
Bab terakhir di NovelToon.
Darkerio kemudian berjalan lagi dengan wajah yang penuh amarah, meninggalkan Sira sendiri di tempatnya berdiri sekarang. Wanita berambut hitam itu hanya bisa menatap punggung suaminya dengan wajah yang tampak kesal.
"Apa lagi yang akan kau lakukan setelah ini, Darkerio? Bisakah kau menghentikan semua rencana bodohmu itu, sayang?" gumamnya pelan.
Waktu berjalan tanpa henti. Hari demi hari mulai berlalu. Bulan juga sudah berganti. Tahun demi tahun lewat dengan perlahan, dan Arnea mulai kembali fokus ke dalam pemerintahan, sementara Xyon kini menyibukkan dirinya dengan menjaga keamanan galaksi dan istananya.
Karena sibuk membuat peta galaksi agar Xyon bisa dengan mudah mencari keberadaan Darkerio dan materi gelap itu, Arnea terkadang meminta bantuan Klara. Sebagai seorang permaisuri, Klara sebenarnya memiliki tugas untuk mengurus semua hal yang berkaitan dengan para pelayan dan perawat.
Sepasang suami istri itu bahkan terkadang tidak saling bersentuhan selama berbulan-bulan. Karena tekanan pekerjaan, Permaisuri baru tersebut mulai kelelahan. Beberapa pejabat tinggi kini mendesak agar mereka secepatnya bisa memiliki keturunan. Sayangnya, desakan tersebut tidak didengar oleh keduanya hingga enam tahun kemudian, Arnea dan Klara memutuskan untuk bertemu dengan seorang dokter perempuan di dalam ruang perawatan istana, dan menggunakan Wormbye demi mendapatkan seorang penerus istana.
Wormbye tersebut berhasil memberikan seorang bayi perempuan untuk keduanya. Mereka lalu memberikannya nama Anexta, dengan gelar Yang Mulia Putri Mahkota. Namun, Arnea justru tidak berubah walaupun ia kini sudah memiliki seorang putri. Ia terus berfokus pada kedamaian galaksi dan membuat peta luar angkasa, bahkan ia dan Xyon mulai melupakan tujuan awal mereka, yakni Darkerio.
Arnea kemudian tidak lagi menyentuh Klara untuk beberapa bulan karena sibuk membantu Xyon dalam melatih prajurit-prajurit muda. Ambisinya benar-benar kuat, bahkan Anexta kecil, jarang sekali bertemu dengan ayahnya. Delapan tahun kemudian, beberapa orang pejabat tinggi dan bangsawan, mulai meminta agar sepasang suami istri itu bisa memberikan seorang pangeran bagi kerajaan Palladina.
Namun sekali lagi, hal ini sangat ditentang Arnea karena alasan yang sama, yakni ambisinya untuk fokus terhadap ancaman yang bisa menimbulkan perang antar planet di dalam Galaksi Metal.
Pada suatu hari di dalam ruangan sebuah rumah mewah yang terletak di tengah salah satu kota besar Planet Palladina, beberapa orang pejabat tinggi dan bangsawan terlihat sedang duduk di atas kursi dengan meja bulat panjang di hadapan mereka.
__ADS_1
“Kami tidak puas atas pemerintahan Yang Mulia Raja Arnea, yang lebih fokus kepada patroli di luar angkasa!” seru seorang pria pejabat tinggi yang memakai kemeja berwarna coklat.
“Sebenarnya apa yang diinginkan oleh raja kita ini? Ia sangat terlihat sibuk sekali sejak kejadian empat belas tahun lalu! padahal Galaksi Metal damai-damai saja, tidak pernah ada alien lain yang mengancam keberadaan kita. Untuk apa Yang Mulia Raja berambisi membuat peta galaksi?” balas seorang wanita bangsawan dengan baju terusan panjang berwarna hijau yang ada di sebelahnya.
“Bukankah pada waktu itu Jenderal Senior Xyon berhasil membunuh pelakunya? Salah seorang pelayan yang selamat bercerita kepadaku seperti itu, lalu mengapa Yang Mulia Raja Arnea masih juga mencari-cari siapa pembunuhnya? Buang-buang waktu saja!” seru seorang pria pejabat rendah yang duduk di sebelah wanita tersebut.
