah kau hampir tidak pernah keluar, selain untuk mengendalikan lubang hitam raksasa itu dan mengambil materi gelap dari dalamnya?”
__ADS_1
“Ah, aku harus membantumu kali ini, bukan? Lihatlah, berpuluh-puluh tahun kau membalaskan dendam kepada Xyon, namun belum juga terlihat hasilnya, bahkan rencana kemarin adalah sebuah kegagalan besar. Baiklah kalau begitu, aku sebaiknya pergi dari sini,” balas Hyerixon sambil berdiri, lalu berjalan mendekati pintu.
"Kau!" seru Meteorix sambil menunjuk ke arah pria tersebut hingga Hyerixon menghentikan langkahnya.
“Kau pikir siapa dirimu?! Kau sendiri juga sudah lama merencanakan aksi balas dendam kepada Xyon dan Planet Palladina, namun apa yang sudah kau lakukan selama ini?! Selama ini selalu aku, dan hanya aku yang bertarung sendirian melawan mereka! Pemimpin macam apa dirimu, tidak berani menghadapi mereka secara langsung?!” ujar Meteorix dengan nada tinggi.
Hyerixon tertawa kecil, lalu membalasnya tanpa menoleh ke belakang sama sekali, “Kau tidak tahu apapun tentang diriku dan Xyon, Meteorix.”
“Bukankah kau sendiri yang berkata bahwa pria tua itu sudah membunuh ibu kandungmu?! Namun aku tidak pernah melihat kau berhadapan langsung dengannya ataupun pengikutnya. Apa yang sebenarnya kau takutkan, Hyerixon?!” tanya Meteorix dengan wajah kesal.
Hyerixon menghela nafas pendek, kemudian ia tersenyum sinis dan menjawab, “Jika aku berhadapan langsung dengannya, bukan hanya Planet Palladina dan Planet Blackerian yang akan saling menyerang, sayang. Namun seluruh isi galaksi ini juga akan terkejut begitu mereka mengetahui rahasia yang sebenarnya di antara aku dan Xyon. Sungguh sangat tidak seru apabila semua orang langsung menyalahkan pria tua itu, bukan?”
“Rahasia? Apa maksudmu?” tanya Meteorix sambil mengernyitkan dahinya.
Lalu ia berjalan keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan cepat, meninggalkan Meteorix sendirian di sana.
“Rahasia?” tanya Meteorix kepada dirinya sendiri dengan wajah yang penuh rasa penasaran.
Ia kemudian menatap pintu sambil menunjukkan wajah yang serius dan bergumam, “Ah, biarkan saja perempuan Crossbreed itu mengurus anak-anaknya terlebih dahulu, hingga ia semakin melemah dan aku akan lebih mudah untuk menyerangnya. Mengapa Hyerixon tampak terburu-buru sekali?”
Hari demi hari, bulan, dan musim yang berbeda, pada akhirnya lima tahun berlalu dengan damai. Dengan bantuan Star Baton dan energi bintang miliknya, tentu mengurus anak-anak menjadi lebih mudah bagi Keira. Xyon, Nordian, Weim, dan Arex secara bergantian berkunjung ke rumahnya untuk sekedar membantu, atau mengajak kedua anak itu bermain bersama.
__ADS_1
Xavion dan Xevion mulai tumbuh menjadi anak yang kuat dan pintar, karena semua orang, termasuk Higarashi yang setiap hari datang dan mengajarkan banyak hal kepada keduanya. Xyon bahkan sudah mengizinkan Aerim untuk membawa Reix bersamanya. Raja dari Silverian itu sangat bahagia mengajak Reix kembali ke planetnya dan para pelayan serta perawat istana yang akan menjaganya secara penuh.
Terkadang, Aerim akan mengajak anak laki-lakinya itu untuk pergi dengan kereta antar planet, mengunjungi Keira dan bermain bersama dengan dua pangeran dari Halida tersebut. Walaupun sampai saat ini Keira belum juga membawa Xavion dan Xevion kembali ke Planet Halida, namun keduanya sudah mengetahui siapa mereka dan kekuatan kosmik yang dimilikinya.
Pada suatu hari, Reix tampak sedang bermain dengan Xavion dan Xevion di ruang tamu, sementara Keira dan Aerim terlihat duduk saling berhadapan di atas sofa masing-masing.
“Apakah kau tidak ingin membawa mereka berdua kembali ke Planet Halida?” tanya Aerim.
Sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain, Keira menjawab, “Aku sedang merencanakan hal itu, Aerim. Namun sepertinya aku harus berpikir lebih jauh tentang membawa mereka kembali ke istana.”
“Sebenarnya, apa yang sedang kau tunggu, Keira?” tanya Aerim lagi dengan wajah yang tampak kebingungan.
Keira menghela nafas pendek, kemudian berkata, “Lima tahun yang damai, dan aku berharap waktu akan tetap seperti ini, namun, aku menyadari bahwa akan ada seseorang yang … mungkin akan datang sebentar lagi.”
“Seseorang?” gumam Aerim pelan.
“Aku melakukan Televatia kepada Paman Xyon sebelum datang kemari, dan aku yakin, perang antar planet lainnya akan segera dimulai. Sebelum itu terjadi, aku harus menenangkan pikiran terlebih dahulu, bukan?”
Aerim langsung melotot tajam ke arah Keira, lalu berbisik, “Keira, kau tidak sedang merencanakan hal yang bodoh, hah? Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah ini semua ada hubungannya dengan wanita yang bernama Meteorix itu?”
Keira langsung menatap Aerim dengan wajah yang serius.
__ADS_1
“Kau masih belum menemukan tangan kananmu, Dovrix, bukan?” tanyanya pelan.
Raja dari Silverian itu hanya terdiam sambil mengernyitkan dahi dan menelan ludahnya.