“Lantas, apakah Anda memiliki cara untuk memperingatkan Yang Mulia Raja akan kewajibannya kepada penduduk planet ini?” tanya seorang pria berambut coklat dan bola mata abu-abu yang memakai kemeja putih dengan nada tegas, Onyx.
Ia adalah satu-satunya bangsawan yang sangat dihormati oleh bangsawan lain serta pejabat-pejabat rendah hingga tinggi, karena ia adalah orang yang paling sering berkunjung ke Planet Bumi untuk menjual logam paladium dari Planet Palladina, hingga kekayaan mortal yang dimilikinya adalah yang terbanyak daripada bangsawan lainnya. Istrinya, Vyena, adalah seorang wanita dengan rambut pirang dan bola mata putih, yang tampak duduk di sebelahnya dan memakai kemeja berwarna emas.
“Tampaknya mengganti pemimpin akan lebih mudah dilakukan,” jawab seorang pria pejabat tinggi berambut emas yang duduk agak jauh di depan Onyx.
“Jika kita tidak bergerak untuk mengganti raja dan permaisuri planet ini, maka penduduk tidak akan mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan sejak keduanya naik tahta, Nyonya Vyena!” seru seorang wanita pejabat tingkat rendah yang duduk di samping Onyx.
Vyena menghela nafas panjang, kemudian seorang pria pejabat tinggi yang duduk di depannya berkata, “Tuan Onyx dan Anda adalah satu-satunya bangsawan yang memiliki banyak hubungan dengan para pejabat istana. Jika Anda bisa menggerakkan orang-orang di sana, Anda akan memiliki kesempatan untuk … menjadi raja selanjutnya, bukan?”
“Bahkan putri Anda, Ryena, akan mendapatkan gelar kerajaan jika Anda berhasil melakukan pemberontakan, Tuan, Nyonya,” bisik seorang pria pejabat rendah lainnya yang duduk di samping Onyx.
“Jika tidak berhasil, lalu apa yang akan Anda semua lakukan? Menyalahkanku atas pemberontakan yang gagal itu?” tanya Onyx dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
Mereka semua terdiam sebentar, kemudian salah seorang pria pejabat tinggi yang duduk di sebelahnya berkata, "Bagaimana jika kita meminta bantuan dari planet lainnya untuk menjatuhkan tahta Yang Mulia Raja Arnea?”
Seluruh mata langsung tertuju kepada pria pejabat tinggi tersebut dengan wajah yang serius, lalu Vyena membalas, "Tidak mungkin. Pemimpin planet mana yang mau mengorbankan tahtanya untuk membantu pemberontakan ini?! Kita sedang bekerja sendiri demi planet ini, Tuan!"
"Ada satu planet yang tidak memiliki pemimpin sama sekali, mungkin saja kita bisa mulai dari sana," ucap Onyx sambil mengernyitkan dahinya.
"Maksud Anda, Tuan?" tanya salah seorang wanita pejabat tinggi yang duduk di depannya.
"Kita harus membuat satu kumpulan besar prajurit milik kita sendiri terlebih dahulu, untuk bisa menggulingkan pemerintahan yang sekarang. Tanpa adanya prajurit, kita tidak mungkin akan bisa menang melawan mereka, apalagi Jenderal Senior Xyon yang tidak bisa diremehkan," balas Onyx.
“Tuan!” seru Vyena dengan wajah yang gusar karena terkejut dengan sikap suaminya itu.
Namun, orang-orang yang berada di sana langsung mengangguk, dan salah satu dari pria pejabat tinggi kemudian bertanya lagi, "Lalu, dari mana kita bisa mendapatkan prajurit-prajurit itu?! Tidak mungkin kita mengumpulkan orang dalam sebuah kerumunan tanpa dicurigai. Tidak mungkin juga kita akan memakai prajurit istana.”
"Planet Silverian tidak memiliki pemimpin, dan mereka menggunakan energi bulan, dan tentu saja, bulan-bulan mereka mendapatkan pantulan cahaya dari bintang induk Goldinian. Bukanlah ini bisa menjadi kesempatan bagi kita?" tanya Onyx dengan senyum sinis di wajahnya.
“Planet di urutan ketiga itu?” tanya Vyena.
Onyx mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ide yang sangat bagus, Tuan. Anda benar, Planet Silverian berarti juga memiliki energi cahaya seperti kita, dan seharusnya, mereka bisa menggunakan senjata kosmik, bukan?" tanya seorang wanita pejabat rendah yang duduk di samping Vyena.